Berebut Lapak Tidur di Pungsian

ADA-ada saja hal unik yang terjadi di lokasi pengungsian korban banjir Aceh Singkil

ADA-ada saja hal unik yang terjadi di lokasi pengungsian korban banjir Aceh Singkil. Di antaranya, ketika malam tiba anak-anak yang biasa tidur hanya dengan orang tuanya, kali ini harus berbagi tempat tidur bersama teman-teman seusianya.

Bila hal itu terjadi terkadang ada bocah yang menangis karena ia tidak terima tempat tidurnya lebih sempit dibanding kawannya. Apabila ada anak yang menangis gara-gara rebutan lapak tidur, biasanya para orang tua serempak membujuk agar tangisan yang pecah di tengah malam yang gelap gulita karena tanpa listrik itu segera sirna.

Peristiwa itu seakan menjadi selingan saat kebosanan akibat musibah banjir mendera. Hal yang seperti inilah sempat dirasakan korban banjir yang mengungsi di Kantor Balai PWI Aceh Singkil.

Di tempat ini ada 13 jiwa yang mengungsi, termasuk wartawan Serambi dan keluarga. Lima orang di antaranya adalah balita. “Tempat tidurnya berbagi ya. Kita kan lagi kena musibah banjir,” kata Yuyun, salah satu pengungsi, menenangkan anak-anak yang berebut lapak tempat tidur.

Kondisi nyaris serupa dialmi puluhan warga di Kompleks Perumahan BRR di Desa Gosong Telaga Barat, Singkil Utara. Pengungsi di sana boleh dibilang beruntung memiliki mushala yang tidak kebanjiran, sehingga warga tetap bisa mengawasi rumah mereka dari mushala.

Air hanya menggenang di pekarangan, tidak sampai masuk ke rumah.

Begitu banjir, kaum pria segera bergotong royong, memodifikasi mushala berukuran 10x10 meter itu menjadi hunian sementara. Agar saat malam tidak terlalu dingin, dipasang terpal sebagai penutup. Maklum di antara pengungsi ada yang manula dan anak-anak.

Sementara kaum ibu menyulap teras mushala menjadi dapur bersama. Sayangnya lantaran tak ada air bersih, sehingga banjir yang mengalir dekat mushala menjadi tempat mencuci serta memenuhi kebutuhan lainnya.

Setelah melewati dinginnya malam tanpa penerangan, ketika pagi menjelang para orang tua membawa anak-anaknya bermain banjir. Sekadar menghilangkan kebosanan sekaligus mendapatkan tambahan makanan berprotein tinggi, korban banjir bermain sambil beramai-ramai menangkap ikan di badan jalan yang terendam air.

Ikan sepat serta belut berhasil ditangkap dan langsung disambut pengungsi dengan sorak gembira. Maklum, siapa pun yang mendapat ikan toh akan dimasak di dapur umum dan dinikmati bersama. “Kalau sudah banyak nanti yang dapat langsung goreng, makan bersama kita,” teriak Iskandar, korban banjir yang mengungsi ke mushala Kompleks Perumahan BRR.

Menangkap ikan di banjir yang merendam badan jalan sangatlah mudah, meski hanya dengan tangan kosong. Namun, ada juga warga yang memasang jaring di sepanjang jalan. Sedangkan hasilnya boleh diambil oleh siapa saja yang duluan melihat ada ikan terperangkap, toh akhirnya akan dinikmati bersama di dapur umum.

Kisah lainnya yang khas di pengungsian kali ini adalah berebut mengecas handphone (hp) di rumah warga yang memiliki genset. Warga rela begadang semalaman demi mendapat giliran mengisi baterai telepon genggamnya. Maklum, listrik belum jelas kapan akan menyala, menyusul tumbangnya lagi empat tiang listrik, Rabu (30/11) di kawasan Gosong Telaga Barat, Singkil Utara.

“Walau sinyal hp terkadang ada gangguan, tapi lumayanlah ada teman bicara, meski hanya di ujung telepon,” ujar Dian, salah satu korban banjir. (dede rosadi)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved