Citizen Reporter

Jepang tak Pernah Melupakan Bencana

JEPANG negeri yang tidak pernah sepi dari bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan angin taifun yang kita sering menyebutnya topan

Jepang tak Pernah Melupakan Bencana
FAIZAL ADRIANSYAH MSi,

FAIZAL ADRIANSYAH MSi, Anggota Dewan Pakar Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Aceh, melaporkan dari Tokyo

JEPANG negeri yang tidak pernah sepi dari bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan angin taifun yang kita sering menyebutnya topan atau angin ribut.

Data bencana di Jepang memperlihatkan betapa negeri ini pantas disebut “Negeri Bencana Alam”. Bangsa Jepang tak pernah melupakan bencana atau menjadi bangsa “amnesia” terhadap bencana. Pesan Fisikawan Jepang Dr Torahiko Terada (1878-1935), “Tensai wa wasureta koro ni yatte kuru” (Bencana akan melanda pada saat orang sudah lupa hal tersebut). Karena itu, Jepang selalu menjadikan bencana sebagai pembelajaran untuk membentuk masyarakat tahan bencana. Mereka mewariskan kesadaran kepada generasi berikutnya bagaimana hidup berdampingan dengan bencana.

Saya hadir di Jepang membawa rombongan peserta Diklat Kepemimpinan Reformasi Birokrasi atau Reform Leader Academy (RLA) Angkatan XI yang dilaksanakan di Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur IV Lembaga Administrasi Negara, Aceh. Tema yang diusung dalam diklat RLA ini--sebagaimana pernah diberitakan Harian Serambi Indonesia--adalah “Membangun masyarakat tahan bencana”. Diklat ini diikuti 25 orang dari berbagai instansi teknis pusat dan daerah serta kepolisian yang terkait dengan penanganan pengurangan risiko bencana (PRB). Pimpinan rombongannya adalah Deputi Bidang Kajian Administrasi Negara LAN-RI, Dr M Taufiq DEA.

Jepang walaupun sering dilanda bencana alam yang kadang menelan korban jiwa ribuan serta kerusakan infrastruktur yang luar biasa dahsyatnya, namun pascabencana Jepang tetap bertahan stabil kehidupan lainnya, seperti infrastruktur transportasi yang tetap berjalan dan kehidupan sosial masyarakat berjalan kembali normal.

Tentu saja pada awal bencana, di tempat terjadinya bencana kegoncangan tetap terjadi. Namun, dipastikan proses pemulihannya berlangsung cepat, bahkan terkadang sangat cepat.

Bagi orang-orang beriman, kita diingatkan bahwa Allah akan menguji dengan berbagai ragam bentuk ujian (QS. Albaqarah ayat 153-157). Nah, bagaimana menyikapi ujian tersebut? Inilah yang harus diterjemahkan oleh kaum muslimin. Ingat bahwa Allah banyak sekali mengulang kata-kata apakah kamu tak memikirkannya, apakah kamu tidak berakal? Bahkan ayat yang pertama turun adalah perintah membaca “Iqra”. Tentu kita tidak hanya diperintahkan membaca apa yang tertulis, tetapi juga perintah membaca fenomena alam semesta. Semua kejadian pasti ada hikmah atau tujuan Allah memberikannya, tidak hanya dari sisi menguji kesabaran saja, tapi bagaimana merespons bencana tadi jadi pembelajaran dalam menjalani kehidupan. Respons terhadap hal inilah yang melahirkan ilmu manajemen kebencanaan. Bagaimana bencana dikelola, sehingga korban dan kehancuran infrastruktur bisa diminimalisir.

Bangsa Jepang patut dicontoh dalam hal mengelola bencana. Paradigma yang mereka bangun adalah “menyelamatkan hidup dan kehidupan”. Kalau hanya menyelamatkan hidup, ya cukup mengurangi korban jiwa saja. Tapi Jepang tidak hanya mengurangi korban jiwa, tapi mereka juga melakukan upaya bagaimana menyelamatkan kehidupan agar semua berjalan normal sekalipun bencana menerpa.

Setiap bencana membawa Jepang pada kesadaran untuk mengevaluasi apa yang harus mereka lakukan agar tiap kali terjadi bencana mereka bisa “tangguh”, lebih dari sekadar tanggap.

Dalam perjalanan sejarah bencana di Jepang ada beberapa tahapan yang mereka jadikan momen perubahan paradigma terhadap PRB, antara lain: Pertama, pascataifun Teluk Ise tahun 1959, Jepang mengubah pendekatan PRB dari respons ke pendekatan preventif, pendekatan individu ke komprehensif multisektor, investasi untuk pengurangan risiko bencana, membagi peran dan tanggung jawab antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota.

Kedua, pascagempa bumi Hanshin-Awaji/Kobe 1995. Saat itu gedung-gedung luluh lantak dan korban manusia 5.520 jiwa (83% akibat hancurnya gedung). Sejak itu, Jepang menjadikan PRB sebagai gerakan nasional untuk pendekatan multistakeholder dalam upaya PRB, pentingnya tindakan diri sendiri, tindakan bersama, dan tindakan publik. Jepang melakukan juga standardisasi bangunan berkekuatan tahan gempa 9 skala Richter. Seiring dengan itu muncul pula kesadaran konsumen dalam iklan surat kabar untuk hanya membeli rumah baru dengan konstruksi bangunan tahan gempa.

Ketiga, pascagempa bumi dan tsunami Meiji-Sanriku 11 Maret 2011, Jepang melakukan berbagai rekayasa struktur, penerapan teknologi terbaru dalam PRB seperti peringatan dini gempa bumi yang diketahui oleh penduduk 8,6 detik setelah gempa.

Sampai hari ini Jepang terus menyempurnakan kebijakan PRB-nya, maka pantaslah Jepang tempat kita belajar bencana, karena Jepang dan Indonesia seperti “saudara kembar” dalam hal kebencanaan. Dua negeri yang sama-sama berada pada zona cincin api (ring of fire). Jangan sampai kita menjadi bangsa yang melupakan bencana, karena hal itu akan menjadi bencana bagi anak cucu kita. Mari kita wariskan sejarah bencana untuk menjadikan anak cucu kita masyarakat yang tangguh terhadap bencana alam dalam arti sabar dan selalu siap siaga ketika bencana datang sebagai bagian dari ikhtiar.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved