Kadisbudpar: Aceh Unggul dari Sisi Alam dan Budaya

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Drs Reza Fahlevi MSi menyatakan

Kadisbudpar: Aceh Unggul dari Sisi Alam dan Budaya
KADISBUDPAR Aceh, Reza Fahlevi (kanan) bersama Kepala Seksi 

BANDA ACEH - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Drs Reza Fahlevi MSi menyatakan, Aceh sangat layak dan tepat dikunjungi para turis mancanegara karena Aceh unggul dari sisi alam dan budaya, serta memiliki 774 cagar budaya.

Hal itu disampaikan Reza saat mempresentasikan potensi pariwisata Aceh dalam Dialog Utara XVI Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia sebagai Peradaban Antarbangsa di Aula Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (26/11) siang.

Dialog tersebut dihadiri 150 peserta yang berasal dari Malaysia, Pattani-Thailand, Sumatera Utara, dan Aceh. Reza juga menayangkan dua video pendek tentang objek-objek wisata di Aceh dan perubahan tagline pariwisata Aceh yang disambut hadirin dengan aplaus meriah.

Menurut Reza, Aceh memiliki banyak hal yang layak dinikmati dan diapresiasi oleh para pelancong. Di samping alamnya yang memesona, di provinsi ini juga kaya dengan cagar budaya, mencapai 774 titik.

Selain itu, di Aceh juga terdapat 1.146 sanggar kesenian yang para senimannya siap menampilkan berbagai atraksi kesenian Aceh di dalam dan luar negeri.

Reza menyebutkan, di Aceh saat ini tercatat 8.214 orang seniman/budayawan. Mereka inilah yang menjadi pelaku, promotor, dan penjaga benteng budaya Aceh.

Reza menambahkan bahwa pantai Aceh memiliki keindahan yang luar biasa dan memiliki kaitan strategis dengan aspek pelayaran regional dan internasional karena kedudukan Sabang sebagai pintu masuk Indonesia dari jalur barat dan berada di jalur pelayaran internasional.

“Pendeknya, seluruh situs budaya di Aceh memiliki daya tarik. Dan istimewanya Aceh kini memiliki situs tsunami yang tak dimiliki oleh daerah lain,” kata Reza Fahlevi.

Reza juga mengatakan bahwa branding pariwisata Aceh tahun ini sudah diubah dengan tagline “The Light of Aceh” (Cahaya Aceh). Konsep ini diadopsi dari hakikat Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dengan demikian, Aceh yang bersyariat Islam harus menjadi rahmat bagi Indonesia, bagi dunia Melayu, dan dunia secara mondial.

Dalam presentasi itu, Reza tampil bareng dengan Suhaimi Ismail, akademisi Melayu dari Pattani, Thailand, dan Dr Muhammad Takari dari Sumatera Utara.

Sebelumnya, tampil sejumlah narasumber. Di antaranya Pimpinan Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar, Abdul Syani Yahya dari Malaysia, dan Ketua Majelis Adat Aceh, Badruzzman Ismail MHum. Juga tampil H Hamzah Hamdani dari Gabungan Penulis Nasional Malaysia (Gapena), penulis dari Perlis, Nasir Ali.

Acara tersebut ditutup selepas zuhur oleh Prof Dr Darwis A Soelaiman MA selaku Ketua Pusat Studi Melayu Aceh (PUSMA) Banda Aceh. Dilanjutkan dengan kunjungan objek wisata tsunami dan budaya di Banda Aceh. (dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved