Guru dan Santri Tinggalkan Pesantren

Guru dan santri meninggalkan Pesantren Modern Terpadu Syekh Abdurruf As-Singkili yang terletak

SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Ustaz Hendri Irawan (dua kanan) guru Pesantren Terpadu Syekh Abdurrauf Asingkili, mengadu ke Polres Aceh Singkil, Kamis (28/9/2017). 

* Setelah Insiden Orang Tua Santri Keroyok Guru

SINGKIL - Guru dan santri meninggalkan Pesantren Modern Terpadu Syekh Abdurruf As-Singkili yang terletak di Lae Petal, Kecamtan Suro, Kabupaten Aceh Singkil. Tindakan ini dipicu karena santri dan guru merasa tidak aman pasca insiden pengeroyokan Hendri Irawan, seorang guru pesantren tersebut oleh oknum orang tua santri, Rabu (27/9) lalu.

“Kami sangat kecewa anak-anak dirugikan. Maunya pemerintah harus bersikap segera. Yang saya takutkan pesantren itu bubar, kemudian tidak ada lagi yang mau belajar dan mengajar di sana,” kata Ketua PGRI Aceh Singkil Najur pada Serambi kemarin.

Sementara itu Direktur Pesantren Modern Terpadu Syekh Abdurruf As-Singkili Andri membenarkan guru dan santri pulang. Pihaknya sudah mengambil keputusan meliburkan proses belajar mengajar santri sampai 4 Oktober mendatang. “Hari Sabtu kemarin semua ustaz dan ustazah pulang. Tapi tidak tahu entah sudah ada ustaz balik ke pesantren,” kata Andri.

Menurutnya penyebab utama pihak pesantren meliburkan aktivitas santri lantaran guru merasa tidak aman mengingat permasalahan pemukulan terhadap guru oleh orang tua siswa belum selesai. “Penyebab utama (diliburkan) ustaz dan ustazah merasa tidak aman dan nyaman. Tidak mungkin kami di situ (pesantren) sementara keadaan masih rawan,” ujar Andri.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya Hendri Irawan, guru Pesantren Modern Terpadu Syekh Abdurruf As-Singkili dikeroyok oknum salah satu orang tua santri. Hendri didampingi direktur pesantren Andri dan pengurus PGRI Aceh Singkil melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya ke Polres, Kamis (28/9).

Pihak terlapor yakni KP, oknum orang tua santri bernama DM. Sementara itu pascainsiden tersebut santri memilih mogok belajar sebagai bentuk simpati terhadap gurunya.

Sekjen PGRI Pusat Dr Mohd Qudrad Nugraha menyesalkan terjadinya kasus kekerasan terhadap guru yang dilakukan oknum orang tua santri di Pesantren Modern Terpadu Syekh Abdurruf As-Singkili. PGRI meminta pihak Polres mengusut tuntas kasus tersebut.

“Kekerasan terhadap guru tidak boleh terjadi. Kami mendukung Polres Aceh Singkil mengusut tuntas kasus ini agar tidak terulang lagi kejadian serupa. Ini sesuai dengan MoU antara PGRI dengan Kapolri yang ditandatangani sebulan lalu bahwa guru harus mendapat perlindungan,” kata Nugraha melalui sambungan telepon seluler kepada Serambi kemarin.

Dr Mohd Qudrad Nugraha juga menyesalkan sikap Pemkab Aceh Singkil yang lamban menangani kasus itu sehingga memicu terhentinya proses belajar mengajar. “Pendidikan tanpa dukungan semua pihak sulit maju. Kami meminta Pemerintah Aceh Singkil segera bertindak,” tegasnya.

Ketua PGRI Aceh terpilih dalam Konferja III PGRI di Lhokseumawe Drs Abd Syukur melalui keterangan tertulis kepada Serambi meminta proses belajar mengajar di Pesantren Modern Terpadu Syekh Abdurruf As-Singkili kembali berjalan seperti biasa. “Percayakan penyelesaian masalah ini sepenuhnya kepada kepolisian,” katanya. (de)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved