Tafakur
Makanan Jiwa
Kebanyakan kita lebih mengutamakan makanan jasmani ketimbang makanan jiwa. Di saat jasmani lapar
Oleh: Jarjani Usman
Orang orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenteram
(QS. ar Ra’d: 28).
Kebanyakan kita lebih mengutamakan makanan jasmani ketimbang makanan
jiwa. Di saat jasmani lapar, segera diasup berbagai macam makanan
berkali kali dalam sehari, dan dalam jumlah yang cukup dan bahkan
berlebihan. Bahkan, sudah dijadikan tradisi seluruh dunia bahwa
jasmani perlu disuapi tiga kali sehari: pagi, siang, dan malam. Namun
tidak demikian reaksi kebanyakan kita tatkala jiwa merasa lapar.
Jiwa dibiarkan kelaparan dan bahkan sakit tak terpedulikan, walaupun
sesungguhnya makanan dan obat obatan tersedia di mana mana. Baru
tergerak untuk peduli tatkala jiwa sudah pada fase terlalu parah.
Padahal makanan dan obat jiwa dalam Islam jelas disebutkan dalam
Alquran dan Alquran itu sendiri. Kalau mau dicoba, bacalah Alquran
setiap kali setelah melaksanakan ibadah shalat. Difahami atau tidak
maknanya, akan terasa tenang dan damai hati pembacanya. Itulah
keistimewaan membaca Alquran. Soalnya, Alquran itu firman Tuhan yang
menciptakan fisik dan jiwa kita, sehingga akan tenang tatkala berjumpa
dengan yang sangat tahu keadaannya.
Bukan hanya membacanya, juga bisa dengan menghadiri majelis majelis
yang membahas kandungan Alquran. Tentunya majelis majelis ini sangat
mudah didapat di negeri kita, dan umumnya tidak harus membayar. Namun
sekali lagi, kebanyakan orang malas menghadirinya. Rasa malas ini
menunjukkan bahwa kebanyakan kita malas untuk mencari makanan atau
mengobati jiwanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tafakur_20160919_092006.jpg)