Opini

Singkil ‘Venesia Van Sumatra’

“SINGKIL Tenggelam”, demikian judul berita utama Serambi Indonesia (Rabu, 30/11/2016), melaporkan betapa banjir

Singkil ‘Venesia Van Sumatra’

Oleh Ramli Cibro

“SINGKIL Tenggelam”, demikian judul berita utama Serambi Indonesia (Rabu, 30/11/2016), melaporkan betapa banjir yang melanda sebagian besar wilayah daratan Kabupaten Aceh Singkil itu semakin mengkhawatirkan. Banjir memang kerap melanda wilayah pemekaran dari kabupaten Aceh Selatan itu, sehingga dulu sempat muncul wacana pemindahan Singkil, ibu kota kabupaten Aceh Singkil. Bahkan, untuk membendung banjir itu digagas pula rencana pembangunan tanggul sepanjang 26,5 kilometer yang akan menelan dana sebesar anggoaran APBK Aceh Singkil selama satu tahun (Serambi, 14/1/2016).

Di sini kami tidak ingin bertanya efektivitas sebuah bendungan dalam menahan banjir. Kami juga tidak ingin mempertanyakan di mana letak dampak ekonomi yang dijanjikan jika bendungan ini benar-benar direalisasikan. Namun yang menggelitik kepala kami adalah bagaimana jika kita berhenti saja menganggap banjir itu bencana? Bukankah ia telah datang nyaris setiap tiga bulan sekali? Bukankah kita telah begitu familiar dengan banjir? Bukankah sebagian dari kita justru meraup berkah dari banjir karena hasil tangkapan ikan sungai yang melimpah disetiap musim banjir?

Pernyataan ini bukan hendak menyingkirkan opsi yang lain, atau menutup diri dari kenyataan. Akan tetapi, melihat dari apa yang terjadi, mengapa kita tidak berusaha menyesuaikan diri dengan banjir? Mengapa tidak kita sesuaikan “langgam” hidup, gaya sosial dan style bangunan dengan banjir? Jika memang ia datang nyaris setiap hari? Mengapa tidak kita bangun kembali rumah-rumah panggung, jembatan-jembatan dan bangunan-bangunan lain yang juga panggung? Mengapa tidak kita wacanakan membuat Singkil sebagai “kota amfibi”? Di mana selain memiliki sepeda motor, di samping rumah juga selalu disediakan perahu. Sehingga, jika banjir datang, sepeda motor masuk rumah dan perahu dilepas dari tambatan dan jika banjir reda, perahu ditambat dan mesin motorpun dihidupkan.

Merasa enjoy
Tidak mesti rumah beton untuk menunjukkan kemajuan suatu wilayah karena Brunei Darussalam yang katanya negeri maju pun banyak warganya yang masih tinggal di rumah-rumah panggung? Tidak mesti jalanan beraspal menjadi indikasi kemakmuran suatu negeri, karena Venesia --sebuah kota indah di Negara Italia di Eropa sana-- justru dibangun di atas air.

Para penduduk Venesia merasa enjoy dengan air, dengan perahu, dan dengan apa saja yang dapat membantu dia menjalankan aktivitas di lingkungan yang berair. Mengapa tidak kita tahbis-kan saja bahwa memang inilah keunikan negeri kita hari ini. Bukankah alam itu berubah? Bukankah berarti hari ini kita berkewajiban menyesuaikan diri dengan “kehendak” alam?

Aceh Singkil, dari tahun ke tahun telah menghabiskan begitu banyak energi hanya untuk memperbaiki dan memperbaiki kerusakan akibat banjir. Setiap tahun, badan SAR akan sibuk mengurusi mereka yang rumahnya terendam banjir. Setiap tahun, beton-beton amblas, aspal-aspal ambruk dan sungai-sungai longsor dan setiap tahun, miliaran dana dihabiskan hanya untuk itu-itu saja.

Kita dapat saja menciptakan Singkil sebagai “kota wisata banjir”, di mana setiap banjir tiba diadakan festival-festival air, kuliner, jajanan, tempat-tempat wisata hingga penyewaan perahu. Kita dapat saja mengakhiri semua kekisruhan karena banjir ini dengan mengubah pola pikir bahwa banjir bukan lagi sebuah bencana, tapi telah menjadi “kawan” yang secara rutin mengunjungi kita.

Sudah sepantasnya kita sebagai tuan rumah menyiapkan satu bilik khusus untuk tamu yang bernama banjir. Sudah sepantasnya, pola bangunan, rumah-rumah, sekolah-sekolah dibuat menjadi sesuai dan cocok dengan situasi banjir. Sudah semestinya, hari ini kita menikmati kedatangan banjir. Bukankah ia datang dengan membawa berkah ikan?

Sebagai seorang warga Aceh Singkil, saya memimpikan bangunan-bangunan dan keadaan lingkungan Singkil kembali seperti pada era nenek moyang dulu. Ketika itu nenek moyang kita tidak pernah risih karena sepatu mahalnya kotor terkena lumpur; tak pernah risau karena mobil Ford-nya kemasukan air; tak pernah gundah takut rumah betonnya menjadi amblas.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved