Muslim Merasa tak Aman Sejak Trump Berkuasa

SETIAP terjadi terrorist attacks di Amerika Serikat (AS) yang melibatkan radikal muslim, kaum muslimin lainnya selalu khawatir

Muslim Merasa tak Aman Sejak Trump Berkuasa
ZUHERNA BAHARI 

OLEH ZUHERNA BAHARI, mantan wartawati Harian Serambi Indonesia, kini bermukim di Houston, Amerika Serikat.

SETIAP terjadi terrorist attacks di Amerika Serikat (AS) yang melibatkan radikal muslim, kaum muslimin lainnya selalu khawatir akan backlash (serangan balik terhadap mereka yang tak bersalah). Kekhawatiran tersebut juga memuncak setelah Donald J Trump mengambil alih Gedung Putih, menggantikan Barack Obama.

Minggu pertama, Trump telah mengeluarkan peraturan (executive order) dan pernyataan-pernyataan yang memojokkan muslim, seperti “We don’t want them here”, juga melarang masuk warga negara (pemegang paspor) dari tujuh negara yang mayoritas muslim. Trump juga hanya “akan menampung pengungsi (refugee) yang beragama Kristen saja.”

Demonstrasi besar-besaran berlangsung di seluruh pelosok AS, terutama di international airport kota-kota besar di AS. Saya sendiri menyaksikan sekitar 6.000-7.000 warga melakukan rally/demo di Terminal E George Bush International Airport Houston, Minggu lalu. Demo direncanakan berlangsung pukul 5-7 malam, namun diperpanjang mengingat masih banyak penumpang (warga asal Iran, Sudan, dan Syria) yang masih ditahan/diproses pihak imigrasi.

Sejak 29 Januari hingga beberapa minggu mendatang, disediakan booth (ruangan/counter) di Terminal E International Arrivals di George Bush International Airport Houston. Pengacara-pengacara dari American Civil Liberties Union (ACLU), pengacara Council on American-Islamic Relations (CAIR) Houston, serta pengacara dari bagian imigrasi dan International Consulate Liaison dari kantor salah seorang anggota DPR asal Texas (the Office of Congresswoman Sheila Jackson Lee) bergantian menerima sepanjang hari dan malam menampung pengaduan dari pihak keluarga jika ada anggota keluarga yang ditahan oleh pihak imigrasi di bandara setempat.

Ivan Sanchez, pengacara dari bagian imigarsi dan International Consulate Liaison dari kantor salah seorang anggota DPR asal Texas (the Office of Congresswoman Sheila Jackson Lee) mengirim pesan ke Houston Muslim Groups. “I wanted to reach out to you all to give you peace of mind, and, if any emergency situation arises, to let you know that the Congresswoman’s office is here for you,” katanya, sambil menyediakan nomor telepon yang dapat di-call kapan saja.

Diakuinya ada beberapa kasus dari beberapa permanent resident (pemegang green-card) asal tujuh negara yang dilarang masuk tersebut yang ditahan dan diproses di Houston Airport, namun kemudian dilepas kembali atas bantuan rekan-rekan pengacara tersebut.

Arsalan Safiullah, seorang pengacara CAIR di Houston yang bahkan ikut bermalam di bandara hari Minggu malam, mengatakan kebijakan larangan Trump tersebut dikhawatirkan akan diimplikasikan (diterjemahkan secara berbeda-beda) oleh petugas imigrasi di bandara yang sama sekali tak mendapatkan training atau pengarahan secara jelas untuk itu. Karena terbukti ada warga yang ditanyai macam-macam tentang pandangan politik mereka tentang ISIS, ada pula yang ditahan berjam-jam, ada yang diborgol tangannya, bahkan ada yang dipulangkan (dideportasi) ke negara asalnya. Sejumlah warga negara Syria, Sudan, dan Iran pemegang US green-card yang telah dideportasi ke negara asalnya, belakangan dibolehkan masuk kembali.

MJ Khan, Presiden Islamic Society of Greater Houston (ISGH) mengakui sejak diterapkannya larangan dan kebijakan Trump tersebut, ia menerima banyak telepon dari warga muslim di Houston. “Muslim di sini sangat khawatir dan terus bertanya `Apa yang sedang terjadi’ dan `Apa yang bakal terjadi selanjutnya’. Mereka bertanya `Apa yang harus kita lakukan?” ujar MJ Khan.

Khan sendiri tak bisa memberi jawaban pasti. Ia hanya bisa menyarankan warga muslim selain dari tujuh megara yang dilarang masuk tersebut, yang masih memegang green-card dan saat ini sedang melawat di luar AS, disarankan untuk kembali ke AS, karena khawatir jumlah negara yang dilarang masuk akan bertambah lagi. Bukan tak mungkin negara-negara seperti Pakistan, Saudi Arabia, Mesir, akan dimasukkan dalam daftar larangan oleh pemerintah Trump.

Kekhawatiran tersebut lebih dirasakan oleh wanita-wanita muslim yang mengenakan hijab. Saya sendiri bekerja di rumah, tapi hanya ke luar rumah untuk belanja grocery. Selama sepuluh tahun tinggal di AS, hanya sekali saja saya mengalami perlakuan buruk sebagai seorang muslim, dan ini terjadi di masa Trump berkuasa. Hal ini terjadi minggu lalu ketika mobil saya berhenti di lampu merah. Saya melirik ke mobil di sebelah saya yang menghidupkan musik terlalu keras, dan hal ini biasa di sini. Ada dua anak muda yang duduk di depan, keduanya White American, saat bertatapan mata, saya melemparkan senyum. Mereka tidak membalas. Ketika lampu hijau menyala, tiba-tiba salah seorang di antara mereka menjulurkan tangan ke arah saya dengan mengacungkan jari tengahnya (tanda untuk fuxx you), lalu mereka ngebut. Tanda ini memang sangat kasar. Saya pikir mereka pastilah supporter Trump. Saya pikir ia baru menunjukkan tanda itu saat akan “melarikan diri”, tidak pada saat lampu merah menyala.

Selain muslim yang berhijab, masjid-masjid di Amerika juga dikhawatirkan menjadi target kebencian pendukung Trump terhadap muslim. Hanya dua hari setelah penyataan Trump “We don’t want them here”, sebuah masjid di Kota Victoria, Texas, sekitar 125 mil dari Houston, dibakar warga yang diduga pendukung Trump.

Di luar dugaan, pengumpulan dana secara online (Gofundme.com) untuk membangun kembali Victoria masjid melebihi target. Yang dibutuhkan sekitar $850,000, malah saat ini terkumpul lebih $1 miliar. Diperkirakan, donasi ini masih akan terus bertambah. Penyumbang bukan hanya kalangan muslim, tapi banyak juga warga AS nonmuslim yang menyumbang. “Saya seorang ateis, tapi saya merasa sedih dan benci terhadap perlakuan mereka terhadap kalian. Kebebasan beragama dan bebas dari penindasan adalah hak-hak asasi manusia,” ujar Martin Wagner, seorang warga Kota Victoria. Ya, begitulah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved