Ribuan Ha Tanaman Padi Kekeringan
Ribuan hektare (ha) tanaman padi di sejumlah kabupaten/kota di Aceh mengalami kekeringan
SIGLI - Ribuan hektare (ha) tanaman padi di sejumlah kabupaten/kota di Aceh mengalami kekeringan. Hal itu dampak dari kemarau panjang yang melanda Aceh dalam beberapa bulan terakhir. Akibatnya, tanaman padi tersebut terancam gagal panen.
Di Pidie, tanaman padi yang diprediksi akan gagal panen, antara lain, berada di Kecamatan Mila, Delima, Indrajaya, Padang Tiji, Grong-grong, Pidie, dan Peukan Baro. “Sawah kami kering karena sudah sebulan tak ada air,” ujar Tgk Usman (46), petani asal Padang Tiji kepada Serambi, Kamis (27/7).
Ilyas (44), petani di Kecamatan Peukan Baro, menjelaskan, akibat kemarau panjang pihaknya sudah berusaha mengairi sawah dengan menggali sumur bor atau menyedot air yang tersisa dalam saluran irigasi menggunakan mesin pompa. “Tapi, hasilnya tetap tak maksimal,” jelasnya.
Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud ST, mengatakan, pihaknya segera berkoordinasi dengan dinas terkait dan pihak kecamatan untuk mendata sawah yang kering dan dicarikan solusi yang tepat, sehingga tanaman padi dapat diselamatkan. Di Lhokseumawe, sekitar 480 ha tanaman padi pada sawah tadah hujan di sejumlah juga mulai kekeringan. Bila kekeringan berlanjut, tanaman padi yang masih berumur 1 sampai 1,5 bulan itu dipastikan gagal panen.
Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Lhokseumawe, Zulfikar mengatakan, pihaknya sudah turun ke sejumlah desa untuk melihat kondisi sawah yang kekeringan seperti di Desa Seuneubok, Blang Weu Baroh, Blang Weu Panjo, Blang Buloh, dan Alue Liem. “Kondisi tanah sawah sudah retak-retak,” ungkap Zulfikar.
Kondisi serupa juga terjadi di Aceh Utara. Seratusan ha sawah di Desa Blang Kabu, Teupin Ara, dan Blang Me Kecamatan Samudera, dalam tiga pekan terakhir mengalami kekeringan. Penyebabnya, tak ada air dalam saluran irigasi yang bisa dialirkan ke sawah.
“Bila musim kemarau terus berlanjut, bibit padi yang sudah kami semai itu terancam mati. Sekarang saja, bibit itu daunnya sudah menguning,” kata Saiful Bahri, warga Blang Kabu kepada Serambi, kemarin.
Sementara itu, warga Tanah Jambo Aye dan Baktiya, Aceh Utara juga kesulitan memperoleh air kebutuhan sehari-hari, karena sumur mereka mulai kering.
Andalkan sumur bor
Dari Bireuen dilaporkan, puluhan ha tanaman padi di Desa Cot Puuk dan Cot Tufah, Kecamatan Gandapura, serta Desa Paya Dua dan beberapa desa lain di Kecamatan Makmur juga kekeringan akibat kemarau panjang. Untuk mengatasi masalah itu, sebagian petani mengandalkan sumur bor yang digali di sawah untuk memompa air ke tanaman padi yang rata-rata sudah berusia hampir dua bulan.
Tapi, upaya itu tetap saja tak memberi hasil maksimal. “Hari ini kita pompa, lusa sudah kering lagi. Setelah itu, kita pompa lagi. Begitu seterusnya,” kata A Thaleb, petani di Desa Cot Puuk, kepada Serambi, Rabu (26/7). Sementara petani yang tak punya modal menggali sumur bor atau membeli mesin pompa air, hanya bisa pasrah melihat tanaman padinya kekeringan.
Di Pidie Jaya (Pijay), tanaman padi seluas 550 ha di Kecamatan Trienggadeng dan Panteraja, Pidie Jaya, kini mengalami kekeringan. Penyebabnya, karena pintu air Irigasi Cubo Kecamatan Bandarbaru di kawasan Alue Nge ditutup menyusul adanya kegiatan rehabilitasi saluran skunder di beberapa titik. Menyikapi masalah tersebut, Pemkab Pijay telah mencari solusi agar kedua belah pihak tidak dirugikan.
Asisten II Setdakab Pijay, Ir Jailani Beuramat, kemarin, mengatakan, pihaknya bersama Camat Tringgadeng dan Panteraja serta keujruen syhik dan pihak yang menangani proyek, Senin (24/7) sudah bermusyawarah mencari solusi agar kedua belah pihak tidak dirugikan. Kedua pihak sepakat melakukan sistem gilir. Aintu air dibuka sepuluh hari kemudian ditutup kembali selama sepekan. Demikian seterusnya.
Sungai menyusut
Ekses lain dari kemarau panjang adalah debit air Krueng (Sungai) Tiro, Pidie, menyusut dari 7.032 menjadi 1.800 liter per detik. Akibatnya, ribuan hektare yang selama ini air irigasinya disuplai dari Krueng Tiro menjadi kering kerontang.
Kadis Pertanian dan Perkebunan Pidie, Ir Ainalmardiah, kepada Serambi, Kamis (27/7) mengatakan, selama ini air Krueng Tiro disuplai untuk tanaman padi ke persawahan di lima kecamatan yaitu Tiro, Mutiara Timur, Glumpang Tiga, Glumpang Baro, dan Kecamatan Kembang Tanjong.
Ia menduga penyusutan debit air Kueng Tiro akibat maraknya pembalakan liar di pegunungan Tiro. “Saya kira jika tak ada pembalakan liar, air Krueng Tiro tak akan menyusut meski saat kemarau,” ungkap Ainal seraya menyatakan pihaknya akan mendata luas tanam padi yang kekeringan akibat kemarau.
TNI bantu petani
Sementara itu, personel TNI turun ke sejumlah persawahan di Aceh Besar yang terancam kekeringan. Di Kecamatan Simpang Tiga misalnya, Dandim 0101/BS, Letkol Iwan Rosandriyanto bersama Danramil setempat dan anggotanya membantu petani yang tanaman padinya kekeringan dengan cara pompanisasi. Namun, karena sumber air di saluran irigasi sangat terbatas, upaya itu tak membuahkan hasil maksimal.
Kadis Pertanian dan Perkebunan Aceh melalui Kabid Produksi Tanaman Padi, Mukhlis, kemarin, meninjau kegiatan tersebut. Dari 4.427,25 hektare tanaman padi di Aceh Besar yang sudah mulai mengalami kekeringan itu, jika dalam minggu ini tidak ada hujan, tanaman padi tersebut masih bisa hidup, tapi tidak berbuah. Karena usianya baru 50-60 hari, maka membutuhkan untuk menyelamatkannya agar bisa berbuah atau tidak kosong.
Di Aceh Besar, lanjutnya, banyak petani yang sudah mengasuransikan tanaman padinya. “Jadi, jika tanaman padinya puso, mereka akan mendapat pembayaran asuransi Rp 6 juta/hektare. Uang itu didapat dari hasil premi asuransi yang dibayar petani pada saat mau menanam padi Rp 36.000/hektare,” pungkasnya. (c43/bah/jaf/yus/ag/naz/her)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sawah-milik-petani-kekeringan-dikawasan-mane-kareung_20170728_100108.jpg)