Opini

Idealisme Seni

DALAM dua kali momen debat publik kandidat gubernur dan wakil gubernur Aceh terlihat bahwa isu kesenian

Idealisme Seni

Oleh Teuku Kemal Fasya

DALAM dua kali momen debat publik kandidat gubernur dan wakil gubernur Aceh terlihat bahwa isu kesenian dan kebudayaan lokal sama sekali tidak gua pemikiran sang calon pemimpin Aceh. Kesenian seperti komentar teman, Sirajul Munir, hanya dipahami oleh elite politik tak lebih etalase pertunjukan, melengkapi acara seremonial. Kesenian hanya dipahami menari-nari dengan gadis-gadis dengan riasan cantik. Tak lebih.

Padahal, seperti pengalaman saya dua tahun ini mengajar di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, ada banyak anak muda Aceh yang berkhidmat dengan tulus dan penuh idealisme mengembangkan kesenian dengan caranya masing-masing. Idealisme kesenian itu hidup dalam dentang kerja dan pikir. Bakti mereka ikut dirasakan oleh komunitas dan masyarakat sekitar. Sayang idealisme kesenian itu akan bertumbuk tembok tebal pragmatisme politik Aceh.

Panggilan jiwa
Harus dipahami, idealisme seni menempati aras kognitif dan spiritual sang seniman atau pelaku kesenian sebelum dimensi lainnya. Kesenian dihadirkan pada awalnya --seperti terbaca dalam peran kesenian di era Romantik-- sebagai panggilan jiwa untuk menghadirkan “kebenaran” seniman, yang berbeda dengan versi agamawan atau ilmuwan. Ruang kesenian memiliki otonomi dan metodologinya sendiri.

Para “seniman ISBI” sebagaimana terlihat pada sebagian mahasiswa dan dosennya, menyadari bahwa berkesenian harus bisa dilepaskan dari dimensi fungsional non-seni, yaitu politik-ekonomi. Idealisme seni seperti dikatakan Johann Georg Hamann (1730-1788), filsuf Jerman abad 18 merupakan tanggung jawab estetis sang seniman untuk menghayati dan memformulasi perasaan mistis-misteriusnya demi khalayak. Meskipun arti seni secara generik adalah “meniru” (mimesis) dan “keterampilan teknis” (tekhne), ia belum menjadi karya seni jika belum memberikan getar, yang mendorong, menginspirasi, dan mengubah cara pandang diri sendiri dan orang lain.

Namun, ruang berkesenian tidak melulu akan menghasilkan idealisme. Ketika saya menonton acara pembukaan “Aceh Rapai International Festival” Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh pada 26 Agustus 2016, idealisme seperti dikatakan Georg Hamann tidak tercukupi. Bukan karena pertunjukan itu dihasilkan oleh dana cukup besar --tersiar kabar hingga Rp 2 miliar-- tapi juga aspek profesionalitas artistik dan etika penonton belum mempresentasikan sebuah reportoirkesenian. Terlalu banyak parade pidato pejabat yang membosankan, tata cahaya lampu dan suara yang bancuh. Demikian pula para penjual sirih dan kacang berseliweran. Persis pasar malam yang didanai sendiri oleh masyarakat.

Idealisme berkesenian merupakan perjuangan kritis sang seniman. Awalnya ia berdialog dengan dirinya sendiri, memotret pandangan sekitar yang begitu rusuh, tidak ideal, dan pragmatis, kemudian menyampaikan visi di tengah dunia penuh kepekatan dan alasan politik. Dalam bahasa Freidrich Schiller (1759-1805) --fisuf Jerman yang juga sahabat dramawan Johann Wolfgang von Goethe-- idealisme kesenian menjadi hanyutan estetik untuk mengedukasi awam mendapatkan pencerahan dan pembebasan jiwa.

Idealisme itulah yang saya lihat pada diri Chairul Anwar atau Kaka, seorang mahasiswa Prodi Tari ISBI Aceh. Ia bersedia menolak secara halus hadiah “Anugerah Budaya” dari Pemerintah Kota Banda Aceh. Alasan dan sikapnya pun cukup membuat saya tercengang, “banyak seniman lebih senior dari saya dan mereka belum mendapatkan apa-apa”.

Sikap ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masa depan kesenian Aceh ke depan tidaklah seburuk masa depan politik. Masih ada sosok-sosok idealis yang menolak seremoni dan pestapora politik atas nama kesenian, di tengah banyak orang yang ingin merebutnya untuk prestise dan proyek: para avonturis dan oportunis. Kita masih memiliki seniman muda yang andal dan bukan sekadar pengelola pertunjukan atau event organizer yang produktif yang mencari profit dari seniman lain.

Meskipun begitu saya tidak percaya lembaga kesenian serta-merta akan menghadirkan konstruksi berkesenian penuh nuansa dan idealistis. Meskipun ISBI Aceh sudah berumur lebih dua tahun, tidak otomatis menghadirkan mimpi itu. Memang beberapa mahasiswa ISBI Aceh telah “menjadi” dan terbentuk talenta keseniannya secara mandiri. Bahkan pola kreativitas dan inspirasi mereka terbentuk secara alamiah tanpa sentuhan banyak secara institusional ISBI.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved