Bener Meriah Gelar Seni Gayo

Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menggelar festival seni Gayo, berupa Didong dan Tari Guel selama dua

Bener Meriah Gelar Seni Gayo
Penari cilik dari SDN Wonosari, Kecamatan Bandar, mengkolaborasikan tari Munalo dalam bentuk Guel, pada saat festival seni budaya tingkat pelajar dan umum, Kamis (2/3) yang diselenggarakan di Gedung Olahraga dan Seni (GORS) Redelong SERAMBI/MUSLIM ARSANI 

* Diikuti 60 Group Didong dan Guel

REDELONG - Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menggelar festival seni Gayo, berupa Didong dan Tari Guel selama dua hari, dari Kamis (2/3) sampai Jumat (3/3). Kegiatan yang diikuti para pelajar seluruh jenjang pendidikan dan umum itu dipusatkan di Gedung Olah Raga dan Seni (GORS) Simpang Tiga Redelong.

Festival seni budaya tersebut yang didukung Pemkab Bener Meriah dilaksanakan oleh Karang Taruna Kecamatan Bukit. Diharapkan, melalui kegiatanini, maka adat-istiadat Gayo tetap dapat dilestarikan, sehingga memberikan identitas bagi masyarakat Gayo yang mendiami Kabupaten Bener Meriah.

Kadis Parawisata Bener Meriah, Drs Haili Yoga mejelaskan festival diikuti 60 group, terdiri dari 30 group Didong, dan 30 group Tari Guel. Dia berharap, seni budaya Gayo terus abadi, sehingga generasi muda tidak menjadi tamu di negerinya sendiri, apalagi kedua jenis seni itu telah dikenal luas secara nasional.

“Saya harus memberi penghargaan kepada panitia festival seni budaya ini karena ikut menjaga adat istiadat serta kesenian Gayo,” ujarnya. Haili berharap, anggota DPRK Bener Meriah juga ikut memberi dukungan untuk bekerjasama dalam mempertahankan dan mengembangkan kualitas seni dan budaya Gayo.

Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bener Meriah, Rusli M Saleh seusai membuka festival menyatakan festival ini harus berkelanjutan dan terprogram di setiap kecamatan, minimal sebulan sekali dibahas, sehingga kegiatan dapat berkelanjutan.

“Hendaknya, kegiatan ini diprogramkan oleh setiap kecamatan setiap bulan sekali, sehingga dapat dimasukkan dalam agenda pariwisata,” jelasnya. Dia mengakui, masih banyak anggota masyarakat yang belum memahami tentang adat dan kesenian Gayo, sehingga sering terjadi salah pemahaman tentang kesenian tersebut.

“Sering terjadi salah pengertian, saat tarian ini menyambut tamu. Dalam judul disebut tari Munalo, akan tetapi dalam tarian tersebut terdapat ucapan tarian Tareng-Tareng Kopi, yang dilakukan saat pesta perkawinan. Artinya banyak masyarakat kita yang tidak tahu maksud dari nyanyian atau tarian yang dimainkan,” terang Rusli M Saleh.

Dia meminta dinas agar dapat merumuskan dan memperhatikan persoalan tersebut, sehingga tidak menimbulkan kekeliruan dalam memaknai sebuah kesenian ataupun adat istiadat lokal.

Sebelumnya, karnaval budaya dalam rangka memeriahkan HUT Kota Takengon ke-440 berlangsung meriah, walau diguyur hujan gerimis pada Selasa (28/2). Seribuan pelajar berpakaian adat dan lainnya, mulai dari TK, SD, SMP sampai SMA/sederajat mengitari Kota Takengon dengan berjalan kaki dan warga antusias menyaksikan dari pinggir jalan.

Pawai budaya juga semakin meriah dengan tampilnya sejumlah group drum band dari beberapa sekolah yang berjalan di baris paling depan memperagakan beberapa atraksi dan instrument musik. Karnaval tersebut, dilepas secara resmi oleh Bupati Aceh Tengah, Ir Nasaruddin MM, serta sejumlah anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).(c51)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved