Pemohon SIM Berharap Diproses Satu Atap

Pemohon SIM A dan C baru mengeluhkan prosedur yang harus diikuti untuk mendapatkan SIM

Pemohon SIM Berharap Diproses Satu Atap
Pemohon SIM baru A dan C sedang mengikuti ujian teori untuk memperoleh SIM di ruangan ujian teori SIM Satuan Lalu Lintas Polresta Banda Aceh, Rabu (23/11). SERAMBI/MISRAN ASRI 

* RSJ Aceh Rp 137.500, Meuraxa Rp 50.000

BANDA ACEH - Pemohon SIM A dan C baru mengeluhkan prosedur yang harus diikuti untuk mendapatkan SIM. Pasalnya, untuk memperoleh surat izin mengemudi tersebut pemohon harus melengkapi surat psikologi, kesehatan, sampai mengikuti ujian teori dan praktik mengemudi yang dinilai membutuhkan waktu total berhari-hari. Biaya yang harus dikeluarkan pun berbeda-beda, tergantung rumah sakit yang dituju. Supaya tidak menyita waktu dan berbiaya seragam, masyarakat berharap proses membuat SIM dilayani satu atap.

“Bukan persoalan surat psikologi yang dikenakan biaya hingga Rp 137.500 di RSJ Aceh atau surat kesehatan lain yang tarifnya bervariasi, tapi waktu yang tersita itu cukup banyak. Kalau dilayani satu atap, akan sangat membantu kami,” ungkap seorang pemohon SIM yang ditemui Serambi di Polresta Banda Aceh, Rabu (23/11).

Pengamatan Serambi, untuk tes ujian teori, pemohon harus menjawab 30 pertanyaan via online. Pertanyaannya, antara lain seputar rambu-rambu lalu lintas, marka jalan, dan penggunaan lampu penunjuk arah. Seorang mahasiswi yang mengikuti tes teori di Polresta Banda Aceh, Jumat lalu, misalnya gagal mendapatkan SIM lantaran hanya bisa menjawab 20 pertanyaan dari 30 pertanyaan yang diuji.

Salah satu rumah sakit yang ditunjuk untuk mendapatkan surat psikologi adalah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh. Namun, warga mengeluhkan tingginya biaya yang dikenakan oleh RS milik Pemerintah itu, yakni Rp 137.500.

Besaran biaya itu dinilai memberatkan, dengan kondisi perekonomian masyarakat Aceh saat ini. Belum lagi surat kesehatan dari dokter yang diambil dari puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah.”Kami heran, kok ada puskesmas dan rumah sakit pemerintah yang mengambil biaya. Apa itu bukan pungli? Meski kalau kita tanya kepada petugas ada aturannya mengambil tarif itu. Tapi, kan sayang masyarakat,” sebut seorang pemohon SIM kepada Serambi.

Kepala Humas RSJ Aceh, Azizurrahman SKM MM yang ditanyai Serambi, mengatakan, tarif surat sehat jiwa (psikologi) Rp 137.500 itu sudah diatur dalam Qanun Provinsi Aceh Nomor 6 tahun 2006 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan Jiwa Provinsi Aceh.

Menurut dia, dari Rp 137.500 itu, dirincikan Rp 5.000 berupa karcis. Lalu Rp 7.500 catatan medik dan Rp 125.000 tarif surat Keterangan Sehat Jiwa, yang totalnya mencapai Rp 137.500. “Kita juga memahaminya ada yang mengatakan mahal dan anggapan miring. Tapi, tarif itu memang sudah diatur di dalam Qanun Provinsi Aceh,” demikian Aziz.

Anehnya, RSUD Meuraxa malah mengutip biaya tes psikologi cuma Rp 50.000. Direktur RSUD Meuraxa Dr dr Syahrul Sp.S-(K) mengatakan, tarif yang dikenakan rumah sakit milik Pemko Banda Aceh ini mengacu pada peraturan wali kota. “Kita memang punya psikolog. Kalau ada warga yang minta, bisa kita layani di poliklinik psikologi,” kata Syahrul yang dihubungi Serambi melalui telepon seluler, Rabu (23/11) malam.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin SH mengungkapkan, mekanisme penerbitan SIM sesuai aturan itu diberlakukan mengingat tingginya angka kecelakaan dan kurang patuhnya pengendara di jalan. Ia mengatakan, angka kecelakaan yang terjadi di wilayah hukum Polresta medio Januari hingga 23 November 2016, mencapai 212 kasus. Dari jumlah itu sebanyak 34 meninggal dunia dan 66 orang luka berat. “Hal itu menimbulkan kekhawatiran, diduga akibat mudah memperoleh SIM,” kata dia. “Ketat, bukan berarti dipersulit. Itu artinya, bagi yang memperoleh SIM itu diharapkan memahami aturan berlalu lintas selama berada di jalan,” timpalnya lagi.

Kasat Lantas AKP M Dahlan SH MH menambahkan, mekanisme memperoleh SIM baru itu amanah UU dengan tujuan menekan angka kecelakaan yang menimpa diri dan pengguna jalan lain. “Semakin kita paham aturan berlalu lintas, semakin kecil kecelakaan, baik menimpa pribadi atau pengguna jalan lainnya. Di sisi lain kami imbau pengendara roda dua dan empat patuhilah peraturan lalu lintas. Lalu, kami minta tidak berikan kendaraan pada anak-anak yang belum cukup umur,” sebutnya.

Kasat Lantas AKP M Dahlan SH MH juga menyebutkan bahwa SIM yang telah jatuh tempo, meski itu hanya sehari, sudah tidak dapat diperpanjang, tidak seperti pemahaman yang berkembang selama ini.

Namun, SIM A atau SIM B dan jenis SIM lainnya yang telah mati atau jatuh tempo meski sehari harus mengikuti prosedur pembuatan SIM baru, dimana harus melengkapi semua persyaratan, seperti surat psikologi, surat kesehatan dari dokter, ujian teori dan ujian praktik. Jika belum jatuh tempo, maka perpanjangan syaratnya hanya melengkapi surat keterangan kesehatan dokter dan hanya membayar biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)sebesar Rp 80 ribu untuk SIM A dan Rp 75 untuk SIM C. “Baiknya sebulan sebelum jatuh tempo langsung diurus SIM. Upayakan, sehari pun SIM jangan sampai mati,” ungkap Dahlan.(mir/sak)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved