Apresiasi

Ayah Ubit

Begitulah, salah satu bait lagu “Geunang Geudong” karya Ayah Ubit dizaman 1960-an

“Ini pertama kalinya ayah mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya dan merupakan momen yang berharga dan tidak dapat kami lupakan,” kata Norwegia. Pasca-permasalahan dengan Rousady Mourny, Ayah Ubit sempat kecewa namun jiwanya tidak berhenti untuk terus menciptakan lagu-lagu baru. Terbukti lagu “Rukok Cap Tumbak” tercipta ketika beliau berhenti berjualan keliling dan beralih menjadi penjual rokok.

Peralihan profesi ini hanya sementara saja. Dia ingin mengobati rasa kecewa atas permasalahan yang sedang dihadapinya dan butuh suasana baru. Hanya beberapa bulan saja, kemudian Ayah Ubit kembali berdagang barang-barang aluminium.

Ayah Ubit seorang seniman besar Aceh yang telah menciptakan banyak lagu.. Sayangnya, rekaman lagu-lagu beliau setelah tsunami sangat sulit ditemukan. Sekalipun demikian, lagu-lagu ciptaan Ayah Ubit masih terekam jelas dalam ingatan. Lagu Jambo-Jambo, Geunang Geudong, Raja SI Ujud, Rukok Cap Tumbak, Bungong Kupula, Geulayang Lon Manyang, Gaseh Ke Leukang, Cenene, Cakra Donya, Seumangat Juang, Cahaya Buleun Trang, dan Cut Da Meurawan di Keude Aron.

Ayah Ubit memulai kariernya menjadi anggota band “Getaran Sukma” di Gampong Panggong, di jantung Kota Meulaboh, pimpinan Adly.

Ayah Ubit pernah hijrah ke Orkes Indomo (Indonesia Molek) di Rundeng Tua. Tidak selang berapa lama, Ayah Ubit kembali ke Band Getaran Sukma. Akibat terjadi selisih paham di Orkes Indo, lahirlah band baru Melatiasal Ketapang Wangi Kampung Belakang, pimpinan Abdurrahman Rafar, yang sebelumnya merupakan anggota Orkes Indomo.

Semasa hidupnya lagu-lagunya tidak sempat direkam. Lagu-lagunya direkam oleh pihak lain dengan mencantumkan NN pada kaset tersebut. Terdapat 2 vol kaset lagu-lagu almarhum yang direkam oleh Raousady Mourny. Untuk mendapatkan haknya sebagai pencipta lagu Ayah Ubit menemui begitu banyak rintangan. Dari 2 volume yang dikeluarkan oleh pihak tersebut, hanya volume pertama yang berhasil diedarkan, sedangkan volume kedua dilarang keras oleh pihak keluarga dan sahabat Ayah Ubit untuk diedarkan. Sebab, lagu-lagu ciptaan beliau yang dikomersialkan lewat rekaman oleh Raousady Mourny tanpa mencantumkan nama penciptanya.

Tahun 1992, dalam usia 52 tahun Ayah Ubit menutup matanya. Tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan pasti waktu almarhum menghembuskan nafas terakhirnya, karena saat terakhir kali keluarga melihatnya ia sedang tidur siang di kamarnya.

* Isnu Kembara, Nursyidah, dan Teuku Dadek. Mereka adalah seniman dan tinggal di Aceh Barat.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved