Nova Mengaku Namanya Dicatut

Terdakwa perkara investasi bodong, Nova Mastura (25) mengaku ada sejumlah nasabahnya

Nova Mengaku Namanya Dicatut
Terdakwa kasus investor bodong, Nova Mastura (24) mengikuti sidang perdana kasus tersebut di Penadilan Negeri, Banda Aceh. 

* Oleh Nasabah yang Sudah Untung dari Bisnis Bodong

BANDA ACEH - Terdakwa perkara investasi bodong, Nova Mastura (25) mengaku ada sejumlah nasabahnya yang sudah mendapat keuntungan dari dirinya dalam bisnis itu ternyata membuat penipuan dengan cara membuka jaringan baru atas nama Nova Mastura alias mencatut nama dirinya.

Nova menyampaikan hal ini saat diperiksa sebagai terdakwa dalam sidang lanjutan perkara ini di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Senin (6/3).

“Semua orang yang saya untungkan juga ikut bermain dengan menipu nasabah di bawahnya lagi. Saya ingin membuka kasus ini agar semua orang tahu bahwa bisnis saya, ada juga orang yang diuntungkan,” kata Nova menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Aceh, Rosnawati SH MH didampingi rekannya Cut Henny Usmayanti SH.

Dalam sidang kemarin, Nova menyatakan baru mengetahui hal itu ketika diperiksa sebagai saksi korban atas kasus penipuan di Polresta Banda Aceh dengan terlapor, Noni Meliza. Menurut Nova, dalam melakukan aksinya Noni juga mengirim pesan siaran (broadcast) investasi forex dolar kepada calon nasabah, seperti dilakukan Nova.

“Tapi dia (Noni) memotong keuntungan ril. Misal, invest Rp 10 juta untung 60 juta. Tapi dia mengedit invest Rp 10 juta, untung Rp 30 juta. Rp 30 juta lagi diambil untuk dia. Bahkan dalam keuntungan ini, Noni tidak mengembalikan modal yang disetor nasabah. Di situ saya tahu mereka yang diuntungkan juga `bermain’,” ulasnya saat diwawancarai ulang usai sidang.

Ia juga mengatakan kecewa dengan para nasabahnya yang telah diuntungkan karena telah menyebarkan informasi bahwa mereka sudah rugi akibat mengikuti investasi forex dolar yang diarsiteki Nova. Ia menegaskan bahwa dalam bisnisnya ada juga nasabah yang diuntungkan dan sudah menerima manfaat dari bisnis itu.

Dikatakan Nova, ada seratusan orang yang mengikuti bisnisnya. Sebanyak 90 nasabah sudah menerima keuntungan langsung dari bisnis tanpa badan hukum itu. Tetapi para nasabah yang sudah mendapat keuntungan ini, kemudian ‘bermain’ lagi melalui jaringan sendiri. Mereka kebanyakan dari pengusaha, dosen, PNS, TNI-Polri, hingga dari kalangan pengacara.

Ia menyampaikan bahwa dari bisnis itu dirinya hanya meraih keuntungan Rp 98 juta, meski di rekeningnya pernah singgah uang Rp 18 miliar. Namun, dari keuntungan tersebut juga digunakan untuk memberangkatkan nasabahnya berwisata ke Thailand dan Malaysia serta membeli mobil secara kredit, meskipun mobil itu sudah ditarik oleh nasabahnya yang sudah diuntungkan.

Kepada majelis hakim, Nova juga mengakui, banyak nasabahnya yang sudah untung mengaku rugi. Tetapi dalam kasus investasi bodong itu, mereka tidak pernah melapor ke polisi. “Yang melapor ke Polda Aceh sebenarnya ada empat orang, tapi hanya dua laporan yang diproses. Dua lagi tidak lagi dilanjutkan karena sudah mendapat keuntungan,” katanya.

Amatan Serambi, dalam sidang itu terdakwa Nova dicecar banyak pertanyaan oleh jaksa. Tetapi, Nova bisa menjawabnya dengan lugas. Setelah mendengarkan keterangan terdakwa, Ketua Majelis Hakim, Badrun Zaini menetapkan sidang lanjutan dengan agenda pembacaan tuntutan, Kamis (9/3).

Sementara itu, Kuasa Hukum Nova, Yusi Muharnina SH dan Rifa Chinitya SH, menyatakan kecewa dengan JPU karena tidak bisa menghadirkan saksi Riski Ananda dalam persidangan tersebut. “Sebenarnya kami kecewa karena saksi Riski Ananda tidak bisa dihadirkan dalam persidangan. Karena saksi Riski adalah saksi kunci kami,” kata Yusi Muharnina. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved