Citizen Reporter

Belajar dari Para Penerima Nobel

BEBERAPA hari lalu XXIII World Congress of Neurology (WCN) diselenggarakan di Kyoto

Belajar dari Para Penerima Nobel

OLEH Dr MIRA ARIANTI HASYIM, Residen Neurologi FK USU / RSUP H. Adam Malik, Medan, PNS pada RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan, melaporkan dari Kyoto, Jepang

BEBERAPA hari lalu XXIII World Congress of Neurology (WCN) diselenggarakan di Kyoto, Jepang. Atas izin Allah, saya berkesempatan menjadi bagian dari even berskala internasional ini. Kesempatan tersebut terasa makin istimewa karena beberapa bulan sebelumnya saya juga turut hadir pada Mukernas Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia di Yogyakarta yang merupakan Sister City-nya Kyoto.

Kalau boleh diibaratkan, Kyoto adalah Yogyakartanya Jepang, sebuah kota yang sarat dengan situs sejarah dan warisan budaya.

Berpartisipasi pada dua even besar dan harus mempresentasikan dua penelitian berbeda dalam waktu yang berdekatan tentunya sangat menguras energi. Tapi alhamdulillah, saya syukuri semua itu sebagai berkah dari Allah. Kesempatan tak datang dua kali, bukan?

WCN merupakan kongres dua tahunan yang telah dilaksanakan sebanyak 23 kali, terhitung sejak WCN pertama di Bern, Swiss, pada tahun 1931 yang kala itu masih disebut International Neurological Congresses (INC).

Sepanjang sejarah pelaksanaannya Jepang sudah dua kali menjadi tuan rumah, yakni pada tahun 2017 (XXIII WCN) dan 1981 (XII WCN). Belakangan, setelah merasakan sendiri “kesigapan” panitia, saya sama sekali tak heran mengapa Jepang pantas menjadi tuan rumah (lagi) pada perhelatan level dunia ini.

Keistimewaan sebagai WCN participant sudah terasa sejak menginjakkan kaki di Kansai Internasional Airport. Saat menjalani pemeriksaan imigrasi, baik dokumen perjalanan maupun barang bawaan, saya tidak merasakan kesulitan berarti ataupun proses pemeriksaan yang bertele-tele. Para petugas menyambut dengan ramah saat mengetahui maksud kedatangan saya, “Oooh, WCN Kyoto?!” sambil mengangguk setengah menunduk. Padahal, awalnya saya cukup waswas dengan bawaan berupa satu koper penuh berisi beras, rendang, sambal teri kacang tempe, bumbu pecal, sebotol kecap, dan sambal yang total beratnya hampir 10 kg.

Maklum, even boleh internasional, tapi untuk urusan selera makan, saya pilih yang nasional sajalah. Begitu pula di subway station, stasiun kereta bawah tanah, transportasi yang saya gunakan selama di Kyoto, petugas seolah tak mengizinkan saya kebingungan terlalu lama saat ingin membeli tiket dan mencari line atau jalur subway yang harus saya naiki. Mereka dengan senang hati membantu sampai benar-benar yakin bahwa si “tamu jauh” ini sudah paham, mengingat sebagian besar papan informasi menggunakan bahasa Jepang.

WCN 2017 dilaksanakan terpusat di Kyoto International Conference Center sejak 16 hingga 21 September, dengan tema “Defining the Future of Neurology”. Melalui ajang ini para ilmuwan terkemuka, pakar kesehatan masyarakat, serta pembuat kebijakan dari seluruh dunia dipertemukan untuk menerjemahkan kemajuan ilmiah penting saat ini ke dalam tindakan berarti. Lebih dari 300 pakar dari seluruh dunia hadir sebagai pemateri. Di antaranya adalah tiga orang penerima hadiah Nobel di bidang kedokteran, yaitu Prof Edvard Moser (2014/Norwegia), Prof Shinya Yamanaka (2012/Jepang), dan Prof Susumu Tonegawa (1987/Jepang). Berbagai topik penting dan terkini dibahas, seperti ketersediaan layanan neurologis di seluruh dunia, parkinson, multiple sclerosis, stroke, epilepsi, gangguan neuromuskular, nyeri kepala, neurologi lingkungan, zika, terapi gen, perawatan paliatif, serta kemajuan neuroimaging.
Tercatat lebih dari 8.000 partisipan yang berasal dari 119 negara hadir. Indonesia dilaporkan sebagai negara dengan partisipan terbanyak kedua, yakni 268 orang, melampaui Amerika Serikat (198), Korea Selatan (196), dan India (205). Partisipan terbanyak tentunya berasal dari tuan rumah Jepang, yakni 4.894 orang.
Bagi saya pribadi, terselip kebahagiaan karena penelitian saya tentang stroke iskemik yang berjudul “Elevated Lipoprotein (a) and Triglyceride Level Predict Deep Vein Thrombosis in Acute Ischemic Stroke Patients” dianggap layak untuk dipresentasikan dan ternyata cukup menarik perhatian peserta lainnya.

Kebahagiaan ini tentunya akan semakin lengkap jika pengetahuan yang saya peroleh bermanfaat dan dapat saya terapkan di tempat saya bertugas nantinya.

Pada saat closing ceremony, panitia secara resmi mengundang dan mempromosikan pelaksanaan XXIV WCN 2019 di Dubai. Semoga Allah memberikan kesempatan bagi saya dan teman sejawat bertemu di sana. Sampai jumpa di Dubai.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved