Opini

Menyoal Komunikasi Dosen dan Mahasiswa

PERNAHKAH terlintas dalam ingatan tentang betapa sengitnya perseteruan paham antara Aristoteles

Menyoal Komunikasi Dosen dan Mahasiswa

Oleh Muhammad Iqbal M. Gade

PERNAHKAH terlintas dalam ingatan tentang betapa sengitnya perseteruan paham antara Aristoteles sang murid teladan dengan mahaguru brilliant Plato? Atau kurang masyhurkah perbedaan pandangan murid mulia Imam Ahmad bin Hambal ra dengan al-Imam al-Dunya Syafi’i ra? Sebaliknya, sudahkah kita melupakan bahwa di balik pandangan yang berbeda dan paham yang tidak sekata, tersimpan beragam anugerah keilmuan berupa ketidakfanatikan dan keleluasaan membuka diri untuk memperkaya khazanah pengetahuan?

Mungkin inilah yang menjadi tonggak pemikiran mengapa para guru besar menanggapi perbedaan dengan kepala dingin bak dihembus angin. Iya, mereka menganggapnya angin lalu bagi muridnya yang mulai beranjak ragu, sedang mereka tetap berjalan utuh dengan pandangan kokoh yang tak akan pernah dibiarkan roboh.

Lantas kita pun bertanya-tanya apa sebenarnya yang mendasari keluwesan para pendidik tersebut menerima perbedaan sikap dari para muridnya? Bukankah mereka adalah para pemikir ulung yang menjadi panutan lintas generasi? Bukankah masalah yang diperdebatkan merupakan masalah esensial yang mempersempit timbulnya perbedaan? Lalu pertanyaan ditutup dengan, tidakkah terpikirkan bahwa pembiaran kebebasan cara pandang akan mendiskreditkan mereka?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut rupanya sangat sederhana, namun sangat sentral dan substansial; dengan niat yang suci, mereka memilih melancarkan komunikasi.

Distorsi hubungan
Belakangan dunia intelektual Aceh dikejutkan oleh distorsi hubungan antara dosen dan mahasiswa di satu kampus negeri. Uniknya sang mahasiswi berlatar jurusan ilmu komunikasi. Pertikaian bermula ketika sang mahasiswi menuliskan surat terbuka di akun facebook-nya yang dianggap berisi pencemaran nama baik sang dosen. Mungkin alasan si mahasiswi adalah untuk melancarkan komunikasi, namun malah yang terjadi adalah hubungan yang disharmoni. Sang dosen, seperti lazimnya manusia yang berperasaan, merasa sakit hati dan menganggap telah sia-sia mendidik muridnya yang tak tau balas budi.

Berbagai cara telah dilakukan sang murid untuk mengobati, keluarga dan sekuntum bunga pun di hadirkan, namun hati sang dosen tetap tidak terperi. Sang mahasiswi pun dianggapnya tidak tau kooperasi.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, kejadian ini merupakan akibat fatal dari tidak terjalinnya komunikasi yang berimbang. Menurut ahli komunikasi tersohor, Wilbur Schramm, komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima dengan bantuan pesan, pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan ditafsirkan oleh penerima (Suranto: 2005).

Jika ditelusuri, kasus di atas merupakan implikasi nyata dan tepat sasaran dari penyimpangan yang tidak diinginkan berdasarkan gagasan Schramm. Dalam konteks definisi Schramm, sang dosen yang merupakan penerima pesan telah menafsirkan pesan yang diberikan oleh si pengirim yang diwakili mahasiswi sebagai konflik.

Kemampuan komunikasi dosen dan mahasiswa sudah sewajarnya menjadi kompetensi paling penting dalam kehidupan intelektual kampus. Banyak dari mahasiswa dan manusia pada umumnya merasa bahwa komunikasi sama mudahnya dengan menghela nafas sehingga tidak membutuhkan pembelajaran yang lebih efektif. Padahal secara khusus kita sangat membutuhkan kemampuan menulis, membaca secara cepat dan tepat, berbicara efektif, dan menjadi pendengar yang baik. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan keterampilan tersebut untuk menjalin interaksi dengan sesama. Terlebih bagi mahasiswa dan dosen yang kerap menjadikan keterampilan tersebut sebagai main-equipments keseharian proses belajar-mengajar.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved