Sejarah G30S/PKI - Dua Versi Kematian DN Aidit, Pentolan PKI yang Pernah Ganti Nama
Karena dia sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) kala ini dianggap dalang dari penculikan dan pembunuh para jenderal.
SERAMBINEWS.COM - Masyarakat Indonesia dari berbagai kota dan desa sangat antusias menyaktikan film pengkhianatan G30S/PKI.
Ramainya warga dan banyaknya digelar tempat nonton bareng tak terlepas dari seruan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo.
Meski ada pihak yang mengkritik seruan jenderal bintang empat ini, tapi banyak juga tokoh dan masyarakat yang mendukungnya.
Ini dibuktikan dengan ramainya masyarakat yang menghadiri nonton bareng dan banyaknya digelar nonton bareng.
Baca: Sejarah G30S/PKI - Sepak Terjang Letkol Untung, Tokoh Kunci Gestapu
Apalagi film legendaris tersebut turut tayang di stasiun TV nasional, yaitu TV One, Jumat (29/9/2017) malam.
Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit menjadi tokoh yang paling diingat publik tiap memasuki bulan September.
Karena dia sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) kala ini dianggap dalang dari penculikan dan pembunuh para jenderal.
Termasuk kiprah partai yang dipimpinnya serta underbownya terlibat dalam serangkai kekerasan terhadap ulama dan rakyat yang menentang partai PKI.
Lalu siapa DN Aidit yang sempat mengganti nama kecilnya hingga menjadi pentolan PKI.
Baca: VIDEO: Sejarah G30S/PKI – Melihat Lokasi Ade Irma Suryani Ditembak dari Jarak Dekat
Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Belitung, dan dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya.
Pada masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda.
Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung.
Keluarga Aidit berasal-usul dari Maninjau, Agam, Sumatera Barat.
Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit.
Baca: Sejarah G30S/PKI – Nanti Malam, Ada Nonton Bareng Film Pengkhianatan PKI di Kantor KNPI Aceh
Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.
Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat.
Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool").
Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia).
Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin.
Baca: Sejarah G30S/PKI - Kisah Sukitman, Polisi yang Lolos dari Lubang Buaya
Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta.
Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.
Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern).
Aidit menunjukkan dukungan terhadap paham Marhaenisme Sukarno.
Ia membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan.
Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua.
Baca: Fraksi PKS Gelar Nonton Bareng Film G30S/PKI dan Galang Dana untuk Rohingya
Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan Tiongkok.
Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.
Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan.
Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer.
Berakhirnya sistem parlementer pada tahun 1957 semakin meningkatkan peranan PKI, karena kekuatan ekstra-parlementer mereka.
Ditambah lagi karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.
Baca: Ribuan Warga dan Kader Golkar Nonton Bareng Film G30S/PKI di Langsa
Pada 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan.
Bahkan pada tanggal 30 September 1965 terjadilah tragedi nasional.
Dimulai di Jakarta dengan diculik dan dibunuhnya enam orang jenderal dan seorang perwira. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa G-30-S.
Ada beberapa versi tentang kematian DN Aidit ini.
Menurut versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah.
Lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali.
Baca: Panglima TNI Perintahkan Pemutaran Film G30S/PKI, Ini Alasannya
Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ.
Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum "diberesi".
Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api.
Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka.
Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati.
Versi yang lain mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan.
Baca: Tahukan Anda Sosok di Balik Penghentian Tayangan Film G30S/PKI?
Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.
Selain kematiannya, kelahiran Aidit pun bermacam-macam versi. Beberapa mengatakan Aidit kelahiran Medan, 30 Juli 1923 dengan nama lengkap Dja'far Nawi Aidit.
Keluarga Aidit konon berasal dari Maninjau, Sumatera Barat yang pergi merantau ke Belitung. Namun banyak masyarakat Maninjau tidak pernah mengetahui dan mengakui hal itu.
Nama DN Aidit terus diingat dari generasi ke generasi lewat kiprah PKI yang pernah dibiarkan hidup di zaman Orde Lama.
Baca: Ratusan Warga Lhokseumawe Nobar Film G-30 S/PKI di Warung Kopi Simpang Buloh
Film kebiadaban PKI sempat tak di putar lagi setelah reformasi.
Tapi Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo yang melihat situasi dan kondisi bangsa belakang ini, memandang perlu untuk diputar kembali film tersebut.
Rakyat, ormas dan parpol pun ikut menggelar nobar film yang melegenda tersebut.
Tujuanya untuk mengingat sejarah pengkhianatan PKI dalam sejarah kelam republik ini. (wikipedia dan berbagai sumber)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dn-aidit_20170930_133602.jpg)