Breaking News:

Salam

Perlu Bantuan Dunia untuk Selamatkan Muslim Rohingya

Tekanan yang menjurus pemusnahan muslim Rohingya kembali terjadi dalam beberapa hari

Editor: bakri

Tekanan yang menjurus pemusnahan muslim Rohingya kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir di negara bagian Rakhine, Myanmar. Berbagai sumber pers internasional melaporkan, dalam sepekan terakhir ada 1.250 rumah dan bangunan milik muslim Rohingnya hangus dibakar kelompok garis keras Budha yang didukung militer.

Badan Pemantau HAM (HRW) yang berbasis di New York, AS, merilis rekaman satelit beresolusi tinggi atas desa-desa yang telah hancur dibakar. Pemantau HAM itu mendesak pemerintah Myanmar mengundang PBB untuk membantu penyelidikan yang berimbang dan independen.

Warga desa Rohingya mengatakan Pemerintah Myanmar secara sistematis sudah mendorong umat Islam minoritas keluar dari desa mereka. Karenanya, pada Jumat pekan lalu, PBB memperingatkan pemerintah setempat karena situasi terus memburuk di negara bagian Rakhine.

Laporan lain juga menyebutkan, ada pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak Rohingya. Namun, Pemerintah Myanmar menyangkal semua laporan itu dan menyalahkan para penyerang tak dikenal yang membakar rumah-rumah Muslim Rohingya.

“Sebuah pemerintahan tidak seharusnya menyembunyikan masalah, tetapi memberikan akses ke wartawan dan peneliti hak asasi manusia,” tambahnya. Sedangkan satu delegasi internasional sempat diizinkan masuk ke Rakhine awal bulan ini, tetapi terbatas, kata Duta Besar PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee.

Di tengah kecamuk “kekerasan” yang dialami para muslim Rohingya di Rakhine, Burma Human Right Network (BHRN) atau Jaringan Hak Asasi Manusia (HAM) Burma, juga aktif menggalang bantuan dunia. Termasuk dari masyarakat Aceh yang sudah sejak lama memberi respon positif bagi keselamatan Rohingya.

memperkirakan dalam waktu berapa bulan ke depan Rohingya maupun etnis lainnya yang beragama Islam akan musnah di Rakhine, jika tidak ada bantuan atau keterlibatan dunia international atas kejahatan militer pemusanahan atau genosa etnis Rohingya.

Kyaw Win, Executive Director BHRN, yang sedang aktif berkampanye di Aceh bagi keselamatan muslim di Rakhine, mengatakan, “Yang sangat menyedihkan, selain para Rohingya tak bisa lari dari kampungnya, bantuan makanan dan obat-obatan juga ta bisa masuk ke sana karena diblokir militer. Bagi warga terutama anak-anak dan perempuan dan ibu hamil tidak mendapatkan bantuan kesehatan apapun, mereka hanya bisa bertahan dengan kondisi bagaikan neraka,” ujarnya.

Secara hukum dan politis kita memang tak punya kewenangan dan akses untuk mengintervensi Pemerintah Myanmar yang dilaporkan sangat militeris. Namun demikian kita berharap Pemerintah Indonesia dengan berbagai kekuatan jalur diplomatiknya dapat membantu penghentian kebrutalan terhadap warga muslim Rohingya.

Lalu, sebagai sesama muslim, kita memang sudah memberi perhatian positif kepada Rohingya yang terdampar di sini. Sedangkan bagi muslim Rohingya yang sedang dalam penderitaan di Rakhine, mungkin bantuan kita paling besar adalah doa untuk keselamatan mereka. Amin.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved