Zonasi Kawasan Cagar Budaya Lamuri Berakhir

Kegiatan zonasi kawasan cagar budaya Lamuri di bukit Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya

Zonasi Kawasan Cagar Budaya Lamuri Berakhir

BANDA ACEH - Kegiatan zonasi kawasan cagar budaya Lamuri di bukit Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh bekerja sama dengan FKIP Unsyiah, Minggu (20/11) berakhir.

Ketua tim zonasi, Dr Husaini Ibrahim dalam siaran pers yang diterima Serambi kemarin menyebutkan, kegiatan zonasi itu telah dimulai sejak Jumat (11/11) lalu yang melibatkan tenaga ahli dalam dan luar negeri. Disebutkan, Bukit Lamreh mengandung banyak peninggalan arkeologi, seperti makam dan batu nisan kuno, benteng pertahanan, dan temuan pecahan keramik dalam jumlah yang sangat banyak.

Kegiatan itu, merupakan tindaklanjut kegiatan pelestarian terhadap cagar budaya yang tersebar di bukit Lamreh Aceh Besar. “Fokus zonasi cagar budaya Lamreh lebih pada penataan ruang untuk mengakomodir berbagai kepentingan yang berorientasi pada pelestarian cagar budaya,” ujar Husani Ibrahim.

Beberapa tenaga teknis melakukan penentuan batas-batas penting kawasan Lamreh seperti batas asli, geografis, kepemilikan, serta batas berdasarkan keperluan.

Sementara Arkeolog Independen, Deddy Satria mengungkapkan tenaga teknis zonasi telah menentukan zona-zona kawasan Lamreh sesuai dengan ketentuan-ketentuan cagar budaya. “Kita telah menentukan zona inti dan zona penyangga kawasan Lamreh, sedangkan untuk zona penunjang dan zona pengembangan akan ditetapkan pada tahapan selanjutnya,” pungkasnya.

Selain menentukan batas zonasi, pihaknya juga melakukan pemetaan terhadap temuan-temuan baru di kawasan perbukitan Lamreh. Salah seorang anggota tim, Shaiful Idzwan bin Shahidan mengatakan, bahwa mereka menemukan banyak temuan-temuan baru yang belum dipetakan saat pemetaan tahun 2014 lalu.

“Batu nisan dan struktur adalah temuan yang sangat dominan ditemukan pada zonasi tahun ini, temuan tersebut menyebar di sepanjang bibir pantai Lamreh hingga perbatasan Laweung (Pidie),” kata arkeolog dari Universiti Sains Malaysia tersebut.

Mengingat banyaknya sumber daya arkeologi di perbukitan lamreh, mantan Direktur Peninggalan Purbakala Depbudpar, Soeroso yang tergabung dalam tim zonasi itu berharap agar semua pihak terlibat aktif dalam merawat dan melestarikan tinggalan arkeologi yang ada di kawasan Lamreh khususnya dan di wilayah Aceh umumnya.(rel/mis)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved