Mencairkan Kebekuan, Menolak Vakum!

Seni masih menjadi medium lain dan dengan imajinasi para pelakunya bisa menyampaikan

Mencairkan Kebekuan, Menolak Vakum!
Pameran Pakrikaru 

Seni masih menjadi medium lain dan dengan imajinasi para pelakunya bisa menyampaikan, mengaktualisasikan, atau menyuarakan apa-apa saja yang ada. Entah kemudian itu berupa hal-hal besar dengan segala keruwetannya, atau, hal-hal kecil nan sederhana di sekeliling kita. Yang boleh jadi ia sepele, namun terabaikan. Padahal, jaraknya sungguh sangat dekat dengan kita.

Merujuk pada catatan Amran Eko Prawoto seorang perupa dan kurator seni pada pengantarnya untuk acara Pameran Kritik Karya Rupa (Pakri-Karu-II), disebutkan bahwa: “Antara pertengahan tahun 80-an hingga pertengahan tahun 90-an, saat itu, seni rupa Aceh sedang berada di puncak kreatifitasnya. Khususnya setelah event kebudayaan besar, Kemah Seniman Aceh (KSA) dan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-III) pada tahun 1998. Pada masa itu dengan gencar para perupa Aceh melakukan pameran tunggalnya secara swadaya. Sebutlah diantaranya; pelukis Mahdi Abdullah, Rahmatsyah, Soeharno Manaf, Saleh Kasim, Sujiman A. Musa, hingga Yusrizal Ibrahim.”

Tampaknya, setelah masa itu berlalu seni rupa Aceh mulai redup, bahkan gaungnya terasa tak senyaring era keemasannya. Hal ini terjadi dengan segala kompleksitas permasalahan yang ada. Tak bisa dipungkiri, konflik berkepanjangan adalah dan (masih) menjadi sebab serta alasan yang kuat. Hingga kemudian, di tambah lagi, dengan masa-masa paceklik lantaran musibah bencana alam gempa dan tsunami.

Di tengah kebekuan itulah, beberapa pelukis dengan berbagai latar belakang mencoba menghidupkan kembali, atau, katakanlah semacam sebuah cutiet(cubitan) untuk menyadarkan tidur panjang kevakuman dunia seni rupa Aceh, sekaligus mengajak bangkit untuk menggairahkan kembali dunia seni rupa agar ianya meucuhu ke seantero Nusantara, bahkan (amin) seluruh dunia. Juga, agaknya mencoba menyuarakan hal-hal yang tersebutkan di atasdalam bentuk karya. Akmal Senja, Nourman Hidayat, Zul, M.S., Soeprianto dan Razuardi Essek adalah lima pelukis yang mengambil bagian pada acara Pakrikaru-II.

Pakrikaru-II berlangsung sejak 29 Oktober-2 November 2016, bertempat di Museum Aceh, Banda Aceh, merupakan oase bagi pencinta seni. Di lain sisi, pagelaran ini juga menjadi peringatan bahwa seni lukis di Aceh masih terus bernafas dan hidup. Walaupun, nadinya lemah, degupnya pelan, dengan tensi rendah. Tampaknya, pagelaran pameran seni lukis Pakrikaru-II menyiratkan bahwa, jikapun denyut nadi ini pelan, bukan berarti akan mati! Malah sebaliknya, atas segala kekurangan dan keterbatasan, ia mencoba melawan, berontak, bahkan berteriak sekeras-kerasnya (sekalipun dalam medium dan dimensi lain) bahwa di Aceh ini, yang kaya akan sejarah dan budaya, seni akan terus hidup dan mewarnai peradaban.

Elok rasanya, bila kemudian segenap para perupa dan seniman berdamai dengan keadaan hanya karena seni harus terus hidup dalam lukisan yang merawat segala senang yang sakit dan sedih yang menyenangkan. Sekalipun naïf, dengan problema klasik nan terbarukan, bahwa perkara kurangnya perhatian, minimnya dana, hingga sempitnya ruang ekspresi merupakan kondisi nyata dunia seni rupa kita dewasa ini. Tapi, memilih menyerah pada keadaan sama saja seperti menyerahkan “mareh” untuk disembelih musuh. Ya, anggaplah kemudian musuh itu berupa keadaan yang serba terbatas.

Penulis sempat bertanya dan mewawancarai mengenai apa ciri khas, langgam utama, dan yang membedakan para perupa Aceh dibandingkam daerah lain kepada Kurator Pakrikaru-II. Ia menyatakan bahwa kelebihan para perupa Aceh terletak pada penangkapan karakter yang kuat dan juga kuat terhadap garis. Sebagai penutup, ada baiknya menjadi renungan bersama: Seni rupa Aceh tak boleh mati! Menolak vakum, adalah seni itu sendiri!

* Ichsan Maulana, seorang penulis lepas. Mahasiswa jurusan Ekonomi Pembagunan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved