Breaking News:

Cerpen; Pertemuan

Di atas tempat tidur ia tergeletak tanpa daya dalam rintih kesakitan yang panjang

Editor: bakri
Cerpen; Pertemuan

Lalu, kami pun tertawa berderai. Diam-diam, perubahanku itu pelan-pelan juga diikuti oleh beberapa kawanku yang semula badung itu.

Semua itu terjadi menjelang kami ujian akhir SMA. Hari-hari indah, penuh warna, canda-tawa, dan nostalgia dalam merajut cita-cita serta cinta sebentar lagi akan berakhir. Tidak lama lagi sekolah tercinta yang penuh kenangan itu akan kami tinggalkan.

Hari ujian akhir itu pun tiba juga. Kami pun dinyatakan lulus. Aku memutuskan untuk berkuliah ke Bandung. Zakiah bertolak ke Jakarta, ikut kakaknya. Kabarnya, ia ingin berkuliah juga pada program D-3. Itu pun belum pasti. Biaya masalahnya. Kakaknya di Jakarta pun hanya buruh pabrik. Ayahnya sudah tiada dan tidak memungkinkannya untuk berkuliah S-1. Kemudian, setahun belajar di Bandung, aku mendapat beasiswa untuk belajar ke Eropa. Sejak itu, aku tak pernah mendengar berita lagi tentangnya. Namun, di atas semua itu, gadis itu kukenal dengan baik tanggal lahir, ciri fisik, bahkan suaranya.

Bertahun-tahun berlalu sudah. Aku seolah-olah kehilangan informasi tentangnya. Sudah kucari ke mana-mana berita tentangnya, tetapi tetap nihil. Ia seolah ditelan bumi. Aku tidak tahu, mungkin inilah sihir cinta pertama, yang membuat orang tersedot ke dalam pesonanya, atau menjadi hamba cinta. Pesonanya telah menjeratku untuk bertamasya dalam imajinasi cinta, walaupun cintaku ketika itu bertepuk sebelah tangan. Cinta pertama tidak pernah berakhir, kata orang. Itu bisa jadi benar. Aku tidak tahu, tetapi aku telah merasakannya dan ada di bawah pengaruh sihirnya, sihir cinta, di bawah bayang-bayangnya.

Kini aku telah kembali ke tanah air dan bekerja di Jakarta. Sejujurnya, berpuluh tahun ini aku masih sering berdoa agar kelak Tuhan mempertemukan aku kembali dengan Zakiah. Aku begitu yakin, Ia mendengar doaku, tetapi hanya entah kapan Ia akan mengabulkannya.

Rasanya malu mengaku bahwa aku bahkan belum menikah pada usiaku yang sudah kepala empat dengan gelar doktor alumni Jerman yang kupunya. Menurut orang kampungku, aku ini “bujang lapuk”. Namun, bagiku - orang kampung yang tinggal di Jakarta dan belasan tahun hidup, berkuliah, dan bekerja di metropolitan Jerman, lalu kini menjadi eksekutif puncak perusahaan besar-hal seperti itu tidak masalah. Mojang Priangan ketika dulu aku belajar di Bandung, bahkan bule-bule cantik di Jerman, ternyata tidak mampu menawan hatiku. Kuakui seluruh jiwaku, bahkan di dalam relungnya yang terdalam, Zakiah telah mengisi semuanya. Bayangnya telah menyitanya, kecantikannya telah merampasnya, serta senyum dan takwanya telah menguasainya. Aku laksana seorang sufi: yang telah terbakar dalam Zakiah: Aku dalam Zakiah, Zakiah dalam aku. Kerinduan nan tak terperi itu bagai mendidih, menggelegak, bahkan sering membuatku menitikkan air mata, Dalam tahajudku dalam kekudusan dan rasa dingin yang menusuk di Aachen dan Frankfurt, Jerman, dulu sering aku melantunkan doa suci untuknya, melagukan kasidah cinta, menembangkan kidung-kidung kasih akan dia.

“Tuhan pertemukan aku dengannya. Zakiah, di manakah engkau berada..”

Air mata itu adalah saksi bahwa Zakiah adalah segalanya. Bahwa malaikat juga mungkin mengamininya.

2. Prahara Senja
Senja merambat turun di seputar Cakung, Jakarta Timur. Di ufuk senja mulai memerah, lambat-lambat gelap mulai jatuh. Lampu-lampu jalan dinyalakan. Sorot lampu-lampu kendaraan pun mulai menampakkan cahayanya. Aku mengendarai Pajero Sport-ku dalam kecepatan tinggi, melaju seperti kesetanan. Seperti ada kekuatan mahagaib membuatku terpaku mengejar waktu untuk suatu keperluan di Bekasi. Hari Minggu memungkinkan orang berlari kencang, tidak seperti pada hari-hari kerja, yang macetnya nauzubillah minzalik.

Peristiwa itu terjadi sangat cepat. Rem mobilku berderit nyaring. Namun, semua sudah terlambat: sebuah sepeda motor dan perempuan pengendaranya telah telanjur terjungkal jatuh setelah tersenggol bumper kiri mobilku. Ternyata, mobilku telah menabrak sepeda motor di simpang Cakung, dekat kawasan KBN Cakung. Aku kaget setengah mati. Motor Yamaha Mio merah itu terpental jatuh cukup jauh. Pengendaranya, perempuan berjilbab jingga, terpelanting jatuh berdebum dan merintih kesakitan. Kemudian, kulihat ia jatuh pingsan. Aku memberhentikan mobilku serta merta.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved