36.000 Bayi Rohingya Mengungsi ke Bangladesh
Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan konflik di Myanmar memicu timbulnya salah satu krisis pengungsi terbesar baru-baru ini.
SERAMBINEWS.COM, JENEWA - PBB pada Jumat (15/9/2017) memperingatkan "tidak ada indikasi penurunan pengungsi" setelah sekitar 400.000 Muslim Rohingya - termasuk 36.000 bayi - melarikan diri dari Myanmar dan masuk ke Bangladesh.
Negara-negara lainnya termasuk Turki dikabarkan mencoba segala upaya untuk membawa bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi tersebut.
"Tidak ada indikasi jumlah orang akan berkurang, selama kami di distrik Cox's Bazar masih melihat asap dari desa di Rakhine, Myanmar," kata Joel Millman dari Organisasi Migrasi Internasional di Jenewa.
"Pemerintah Bangladesh dan lainnya - termasuk Turki, Indonesia dan Malaysia - serta lembaga kemanusiaan berupaya keras membawa bantuan makanan, perlindungan, air, obat-obatan dan layanan lain yang dibutuhkan," tambah Millman.
(Baca: Rumah Rohingya Terus Dibakar)
Millman mengatakan pada Anadolu Agency negara-negara Muslim menjadi yang pertama yang menyediakan bantuan pada pengungsi di Bangladesh.
Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan konflik di Myanmar memicu timbulnya salah satu krisis pengungsi terbesar baru-baru ini.
Juru bicara UNICEF Marixie Mercado mengatakan 36.000 bayi-bayi Rohingya dibawah satu tahun dan 92.000 balita termasuk gelombang pengungsi di Bangladesh.
Sejak 25 Agustus hingga 400.000 telah melarikan diri dari Rakhine di Myanmar dan masuk ke Bangladesh, menurut PBB.
Para pengungsi menghadapi tindakan operasi keamanan di Myanmar yang menewaskan lelaki, perempuan dan anak-anak, serta aksi pembakaran dan penjarahan rumah milik Muslim Rohingya.(aa.com.tr)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rohingya_20170916_192237.jpg)