Unsyiah Rekrut Staf BPMA Awal 2017

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menandatangani nota

Unsyiah Rekrut Staf BPMA Awal 2017
KEPALA BPMA, Marzuki Daham bersama Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng memperlihatkan naskah MoU di Balai Senat Unsyiah, Rabu (9/11). Prosesi itu disaksikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Universitas Samudera (Unsam) Langsa, Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Politeknik Lhokseumawe. 

BANDA ACEH - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Balai Senat Unsyiah, Banda Aceh, Rabu (9/11). Salah satu poin dalam MoU itu mengatur peningkatan dan pengembangan serta penerimaan tenaga kerja atau staf BPMA diselenggarakan Unsyiah awal 2017.

Kepala BPMA Marzuki Daham mengatakan kerja sama antara BPMA dan Unsyiah bukan sekadar di bidang teknik, tetapi banyak bidang studi yang diperlukan ke depan. “Pada tahap awal, fokus utama BPMA adalah rekrutmen tenaga. Kami percayakan proses rekrutmen sepenuhnya ke pihak Unsyiah,” kata Marzuki.

Menurutnya, dunia industri dan dunia pendidikan tidak bisa dipisahkan. Untuk meningkatkan SDM BPMA, pihaknya mengajak Unsyiah beserta Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Universitas Samudera (Unsam) Langsa, Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Universitas Malikussaleh (Unimal), dan Politeknik Lhokseumawe, untuk bersinergi.

Marzuki berharap, kerja sama antara dunia pendidikan dan industri akan menguntungkan kedua belah pihak. Mahasiswa yang terlibat di lapangan nantinya dapat melihat kondisi riil di industri. Sedangkan pihak industri juga akan mendapatkan benefit berupa improvement.

MoU itu ditandatangani Kepala BPMA, Marzuki Daham bersama Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng itu disaksikan oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Unsam Langsa, UTU Meulaboh, Universitas Unimal Lhokseumawe dan Politeknik Lhokseumawe. Acara tersebut juga dihadiri perwakilan SKK Migas, Ketua IKA Unsyiah, serta beberapa industri migas, antara lain Medco Energi, Pertamina, dan lain-lain.

Sementara itu, Rektor Unsyiah Samsul Rizal berharap kerja sama tersebut bisa menghidupkan kembali industri di Aceh yang sempat berhenti. Selain itu juga menjadi solusi mengurangi pengangguran dan kemiskinan tinggi di Aceh. Menurutnya, Unsyiah bersama seluruh perguruan tinggi di Aceh turut bertanggung jawab atas mundurnya sektor industri.

“Pihak kampus perlu ikut andil dalam menyelesaikan persoalan migas di Aceh. Namun sejauh ini Unsyiah sudah berkontribusi untuk proses evaluasi di industri-industri migas, seperti di Pertagas dan Medco. Unsyiah mampu melakukannya,” kata Prof Samsul.

Prof Samsul menambahkan Unsyiah akan merekrut secara terbuka dan mengutamakan putra-putri daerah yang memiliki kemampuan, meski tak menutup kemungkinan diterimanya tenaga kerja luar Aceh.

Sedangkan secara umum, Prof Samsul Rizal meminta pihak industri memberikan kepercayaan kepada perguruan tinggi di Aceh, untuk terlibat dalam proses pengelolaan migas di daerah ini. Apalagi kata dia, di Unsyiah sudah ada lebih 400 doktor dan di UIN Ar-Raniry lebih dari 200 doktor.

“Berikan kepercayaan kepada pihak kampus. Kemudian kami akan berusaha menghasilkan produk yang diinginkan pihak industri,” paparnya. Rektor Unsyiah menambahkan, meskipun MoU ini hanya berlangsung antara Unsyiah dengan BPMA, tapi Unsyiah tetap akan melibatkan perguruan tinggi lain yang ada di Aceh untuk kerja sama ini. (fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved