Opini

Belajar dari Unoe

TIADA makhluk yang Allah Swt ciptakan sia-sia. Sebut saja unoe (lebah), makhluk kecil yang mampu berkonstribusi

Belajar dari Unoe

Oleh M. Shabri Abd. Majid

TIADA makhluk yang Allah Swt ciptakan sia-sia. Sebut saja unoe (lebah), makhluk kecil yang mampu berkonstribusi luar biasa bagi manusia. Madu produk utama buatan unoe, mampu menyembuhkan berbagai penyakit (QS. an-Nahl: 69). Sangking hebatnya unoe, namanya pun telah diabadikan sebagai nama satu surat dalam Alquran, yaitu Surat al-Nahl atau sering disebut juga Surat an-Ni’am (nikmat). Bahkan para mufassirin telah menyamakan madu dengan al-Quran al-Karim. Mereka berhujah bahwa madu yang dihasilkan unoe adalah bersumber dari berbagai jenis saripati bunga yang berkhasiat mengobati berbagai macam penyakit. Sementara itu, Alquran merupakan kompilasi saripati dari kitab-kitab terdahulu yang mengandung berbagai ajaran samawi yang diperlukan umat untuk meraih kebahagian hakiki (sa’adah haqiqiyyah) dan ianya juga berfungsi sebagai syifa’ (obat), serta rahmat bagi umat manusia (QS. Yunus: 57; dan al-Isra’: 82).

Hidup di dunia harus sehat jiwa-raga. Jika sakit raga, jiwa melarat. Sebaliknya, sakit jiwa (pungoe), raga sekarat. Agar bebas dari segala penyakit dan hidup sengsara, kita perlu makan obat. Minum madu menyehatkan raga, membaca Alquran memperkasakan jiwa. Apabila berbadan sehat, maka dengan mudah aktivitas dituntaskan. Shalat akan kusyuk, kerja-kerja mencari rezeki cukup energi. Raga sehat, pikiran waras adalah modal utama meraih kesuksesan.

Untuk menjaga hidup sehat, semua tindakan kita harus waras (selaras dengan aturan Ilahi) dan mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan sesama makhluk (hablum min an-nas), Sang Khaliq (hablum min al-Allah), dan lingkungan (hablum min ‘alam). Untuk melahirkan aksi-aksi yang waras, agar raga dan jiwa tetap sehat, trik-trik unoe dalam berinteraksi antarsesamanya, dengan Allah Swt dan linkungannya, patut dijadikan teladan.

Pantang ditindas
Pertama, unoe anti permusuhan, namun pantang ditindas. Bila unoe bersarang di tempat keramaian, ia tidak akan menyerang bila tidak diganggu. Tetapi bila ada yang mengusiknya, maka ia akan menyerang musuhnya secara berjamaah dengan gagah perkasa. Mengapa kita takut melawan musuh, ketika harga diri diinjak musuh? Sekiranya agama (ad-din), nyawa (an-nafs), harta (al-mal), intelektual (al-‘aql), dan keturunan (an-nasl) kita yang dilindungi syariat diganggu musuh, maka kita pantang mengalah, dan berperang membela hak-hak kita adalah jihad fisabilillah.

Tidak seperti makhluk parasit yang hidupnya selalu menguras energi dan merampok darah dan harta induk-semangnya, unoe mampu bekerja sama saling menguntungkan (mutual cooperation) dengan tempat di mana ia berteduh dan berumah-tangga. Bila unoe bersarang di pokok mangga, maka buah mangga itu akan selamat dari gangguan tangan-tangan jahil. Bahkan unoe turut bekerja sama dalam mempercepat proses pembungaan, penyerbukan dan pembuahan dengan menghisap saripati bunga mangga tersebut. Unoe bijak bersosialisasi dan pintar membalas budi.

Mengapa kita manusia yang diciptakan sebagai makhluk ahsan at-taqwim, terbaik dan sempurna (QS. al-Ashr: 4), malah gagal bersosialisasi dan tidak bijak membalas budi? Kita suka mencaci, menyakiti hati, iri hati, dan dengki antar sesama sendiri. Bahkan ada yang sudah dibantu, tak tahu berterima kasih; malah “air susu dibalas dengan air tuba”. Kita harus meniru unoe, di mana pun kita tinggal, apalagi sebagai pendatang, hendaklah kita cerdik mengambil hati jiran, bekerja sama dengan masyarakat setempat dan bila mendapat bantuan orang lain, balaslah budi mereka walaupun mereka membantu tanpa pamrih.

Kedua, unoe amat peka terhadap kelestarian lingkungan hidup. Dalam menghasilkan madu, unoe terbang ke sana-kemari menghisap saripati bunga. Ketika unoe hinggap di kuntum bunga, unoe turut mempercepat proses pembungaan, penyerbukan dan pembuahan pohon tersebut. Dalam setiap sepak terjangnya, unoe selalu memperhatikan kesejahteraan makhluk di sekelilingnya dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dalam istilah ekonomi, unoe pantang menimbulkan spillover cost atau negative externality terhadap lingkungan hidup. Kita insan kamil, mengapa lebih suka menjadi “sampah masyarakat” daripada “pembersih sampah”; lebih suka “korupsi” daripada “pemberantas korupsi”; doyan membalas “kebaikan” dengan “kejahatan”, dan menjadi “pembela syeitan” daripada “pembela kebenaran”.

Ketiga, unoe senantiasa bertoleransi dan saling mengalah antara sesamanya demi menjaga persatuan. Di sarangnya, unoe hidup saling himpit-menghimpit, pijak-memijak, dan berak-memberaki, tapi mereka selalu akur dan tak pernah cekcok. Padahal seringkali unoe junior memijak seniornya. Dalam kondisi apapun, unoe selalu patuh pada titah Ratu sebagai pemimpin tunggalnya. Unoe siap mengorbankan kepentingan individu demi kepentingan kaumnya. Mengapa kita suka membantah pemimpin yang dipilih? Membaikot pemimpin terpilih? Melawan orang tua? Memukul guru? Mengejek Teungku? Kita cenderung selfish, arogan, perusak persatuan, dan mau menang sendiri. Apakah kita perlu minta tolong pada unoe? “Oh unoe, tolonglah serang kami dengan gigitan berbisamu, hancurkan perangai mazmumah kami dan gantikan dengan suntikan sifat mahmudah-mu, agar ianya menjadi obat mujarab untuk merubah perangai bejat kebinatangan kami.”

Keempat, madu sungguh bermanfaat bagi manusia. Dalam memproduksikan madu, unoe memprosesnya dengan cara islami. Madu itu dihasilkan dari saripati bunga pilihan. Bahan baku yang digunakan Unoe untuk menghasilkan barang jadi (madu) berkualitas tinggi dan tidak memabukkan (halal). Mengapa banyak produsen sering menyulap bahan baku, menggunakan input murahan, mengandung unsur haram, dan diproses dengan cara ilegal demi meraup keuntungan? Insaflah wahai manusia, berbisnis di dunia untuk meraih falah (kemenangan dunia-akhirat), bukannya meraup keuntungan materi-duniawi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved