Citizen Reporter
Enaknya Jadi Warga Swedia
SUDAH hampir sepekan saya berada di Swedia, negeri di mana Wali Nanggroe Tgk Hasan Tiro pernah menetap cukup
OLEH AKMAL HANIF Lc, Ketua Umum Komunitas Solidaritas Dhuafa Aceh (KSDA) dan Ketua Umum Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Korwil Aceh, melaporkan dari Stockholm, Swedia
SUDAH hampir sepekan saya berada di Swedia, negeri di mana Wali Nanggroe Tgk Hasan Tiro pernah menetap cukup lama saat mengendalikan pergerakan Aceh dari negeri Skandinavia. Ini kali kedua saya mengunjungi Swedia. Saat ini saya masih berada di Hallefors yang berjarak 300 kilometer dari Stockholm. Musim salju sedang turun, cuaca sangat dingin. Baru kali ini saya merasakan musim seperti ini dan beradaptasi dengan cuaca yang tak pernah terjadi di Aceh.
Hidup di Swedia itu rupanya cukup menyenangkan. Jadi, wajar jika negara ini pernah masuk dalam kategori negara di mana penduduknya merasa sejahtera lahir batin. Bagaimana tidak, semua kebutuhan hidup manusia mulai dari lahir hingga meninggal sudah ditangani negara.
Sebagai contoh, warga Swedia dewasa dapat tunjangan bulanan 6.000 kroner atau setara Rp 9 juta untuk biaya makan dan kebutuhan lainnya. Tak perlu khawatir bagi yang tak memiliki rumah, sebab warga Swedia bisa menyewa rumah dengan bantuan dinas sosial di negaranya.
Penganggur di negeri ini mendapat santunan setiap bulan. Bantuan baru akan dihentikan setelah seseorang benar-benar mendapat pekerjaan yang layak.
Dinas Ketenagakerjaan di Swedia mempunyai tanggung jawab yang cukup besar, seperti mencarikan pekerjaan bagi warganya. Jika belum mampu memfasilitasi pekerjaan yang sesuai, maka dinas terkait akan menanggung semua beban hidup para penganggur di negara ini.
Usia tenaga kerja di Swedia sampai umur 65 tahun. Di negara ini, warganya rata-rata meninggal di usia 95 tahun ke atas. Ini menandakan angka harapan hidupnya sangat tinggi.
Orang Swedia sangat menjaga kesehatan dan tetap melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit atau dokter. Bahkan, untuk urusan gigi saja mereka sudah punya jadwal khusus pemeriksaan. Jika tidak datang, maka dokter gigi akan menelepon untuk segera periksa gigi. Sungguh suatu perhatian yang sangat luar biasa.
Untuk biaya berobat, warga Swedia akan dibantu pemerintah jika pembayaran berobat melebihi 1.800 kroner per tahun. Ini berlaku bagi warga negara yang berumur 18 tahun ke atas. Sementara, umur nol hingga 18 tahun semua biaya kesehatan ditanggung oleh pemerintah.
Di Swedia, setiap anak yang lahir langsung memperoleh nomor induk. Nomor ini hanya diketahui oleh pemerintah dan si pemilik nomor.
Nah, ada yang menarik pada saat seorang ibu melahirkan. Bayi wajib dijaga selama satu tahun penuh oleh kedua orang tuanya secara bergantian. Selama enam bulan dijaga oleh ibunya dan enam bulan oleh ayahnya. Mereka mendapat cuti kerja selama enam bulan dengan tetap mendapat gaji penuh.
Sekiranya, suami tidak ambil cuti, maka si ibu dapat melanjutkan menjaga anak selama setahun penuh. Mengetahui ini, saya jadi teringat pada kebijakan Gubernur Zaini Abdullah yang pernah tinggal lama di Swedia kemudian saat memimpin Aceh mengeluarkan Pergub Cuti Enam Bulan bagi Wanita PNS yang Melahirkan. Sepertinya ide ini terinspirasi dari Swedia.
Saat lahir anak-anak Swedia sudah mendapat gaji 1.200 kroner sampai umur 18 tahun. Hingga umur 25 tahun warga Swedia mendapat gaji 6.000 hingga 8.000 kroner setiap bulan sampai dapat pekerjaan tetap.
Sekolah di Swedia gratis, anak-anak hanya membeli buku pelajaran saja. Seragam sekolah bebas alias tidak ada pakaian khusus. Anak-anak tak diperkenankan jajan di sekolah. Kebutuhan gizi anak sekolah sudah disediakan dengan empat menu pilihan sesuai selera mereka.
Soal disiplin waktu jangan ditanya. Negeri ini sudah sangat disiplin. Sekiranya anak-anak terlambat datang ke sekolah, maka gurunya akan menelepon orang tua untuk menanyakan keadaan si anak.
Hubungan guru dengan orang tua sangat baik, guru dan orang tua saling mengenal satu sama lain. Keadaan ini jauh berbeda dengan pendidikan di negeri kita, terutama di Aceh.
Bagi anak sekolah usia SMA, mereka akan mendapat laptop hak pakai selama tiga tahun sebagai sarana penunjang belajar hingga tamat.
Warga Swedia yang sudah lansia sangat diperhatikan pemerintah. Mereka akan menjadi pensiun 10.000 kroner setiap bulan yang diambil dari potongan semasa kerja. Para lansia yang mendaftar asuransi akan mendapat tambahan sebesar 5.000 kroner. Jadi, para lansia mendapat tunjangan hidup sebesar 15.000 kroner.
Panti jompo juga tersedia bagi para lansia. Fasilitasnya seperti hotel dan sangat nyaman. Orang-orang di negara ini menganggap anjing dan kucing sebagai anggota keluarga.
Hewan ini wajib dicek kesehatannya setiap enam bulan dan wajib diajak jalan-jalan dan olahraga. Maka, jangan heran jika di negeri ini kita akan sering melihat warga saat berolahraga membawa anjing.
Pemilik wajib memberikan baju dan menabalkan stikter scotlet pada anjingnya agar memantulkan cahaya, terutama ketika musim salju tiba. Untuk urusan hewan piaraan saja begitu teratur dengan baik, apalagi kehidupan manusia. Jadi, pantas jika Swedia menjadi negara tujuan bagi mereka para pencari suaka, karena di negara ini manusia benar-benar mendapat haknya sebagai warga negara. Bagaimana dengan di Aceh?
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/akmal-hanif-lc_20161005_092408.jpg)