Al Chaidar: Bom Bata Itu Peringatan Usai Demo Ahok

Pengamat terorisme, Al Chaidar MSi memaknai, aksi teror “bom bata” di Vihara Buddha Tirta kawasan

Al Chaidar: Bom Bata Itu Peringatan Usai Demo Ahok

LHOKSEUMAWE - Pengamat terorisme, Al Chaidar MSi memaknai, aksi teror “bom bata” di Vihara Buddha Tirta kawasan Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Minggu (6/11) pagi sebagai bentuk peringatan terhadap nonmuslim di Aceh karena ada yang kesal pada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas penistaan agama yang diduga ia lakukan.

Al Chaidar menduga, “teror” di halaman rumah ibadah umat Budha Lhokseumawe itu dilakukan oleh orang yang fanatik terhadap agama dan tidak berafiliasi dengan partai politik. “Jadi, bom bata di vihara itu tidak ada kaitannya dengan agenda pilkada di Aceh. Ini peringatan, karena ada kelompok masyarakat yang tidak bisa menerima penistaan agama yang dugaan dilakukan Ahok, sebagaimana diprotes melalui demo besar-besaran pada 4 November lalu,” ujar Al Chaidar kepada Serambi di Lhokseumawe, Senin (7/11).

Menurut Ketua Program Studi Antropologi Universitas Malikussaleh (Unimal) ini, bom bata itu bisa juga dimaknai sebagai sikap intoleransi orang yang fanatik terhadap agama yang ia ekspresikan dalam bentuk iseng. Tujuannya ya hanya untuk sekadar meneror, tapi bukan sungguhan, terhadap pihak-pihak yang sekubu atau sehaluan dengan Ahok.

“Yang diteror itu kan tempat ibadah. Jadi, ini bisa jadi sebagai bentuk balasan karena ada pihak yang belum puas terhadap demo 4 November,” katanya.

Ia yakin, kasus “bom bata” ini bakal mudah diungkap polisi siapa pelakunya, karena itu termasuk kasus kriminal biasa. Jadi, sangat mungkin ada sidik jari pelaku di benda mirip bom rakitan itu atau siapa tahu ada rekaman CTTV-nya, maka akan lebih mudah lagi pengungkapannya. “Saya yakin polisi akan mudah menemukan pelakunya,” ujar Al Chaidar.

Dalam kesempatan itu, Al Chaidar juga berharap kepada seluruh kandidat gubernur, bupati, dan wali kota untuk tetap sama-sama menjaga agar pesta demokrasi ke depan tetap berjalan dengan damai dan tidak menganggap pilkada itu adalah pertarungan hidup dan mati. “Karena siapa pun yang menang adalah orang Aceh. Tujuannya juga untuk Aceh. Jadi, tidak perlulah merasa euforia ketika menang dan sedih ketika kalah,” katanya.

Al Chaidar juga menyebutkan, penistaan agama yang diduga dilakukan Ahok tidak cukup dengan minta maaf saja, tapi sebaiknya ia mundur dari pencalonan gubernur DKI Jakarta. “Tidak cukup dengan minta maaf saja. Proses hukum terhadap Ahok harus tetap berjalan,” imbuhnya. (jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved