Breaking News:

Opini

Sukses Memimpin Dunia-Akhirat

UNTUK level Aceh, sangat lumrah kita meninjau indikator kesuksesan kepemimpinan untuk dua alam sekaligus

Editor: bakri

Oleh Teuku Zulkhairi

UNTUK level Aceh, sangat lumrah kita meninjau indikator kesuksesan kepemimpinan untuk dua alam sekaligus, yaitu alam dunia dan juga alam akhirat. Sebab, bukan saja karena faktor spirtualitas masyarakat Aceh yang menghendaki adanya korelasi kesuksesan pembangunan yang dijalankan pemerintah --di dunia dan untuk kehidupan hakiki di akhirat-- akan tetapi juga amanah regulasi yang mengikat setiap pemimpin dalam menjalankan amanah kepemimpinannya di Aceh. Integrasi Islam dalam pembangunan Aceh adalah amanah UU, di mana sejak lebih dari satu dekade hukum Islam kembali berlaku secara formal di Aceh.

Lebih dari itu, bagi para pemimpin sendiri, ia akan mempertanggung jawabkan amanah kepemimpinannya bukan saja di dunia, namun yang paling berat adalah di akhirat tempat di mana tanggung jawab kepemimpinan akan diukur dan diperhitungkan secara cermat di hadapan pengadilan Tuhan. Hal ini yang mesti sejak di awal kepemimpinannya mesti dicamkan secara pasti oleh pemimpin Aceh, Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah yang telah dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022, pada 5 Juli lalu.

Sukses di dunia
Program-program cemerlang Irwandi-Nova yang bisa kita baca sejak awal kampanye pasangan ini sebenarnya juga merupakan visi Islam (maqashid/tujuan syariah). Kalau kita membaca setiap poin misi pemerintahan Irwandi-Nova, maka secara meyakinkan kita akan melihat misi-misi tersebut sebagai juga misi Islam, seperti Aceh Seujahtera, Aceh Meuadab, Aceh Carong, Aceh Teunaga, Aceh Meugo dan Meulaot, Aceh Troe, dan seterusnya. Jika setiap poinnya sukses diimplementasikan, tidak kita ragukan lagi bahwa insya Allah Aceh akan maju.

Oleh sebab itu, tugas terbesar Irwandi-Nova di awal pemerintahan mereka adalah memastikan “kabinet”-nya memahami misi ini dan betul-betul menjiwainya. Kabar bahwa Irwandi-Nova akan melakukan fit and proper test’ bagi para calon kepala SKPA yang akan membantunya bekerja tentu saja sebuah “angin segar”, khususnya setelah di era kepemimpinan Zikir (Zaini Abdullah-Muzakir Manaf) sebelumnya “gagal” mengangkat kepala dinas lewat fit and proper test ini. Namun, apakah kebijakan semacam ini bisa diwujudkan, mengingat Irwandi-Nova terikat “kontrak politik” dengan sejumlah parpol pengusung dan pendukungnya pada pilkada lalu?

Kalau kita membaca dinamika politik Nasional, tampaknya hal semacam ini gagal diwujudkan pemerintahan Jokowi-JK. Bagi-bagi jabatan untuk parpol pendukung terlihat begitu gamblang dilakukan rezim ini, meskipun di awal justru dikampanyekan sebaliknya, bahwa pasangan Jokowi-JK tidak akan melakukan politik transaksional (bagi-bagi jabatan). Yang salah tentu bukan perihal jabatan telah dibagi-bagi, sebab memang jabatan itu harus dibagi-bagi.

Namun, yang kemudian membuat visi misi pemerintah gagal diwujudkan adalah karena saat bagi-bagi jabatan dilakukan sekadar politik transaksional, bukan atas azas profesionalitas, maka di sinilah awal mula kepentingan masyarakat menjadi semakin terpinggirkan. Yang akhirnya muncul adalah perebutan kepentingan kelompok oleh orang-orang dan jaringan lingkaran kekuasaan.

Oleh sebab itu, kita tentu tidak berharap Irwandi-Nova meniru langkah Jokowi-JK dalam strategi dan narasi kekuasaan. Harapan terbesar masyarakat Aceh adalah melihat Irwandi-Nova berhasil merealisasikan janji-janji politiknya yang diawali dengan pemilihan “kabinet” berdasarkan kapasitas mereka, bukan berdasarkan politik transaksional.

Irwandi-Nova harus memastikan bahwa kabinetnya adalah orang-orang yang kaya dengan gagasan, tidak KKN, inovatif, tipical action, mau mendengar, memahami pentingnya pendekatan akademik dan riset dalam pembangunan, berani, tidak bermental asal bapak senang (ABS), serta tidak “bermental proyek”. Lebih dari itu, Irwandi-Nova juga hendaknya betul-betul serius melawan praktik korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), yang tampaknya tetap aktif di balik “layar syariat”.

Sukses di akhirat
Tidak sulit untuk menjawab apa kunci sukses di akhirat bagi seorang pemimpin. Penjelasan Alquran dan teladan paripurna dari kepemimpinan Rasulullah saw dan para salafussalih adalah contoh konkret bagaimana wujud atau model kepemimpinan yang berorientasi akhirat. Unsur mendasar kepemimpin seperti keadilan seorang pemimpin akan sangat menentukan, bahkan syarat mutlak kesuksesan di akhirat. Banyak ayat-ayat dalam Alquran yang menekankan pentingnya berlaku adil.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved