Marissa Haque Terpikat Sate Matang

WAJAH Dr Marissa Haque MSi tampak sumringah setelah menyantap setusuk. Wah . wah ternuata enak sekali

WAJAH Dr Marissa Haque MSi tampak sumringah setelah menyantap setusuk satai. “Wah, wah, wah ternyata enak sekali,” itulah pernyataan spontan artis nasional kelahiran 1962 ini di sebuah restoran di Matangglumpang Dua, Bireuen, Sabtu (12/11).

Siang itu Marissa, dalam balutan baju adat Aceh, dijamu makan siang oleh Rektor Universitas Almuslim (Umuslim), Dr Amiruddin Idris MSi di sebuah restoran yang ada menu satainya. Perjamuan itu berlangsung setelah Marissa menjadi moderator di Auditorium Umuslim dalam acara launching dan bedah buku karya Dr Amiruddin Idris dan Teuku Cut Mahmud Aziz MA (Dosen Umuslim) berjudul “Bireuen Sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh”.

Begitu duduk di kursi yang di mejanya sudah terhidang berbagai lauk plus nasinya, mata Marissa langsung tertuju pada sepiring satai. “Inikah yang namanya sate matang?” tanya Marissa. Wartawan Serambi yang duduknya tepat di depan Marissa saat bersantap menjawab bahwa benar itulah sate matang.

Lalu timbul pertanyaan berikutnya, “Mengapa dinamakan sate matang? Apakah karena dipanggang sampai matang?” Serambi menerangkan bahwa dinamakan sate matang karena satai jenis ini berasal dan dijual di Matang, tepatnya di Matangglumpang Dua, Bireuen.

Marissa bertanya lagi, “Terus ini dagingnya, daging sapi atau kambing?”

Serambi menjawab, “Ini satai sapi.” Lalu Marissa menimpali, “Kalau ada satai kambing matang, saya takkan nolak.”

Lalu Icha—begitu biasanya istri Ikang Fawzi ini biasa disapa—mengangkat sepiring penuh berisi sate matang di tangan kirinya. Sedangkan di tangan kanannya sepiring kuah kacang, itulah kuah sate matang. Dalam posisi seperti itu Marissa meminta Serambi untuk menjepretnya berkali-kali menggunakan handphone pribadinya.

“Nah, ini bakal jadi bukti ke keluarga dan teman-teman bahwa saya sudah sampai ke Matang dan menyantap satenya yang terkenal,” kata Dosen Perbanas ini.

Setelah itu Marissa terlihat sangat menikmati sate matang. Tusuk demi tusuk sate matang dilahapnya. Sesekali dia cicipi asam udeueng, sambal udang campur asam yang dipercaya orang Aceh berkhasiat menekan kadar kolesterol dalam darah.

Dalam waktu singkat, sepiring sate matang yang berisi sepuluh tusuk, tandas. Mata Marissa mulai liar melirik apakah di meja itu masih ada satai yang tidak disentuh tamu lainnya. Begitu melihat ada sepiring satai yang masih utuh, Marissa mulai menjangkaunya. Dia taruh pas di depannya, lalu dia santap lagi. Pelan tapi pasti, dua porsi sate matang kemarin berpindah ke lambung ibu dua anak itu. Ia tampak puas dan tak lagi penasaran akan citarasa sate matang, sate yang dagingnya dipotong besar-besar dan kuahnya terbuat dari kacang tanah yang tak digiling halus.

Aktris dengan seabrek gelar akademik ini rupanya sudah lama terpikat pada sate matang. Sejak di Jakarta ia sudah mendengar nama sate matang. Begitu pula saat berkunjung ke Banda Aceh pada awal-awal pascatsunami. Tapi baru kemarin rasa penasarannya terpuaskan.

Kepala Humas Umuslim, Zulkifli yang kerap mendampingi Marissa saat berada di Bireuen menceritakan kepada Serambi tadi malam bahwa begitu tiba di Peusangan, Bireuen, Jumat (11/11) pagi, Marissa langsung mengaku “pengen” makan sate matang. Ia penasaran kenapa sampai dinamakan sate matang. “Keinginannya untuk makan sate matang itu disampaikannya ke saya saat makan siang pertama di Guest House Universitas Almuslim,” kata Zulkifli.

Tapi kini ia yakin, rasa penasaran Marissa akan sate matang sudah terjawab. Ia malah bukan saja sudah mencicipi dua porsi sate matang dengan lahap, tapi juga pada Jumat malam menikmati gulai bebek masak merah khas Bireuen ditemani Rektor Umuslim dan istrinya, Hj Nuryani Rahman.

Zulkifli bersaksi, “Malam itu Mbak Marissa juga menyatakan ‘maknyus deh gulai bebeknya’ sambil mengangkat dua jempol.”

Nah, soal rasa, lidah memang tak bisa bohong. (dik/yus)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved