Dialog Utara, Semangat Menyelamatkan Bahasa Melayu

Para budayawan dan seniman serumpun Melayu hadir di Aula Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Dialog Utara, Semangat Menyelamatkan Bahasa Melayu

BANDA ACEH - Para budayawan dan seniman serumpun Melayu hadir di Aula Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (26/11). Kehadiran para pencinta bahasa itu untuk membahas nasib bahasa Melayu yang semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya. Padahal, bahasa ini merupakan alat komunikasi bangsa Melayu yang dinilai mampu mempersatukan kembali kebudayaan antarnegara di ASEAN.

Hal itu disampaikan Dr Abdul Rani Usman MSi, Ketua Panitia Dialog Utara XVI Bahasa Melayu-Indonesia sebagai Perekat Peradaban Antarbangsa, kemarin.

Abdul Rani mengatakan, dialog yang menghadirkan pembicara dari lima negara serumpun ini, bertujuan untuk mencari solusi guna menyelamatkan bahasa Melayu ke depan.

“Dialog ini melahirkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya mengangkat bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa pengantar di negara ASEAN,” ujar Abdul Rani.

Menurutnya, hal ini sangat mungkin diwujudkan di negara-negara ASEAN, mengingat faktor historis menjadi perekat bangsa Melayu yang telah hijrah ke berbagai negara.

Dia melanjutkan, forum ini akan mempromosikan bahasa Melayu ke negara-negara non-Melayu seperti Thailand. Bahkan di Australia, kata Abdul Rani, bahasa Melayu telah menjadi bahasa pilihan di sekolah formal. “Kami akan memperkenalkan kembali bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di sekolah,” jelas mantan dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry ini.

Selain sebagai bahasa pengantar di sekolah, ujar Abdul Rani, bahasa Melayu juga bisa menjadi bahasa politik, perdagangan, dan negosiasi. “Bukan tak mungkin bahasa Melayu menjadi bahasa pilihan di Myanmar, Kamboja, tentunya setelah bahasa Inggris,” ujar pria yang fasih berbahasa Mandarin ini.

Dia menambahkan, Dialog Utara terbagi atas empat sesi. Sesi pertama menghadirkan tiga pembicara, yaitu Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar, Dr Abdullah Sani bin Yahya dari Perak, Malysia, dan A Rahim Abdullah dari Pulau Pinang, Malaysia. “Tiga pembicara ini membahas bahasa Melayu dan kaitannya dengan media,” ujar A Rani.

Pada sesi kedua, forum mengangkat tema ‘bahasa Melayu sebagai media diplomasi antarbangsa’. Pada sesi ini hadir tiga pembicara, yaitu Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Badaruzzaman SH MHum, H Hamzah Hamdani dari Gabungan Penulis Nasional Malaysia (Gapena), dan penulis dari Perlis, Nasir Ali.

“Sesi ketiga membicarakan tentang bahasa Melayu dan pengembangan wisata. Ada tiga pembicara, yaitu Kepala Disbudpar Aceh, Reza Fahlevi MSi, Suhaimi Ismail dari Thailand, dan Dr Muhammad Takari dari Medan,” sebutnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved