Salam

Duka Singkil, Luka Kita

Hujan deras dan pasang air laut yang datang bersamaan dalam pekan ini telah menenggelamkan

Duka Singkil, Luka Kita
Anggota TNI Kodim 0109 Aceh Singkil tercebur ke dalam arus banjir bersama kendaraan roda dua dinasnya 

Hujan deras dan pasang air laut yang datang bersamaan dalam pekan ini telah menenggelamkan sebagian besar wilayah Kabupaten Singkil. Beribu-ribu orang harus menyelamatkan diri ke tempat-tempat yang aman dengan meninggalkan rumah beserta harta benda lainnya dalam genangan air yang terus meninggi.

Banjir bukan cuma merendam wilayah Singkil, tapi juga merusak begitu banyak sarana dan prasarana publik. Tak ayal, pada Selasa malam, suasana di sana benar-benar mencekam. Tak ada lalu lalang penduduk karena banyak jalan dan jembatan yang putus. Juga tak ada cahaya lampu lantaran puluhan tiang listrik tumbang hingga suplai arus penerangan juga terputus total ke sebagian besar kawasan.

Di tengah bencana itu, berbagai peristiwa duka lain juga menimpa warga di sana. Ada yang tersengat arus listrik karena tiang listrik tumbang. Lalu, ada pula yang jatuh ke sungai arus deras saat melintasi jembatan darurat. Ada pula wanita hamil berinfus yang harus dievakuasi ke tempat aman dengan perahu karet.

Dari laporan tertulis serta audio visual yang kita terima, kondisi di lokasi bencana memang sangat memprihatinkan. Pemerintah bersama jajarannya seperti tak cukup kekuatan untuk membantu warga. Tapi, kita harus berterima kasih kepada aparat kepolisian, prajurit TNI, serta relawan bencana yang senantiasa siaga memberi pertolongan kepada korban banjir. Ya, tanggung jawab moral dan juga tanggung jawab tugas.

Singkil memang akrab dengan banjir. Tapi, banjir kali ini air sangat dahsyat. Beberapa kawasan yang jarang terjangkau banjir, kali ini tampak seperti hamparan lautan. Sebagian bangunan hanya terlihat atapnya saja.

Untuk jangka pendek, kita berharap banjir segera surut dan semua pihak dapat segera mengulurkan bantuan bagi korban bencana itu. Sebab, sesungguhnya, duka warga Singkil adalah luka kita semua. Mereka butuh makanan, obat-obatan, serta tempat pengungsian yang memadai. Artinya memiliki tempat mandi, cuci, dan kakus.

Dan, yang paling penting adalah kehadiran layanan kesehatan di likasi-lokasi pengungsian. Sebab, berada di pengungsian meski hanya satu atau dua malam, akan sangat banyak warga yang sakit-sakitan, terutama anak-anak, wanita, dan para usia lanjut.

Untuk jangka panjang, pemerintah perlu memikirkan kembali tentang pemukiman warga yang lebih aman serta pusat-pusat layanan publik yang tak mudah terjangkau banjir. Masjid, rumah sakit, puskesmas, sekolah adalah di antara fasilitas yang perlu dipikirkan untuk terhindar dari banjir. Artinya, bukan hanya lokasi, tapi bangunannya juga harus dibuat jauh lebih tinggi dari permukaan air laut.

Ingat, banjir memang bencana. Tapi, kedatangan banjir sebagiannya bisa diperhitungkan. Dengan demikian, seharusnya dampak banjir bisa diantisipasi. Makanya, yang kita dorong adalah pemerintah memikirkan cara-cara baru untuk mengatasi persoalan sebelum, saat, dan setelah banjir berlalu.

Misalnya, yang sudah baku tentang adanya bantuan masa panik sesuai dengan kelas bencana. Lalu, untuk jangka panjangnya bagaimana pemerintah, misalnya mengatasi krisis pangan, akibat rusaknya lahan pertanian dan lain-lain.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved