Breaking News:

Derita Petani di Pemantang Sawah

Akhirnya gagal panen dan menjual dengan harga murah untuk pakan ternak akibat kemarau.

Penulis: Muhammad Hadi | Editor: bakri
WARGA memotong padi yang sudah puso akibat kemarau di persawahan Desa Lampreh, Ingin Jaya, Aceh Besar, Rabu (26/7). Padi tersebut dijadikan pakan ternak. 

Para petani mondar mandir di tepi hamparan sawah. Sesekali menoleh ke sawah dengan pandangan kosong dan raut wajah kegelisahan. Kadang-kadang melihat ke sebuah lorong yang dipinggir sawah. Mereka bukan sedang menjaga padi yang menguning dari gangguan burung pipit. Tapi menunggu orang yang ingin membeli padi masih hijau akibat gagal panen.

"Bang neubloe ata lon mantong, neubloe ata lon mantong (Bang, beli (padi) punya saya saja, beli (padi) punya saja saja)," teriakan itu terdengar dari balik pagar saat kami menuju ke tepian sawah dari belakang pertokoan di Desa Lampreh Lamteungoh, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (26/7). Kami tak bisa melihat dengan jelas wajah yang berteriak di seberang akibat terhalang pagar dan pohon kedodong.

"Kon awak bloe pade hai (bukan orang beli padi hai)," teriak seorang pria paruh baya, Rusdi (55) yang duluan berjumpa dengan Serambi. Teriakan itu langsung mengakhiri suara petani yang menawarkan padi gagal panen dari seberang. Setelah melewati celah-celah pohon kedodong, terlihat beberapa orang pria. Ternyata mereka sedang menunggu pembeli padi yang gagal panen.

Beberapa pria yang sudah berhasil bernegosiasi harga langsung berjalan ke pemantang sawah untuk memotongnya. Sebagian padi terlihat masih hijau dan yang lain sudah memerah. Ada yang sudah nampak bulirnya, tapi tidak berisi dan sebagian lagi sudah mulai kering bagian bawah batangnya. Begitu dibuka sela-sela padi untuk melihat kondisi tanahnya, nampak mengeras dan retak-retak. Ukuran lubang bisa memasukkan telapak tangan ke dalam tanah.

Petani Desa Lampreh, Rusdi menceritakan bila dirinya punya dua petak sawah dengan luas 2.500 meter dan 1.500 meter. Dua-duanya tidak ada air sehingga ingin menjual untuk pakan ternak. Masalahnya sudah dua hari menanti, tapi belum dapat pembeli. Terlihat wajahnya kemerahan akibat terbakar terik matahari sambil menunggu calon pembeli. Padinya yang ditanam sejak Mei lalu sudah ada ada bulirnya. "Hana guna le pade karena hana ie. Can duek mandum kamoe nyoe (Tak berguna lagi padi karena tidak ada air. Bisa kelaparan kami semua)," ujarnya.

Bila pun turun hujan lagi, kata Rusdi, tetap tak bisa lagi untuk di panen. Karena sudah terlambat mendapatkan air, apalagi sekarang tanah di sawah sudah retak-retak dan keras. Ia mengaku sudah menunggu pembeli untuk dijual satu karung ukuran besar Rp 20 ribu. Ada juga yang menjual dengan harga Rp 10 ribu dan Rp 15 ribu. Tiap ada orang yang datang langsung menawarkan. Untuk minum saja dia diberikan oleh orang lain yang kasihan melihatnya. "Peugah siat bak bupati bek sampe duek kamoe (Bilang sebentar sama bupati, jangan sampai kelaparan kami)," ujarnya.

Tapi nasib Mahyuddin lebih parah lagi. Karena warga Lampreh ini membajak sawah orang dengan sistem bagi hasil hingga tidak berani memotong. Takutnya pemiliknya yang tinggal di luar Aceh Besar tidak percaya dan mengambil hak kelola sawah untuk diserahkan ke orang lain. Akibatnya padi di sawah sudah kemerahan dan tidak laku lagi untuk dijual. "Hana soe bloe le pade lon, kabeh merah (Tidak ada yang beli lagi padi saya, karena sudah merah)," katanya sambil menunjuk ke arah padinya yang memang sudah memerah diantara padi lain sebagian masih hijau.

Mahyuddin mengaku cukup banyak menghabiskan modal untuk menanam padi di sawah yang luas 1.000 meter lebih. Biaya untuk menanam padi Rp 400 ribu termasuk dirinya ikut membantu. Sekali beli pupuk hingga Rp 350 ribu, semprot padi Rp 70 ribu sekali dari jatah tiga kali. Membersihkan rumput untuk tiga orang masing-masing Rp 80 ribu. Uang makan minum untuk seluruh pekerjaan mencapai Rp 200 ribu. Bila berhasil panen ada dana lain yang harus dikeluarkan. "Kamoe bak soe meupeugah nyoe, meseu jeut dibantu kamoe (Kami harus bilang kepada siapa ini. Kalau bisa dibantu kami," ujarnya.

Kisah pilu juga dialami seorang janda yang menggendong cucunya sambil menunggu pembeli sejak pagi. Ia harus merasakan terik matahari siang dan hembusan angin barat yang cukup kencang. Rasa iba calon pencari pakan ternak akhirnya ada beberapa orang memborong satu petak sawah dengan harga Rp 200 ribu jelang shalat Ashar. Setelah dibeli akhirnya dia disuruh pulang karena cucunya kepanasan. "Nyan pade lon kana yang bloe (Itu padi saya sudah ada yang beli), " kata janda yang dipanggil Kak Mah.

Seorang warga Lamsie, Kecamatan Blangbintang, Aceh Besar, M Nasir datang ke Lampreh membeli padi gagal panen untuk pakan ternak. Hargnya Rp 20 ribu per karung ukuran besar. Beberapa pembeli lainnya kadang memberikan uang Rp 15 ribu hingga Rp 10 ribu per karung. Kalau kebanyakan diisi juga kesulitan saat diangkut ke tepi jalan. "Weh that watei ta kalon pade lagei nyoe, le that abeh modal nyoe (Sedih saat kita lihat padi seperti ini, banyak habis modal ini)," ujarnya.

Nasib yang dialami petani ini bukan hanya terjadi di Desa Lampreh. Padi milik warga di Desa Gani, Ingin Jaya, Aceh Besar juga sudah seperti ini. Namun, belum ada yang mulai memotong dan menjualnya. “Padahal sudah bisa dipotong juga padi di Desa Gani,” ujar M Nasir.

Dampak kekeringan juga dialami petani dari kabupaten lain. Petani susah payah menghabiskan dana dan tenaga sejak membajak sawah. Akhirnya gagal panen dan menjual dengan harga murah untuk pakan ternak akibat kemarau. Sulit untuk menjelaskan derita petani akibat gagal panen ini.(muhammad hadi)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved