Ramadhan Mubarak

Kejujuran, Keikhlasan, dan Kebersamaan

RAMADHAN adalah bulan yang sangat istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya

Kejujuran, Keikhlasan, dan Kebersamaan

Oleh Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, Rektor Universitas Syiah Kuala Email: samsul_r@yahoo.com

RAMADHAN adalah bulan yang sangat istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Satu keistimewaan Ramadhan adalah penuhnya rutinitas peribadatan yang diwajibkan dan dianjurkan untuk dilaksanakan. Rutinitas ibadah ini telah dimulai ketika mata mulai terbuka hingga mata tertutup kembali. Bahkan selama mata tertutup pun, Allah Swt hitung sebagai ibadah jika iman dijadikan sebagai landasan utamanya.

Seluruh rutunitas ibadah itu tidak hanya merupakan persembahan kepada Allah, akan tetapi juga merupakan pendidikan bagi jiwa dan raga setiap individu yang melaksanakannya. Bagi raga manusia, bukan lagi rahasia bahwa ibadah yang dilakukan secara rutin, terutama puasa, memberi kesempatan kepada tubuh untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel-sel pembentuknya.

Di sisi lain, bagi jiwa manusia, puasa Ramadhan dan berbagai ibadah lain yang menyertainya akan memberi pendidikan berharga untuk setiap jiwa yang melakukannya.

Tiga semangat dan karakter utama yang secara tak langsung termuat dalam pembelajaran ubudiyah di bulan Ramadhan adalah semangat kejujuran, keikhlasan, dan kebersamaan. Ketiga semangat tersebut melekat erat pada berbagai rutinitas peribadatan selama bulan puasa.

Kejujuran, misalnya, barang abstrak yang mulai sangat langka di masa sekarang, sesungguhnya ikut terdidik melalui ibadah puasa secara penuh selama sebulan. Kejujuran merupakan modal utama pelaksanaan ibadah puasa. Bagaimana tidak, puasa merupakan satu-satunya ibadah yang pelakunya memiliki peluang besar untuk tidak jujur ketika membuat pengakuan. Hal ini karena ibadah puasa berbeda dengan ibadah shalat, zakat, dan haji, di mana semua orang bisa dengan jelas menyaksikan seseorang sedang melaksanakan peribadatan.

Seseorang bisa saja berbohong dan mengaku berpuasa, meskipun baru saja menyantap makan siang di dalam kamarnya. Terlalu banyak kesempatan dan terlalu banyak tempat yang sesuai untuk dijadikan tempat persembunyian, hanya untuk sekadar makan di waktu siang bulan Ramadhan. Singkat cerita, selain Allah, tak akan ada satu orang pun yang tahu berpuasa tidaknya seseorang pada hari itu.

Namun begitu, sangat sedikit orang yang mau berjibaku sedemikian rupa, hanya untuk tidak berpuasa. Dorongan untuk memelihara puasa hingga waktu berbuka masih sangat kuat, dan mengalahkan keinginan untuk merusaknya. Secara tak sadar, orang yang berpuasa sedang mempraktikkan kejujuran yang paling tinggi levelnya. Tanpa sadar, semangat kejujuran tersebut terjaga sepanjang siang, minimal hingga waktu berbuka tiba.

Selain semangat kejujuran, semangat keikhlasan juga termuat dalam pembelajaran ubudiyah selama Ramadhan. Kedua semangat ini sesungguhnya sangat erat berhubungan, bahkan memiliki kemiripan dalam beberapa pandangan. Menurut Ibnu Qayyim Rahimahullah, ikhlas terjadi ketika seseorang tidak menuntut atau tidak berharap bahwa amalannya akan disaksikan atau diberi ganjaran oleh orang lain, selain dari Allah Swt.

Seiring dengan kejujuran yang dipraktikkan pada saat berpuasa, keikhlasan adalah alasan utama seseorang untuk menjaga puasanya hingga waktu yang telah ditentukan. Selama itu pula, tidak ada kesempatan khusus untuk memamerkan kepada orang-orang di sekitar bahwa ia sedang berpuasa. Secara tidak langsung, kesempatan untuk ria tidak banyak terbuka dalam ibadah puasa. Pendapat ini dikuatkan oleh pernyataan seorang ulama besar, Ibnul Jauzy, yang menyebutkan bahwa semua ibadah akan terlihat ketika dilaksanakan, oleh karena itu hanya sedikit di antara manusia yang selamat dari ria, namun hal itu tidak terjadi pada ibadah puasa.

Semangat keikhlasan inilah yang akhirnya menjadi jaminan diterima atau tidaknya ibadah puasa dan segala bentuk ibadah lainnya selama ramadhan. Rasulullah saw bahkan menjamin bahwa siapa saja yang mampu menjalankan berbagai ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan, maka akan dihapuskan seluruh dosa yang ia miliki sebelumnya. Di sisi lain, Allah juga menegaskan bahwa Dia hanya berkenan jika seseorang beribadah dengan keikhlasan.

Firman Allah, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Satu lagi nilai semangat yang sangat kental selama Ramadhan adalah semangat kebersamaan. Hal itu terlihat dengan sangat jelas pada prosesi shalat Tarawih berjamaah, berbuka puasa bersama, tadarus, majelis taklim, dan berbagai kegiatan ubudiyah lainnya. Hampir semua kegiatan tersebut terhubung erat dengan Ramadhan. Di Aceh, kebersamaan ini bahkan sudah dimulai ketika Ramadhan mau akan tiba. Budaya makmeugang merupakan satu bentuk budaya lokal yang seolah tak bisa ditawar untuk tidak dilalui dengan kebersamaan.

Singkat cerita, ketiga semangat tadi, yaitu kejujuran, keikhlasan, dan kebersamaan sangat kental terlihat selama bulan suci Ramadhan, sehingga idealnya, kita semua akan memiliki ketiga karakter itu pasca-Ramadhan. Sayangnya, setelah Ramadhan berlalu, ketiga karakter yang sudah tertuai itu seolah menguap begitu saja dan tidak banyak membekas pada pribadi setiap orang yang telah menikmati itu sebelumnya. Padahal, ketiga karakter tersebut merupakan modal utama untuk meraih kesuksesan baik di dunia maupun di hari akhirat nantinya. Hasil penelitian Thomas J Stanley di Amerika bahkan menempatkan karakter “kejujuran” sebagai faktor paling menentukan dalam kesuksesan hidup seseorang.

Mumpung masih dalam bulan Ramadhan, di mana doa-doa kita mudah dikabulkan, mari kita semua berdoa, semoga Allah menumbuhkan dan meneguhkan ketiga karakter itu dalam jiwa setiap kita. Mari juga berdoa, semoga Allah memudahkan kita untuk menjaga ketiga karakter itu selamanya. Amin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved