Kini, Legenda PSAP Itupun Telah Pergi
WARGA berkunjung ke rumah sederhana di pinggir jalan Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie
WARGA berkunjung ke rumah sederhana di pinggir jalan Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, Senin (30/1). Saat itu, jarum jam menunjukan pukul 17.00 WIB. Suasana duka masih menyelimuti rumah tersebut. Kediaman itu milik Drs H Sjarifuddin Husin (73) atau Din Benhur panggilan sehari-hari lelaki itu semasa hidupnya.
Innalilahi wainna ilaihi rajiun, Benhur telah dipanggil sang khalik pada Minggu (29/1) sekitar pukul 12.15 WIB, di rumahnya di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli. Sebelum dijemput Ilahi, Benhur ternyata menderita sakit ginjal yang telah menderanya sejak awal Oktober 2016. Sehingga suami Jauhari Ahmad (almarhumah) harus bolak balik cuci darah di Rumah Sakit Umum (RSU) Tgk Chik Di Tiro Sigli.
Saat berkunjung ke rumah duka, Serambi bertemu anak kedua Benhur bernama Yose Rizal (45) yang sedang melayani tamu. Benhur memiliki empat anak yakni Irfan Wahyudi (49), Yose Rizal (45), Onna Delvi (39), dan Chaerul Ummam (31).
Kepada Serambi, Yose Rizal menceritakan ayahnya merupakan pemain PSAP Sigli. Benhur bergabung dengan tim kesayangan masyarakat Pidie mulai tahun 1970. Di line-up PSAP, Benhur bertugas sebagai sayap kanan dan stoper. Saat bermain di lapangan hijau, Benhur merupakan sosok pemain yang paling disegani lawannya. Dia memiliki tubuh kekar dan mampu mengolah si kulit bundar hingga ke mulut gawang lawan. Panggilan Benhur disematkan padanya sejak bergabung dengan PSAP.
Saat bergabung dengan PSAP, Benhur berkolaborasi dengan T Zainuddin atau Ampon Nut (almarhum), Idris Karim, Buyung Blok Sawah, Sulaiman Abdurrahman, dan Apon Hasan yang bertugas sebagai penjaga gawang. Benhur bersama rekannya sukses mengukir prestasi dengan membawa PSAP Sigli menjadi juara Sumatera pada tahun 1973. Tak hanya itu, PSAP mampu menembus final piala Marhalim Cup. Meski saat itu tim Sigli tidak berhasil menjadi juara. Tapi, PSAP mampu mengatasi lawannya dari Sumatera.
“Berdasarkan keterangan rekan sebayanya, ayah saya telah menyukai si kulit bundar saat umur 20 tahun. Kemahiran mengolah bola terus diasah sehingga beliau bergabung dengan tim PSAP Sigli,” kata Yose yang mengenang orang tuanya itu kerap tidur di rumahnya di Kompleks Perumahan Pemda Blang Paseh.
Ia mengatakan, tahun 1985 Benhur tidak lagi aktif bermain bola. Benhur menjadi pelatih KNPI ketika Sayed Zakaria menjabat sebagai Bupati Pidie. Benhur menjadi arsitek Haornas PSAP Sigli dan Pelatih POP Polres Pidie.
“Banyak foto-foto ayah saya saat beliau menjadi pelatih tim dan menerima piala. Sayang, foto nostalgia itu hancur akibat musibah gempa tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang menerjang Aceh. Jadi foto kenangan beliau tidak ada lagi,” katanya. Seiring perjalanan waktu, Benhur yang usianya telah tua tetap bersemangat memberikan konstribusi bagi kemajuan PSAP, meski tidak terlibat langsung sebagai pengurus. Benhur memberikan masukkan saat menjadi penonton setiap laga PSAP di Stadion Kuta Asan. Terlebih saat PSAP bermain di divisi utama dan di kasta elit Indonesia Super League (ISL). Ia tidak pernah absen untuk menyaksikan pertandingan di Kuta Asan.
Semasa hidupnya, Benhur merupakan guru di SDN 3 Sigli pada tahun 1966. Kemudian, Benhur dipercayakan sebagai Kandepcam atau sekarang UPTD pada Dinas Pendidikan (Disdik) Pidie. Setelah pensiun dari PNS, Benhur banyak menghabiskan waktunya di Masjid Istiqamah Blang Paseh. Apalagi, rumahnya hanya sekitar 200 meter dengan masjid. Kini, legenda PSAP itupun telah pergi menghadap yang Maha Kuasa. Selamat jalan Pak Din Benhur.(muhammad nazar)