Breaking News:

Mengenal Attaullah, Pemimpin Gerakan Arakan yang 'Membela Muslim Rohingya'

Kelompok ini terlibat bentrokan dengan militer Myanmar di negara bagian Rakhine dalam beberapa hari terakhir

Editor: Fatimah
AFP
Pengungsi Rohingya di perbatasan Bangladesh. 

SERAMBINEWS.COM - Attaullah Abu Ammar Jununi, komandan gerakan Tentara Pembebasan Arakan, Harakah al-Yaqin, kelompok yang disebut teroris oleh pemerintah Myanmar dan mengklaim membela Muslim Rohingya yang disebutnya 'tertindas.'

"Assalamualaikum, saya Attaullah Abu Ammar Jununi, komandan gerakan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), Tentara Pembebasan Arakan," kata Attaulah melalui video dalam akun Twitter kelompok itu yang diterbitkan Senin (28/08).

Kelompok ini terlibat bentrokan dengan militer Myanmar di negara bagian Rakhine dalam beberapa hari terakhir dengan korban meninggal lebih dari 100 orang.

Bentrokan itu terjadi menyusul serangan yang dinyatakan dilakukan oleh ARSA terhadap 30 kantor polisi dan tentara Jumat (25/08) lalu.

Ribuan Muslim Rohingnya dan warga sipil Buddha melarikan diri dari negara bagian Rakhine di Myanmar utara itu. Pemerintah melaporkan paling tidak 104 orang tewas, sebagian besar kelompok militan, dan 12 personil keamanan dan warga sipil.

Kekerasan yang terjadi ini menandai meningkatkan konflik sejak Oktober lalu, yang juga dilancarkan oleh kelompok Arakan pimpinan Attaullah.

Dalam keterangannya melalui video, Attaullah mengatakan mengapa kelompok itu melakukan penyerangan pada bulan Oktober 2016, yang ia sebutkan karena dugaan 'penindasan' dan 'kekejaman' yang dilakukan oleh pemerintah Burma dan rezim militer terhadap Rohingya.

"75 tahun telah berlalu dan berbagai kejahatan dilakukan terhadap Rohingnya yang bertahan... karena itulah kami melakukan serangan pada 9 Oktober 2016 untuk menegaskan bahwa bila kekerasan tak dihentikan kami berhak untuk membela," kata Attaullah dalam video yang sempat dilihat BBC Indonesia namun kemudian dihapus dari tautan.

Melalui akun Twitternya, kelompok ini juga menyatakan langkah yang mereka lakukan adalah langkah "sah untuk membela rakyat dunia yang dipersekusi dan membebaskan rakyat yang tertindas dari penindas."

Menanggapi unggahan video ini, sejumlah pengguna dari Myanmar antara lain menulis, "Rohingya bukan dari Myanmar" dan kelompok ARSA merupakan "teroris dari Bengali."

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved