Tafakur

Memuliakan Guru

Harus diakui bahwa orang-orang Muslim di masa lampau sangat menghormati gurunya

Memuliakan Guru

Oleh Jarjani Usman

“Aku adalah budak (hamba sahaya) bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf” (Sayyidina Ali r.a.).

Harus diakui bahwa orang-orang Muslim di masa lampau sangat menghormati gurunya. Bahkan disebut guru karena seseorang dianggap patut digugu (dituruti) karena ilmunya yanh bermanfaat dan ditiru karena perilakunya yang mulia.

Bahkan di tempat-tempat tertentu, guru dihormati layaknya orang tua sendiri. Seperti di Aceh yang terkenal sebagai daerah berpenduduk Muslim, terdapat pepatah: “poma ngon ayah seureuta guree, ureung nyan ban lhee beuna taturot. Meunyo na salah, meu’ah talakee, peumiyup ulee tacom bak teuot” (ibu, ayah, dan guru, ketiganya perlu dituruti. Jika bersalah, kita perlu meminta maaf, menunduk dan mencium lututnya).

Tingginya penghormatan terhadap guru erat kaitannya dengan ajaran Islam yang mementingkan ilmu pengetahuan. Sehingga para ulama sangat takzim kepada guru-gurunya, walau kadang ada yang berbeda pendapat. Sampai-sampai seorang sahabat Nabi SAW, Sayyidina Ali r.a. pernah mengemukakan bahwa dirinya laksana hamba bagi guru yang walaupun mengajarkan hal-hal kecil.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved