Pembangunan Runway Terkendala Lahan

Pengembangan Bandar Udara (Bandara) Cut Nyak Dhien Nagan Raya terhenti sejak beberapa tahun

Pembangunan Runway Terkendala Lahan
Penumpang turun dari pesawat Wings Air di Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya, Kubang Gajah, Kecamatan Kuala Pesisir SERAMBI/DEDI ISKANDAR 

SUKA MAKMUE- Pengembangan Bandar Udara (Bandara) Cut Nyak Dhien Nagan Raya terhenti sejak beberapa tahun lalu. Penyebabnya, pembebasan lahan yang tak kunjung berhasil dilakukan oleh Pemkab Nagan raya.

Akibat tak tersedia lahan, pengembangan pembangunan landasan dan sejumlah penambahan sarana di bandara tersebut tak bisa dilakukan. “Rencana perpanjangan landasan pacu ini masih terkendala lahan, sehingga belum bisa dilakukan,” kata Rusman selaku Kasi Pelayanan dan Kerja Sama Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya, menjawab Serambi, Rabu (4/10) siang.

Menurutnya, selama ini landasan pacu yang dimiliki bandara kelas II tersebut mencapai 1.800 meter dan hanya bisa didarati pesawat jenis ATR dengan kapasitas penumpang sebanyak 70-72 orang saja.

Padahal, apabila landasan pacu bisa ditambah sepanjang 700 meter lagi, maka jumlah panjang runway mencapai 2.500 meter. Dengan jalan untuk take off pesawat dan landing sepanjang itu, Bandara ini bisa didarati pesawat berbadan lebar seperti boeing.

Rusman juga menambahkan, akibat belum tersedianya lahan, rencana usulan perpanjangan landasan pacu bandara setempat juga belum bisa diusulkan ke Kementerian Perhubungan RI di Jakarta.

Pasalnya, salah satu syarat utama untuk mengusulkan penambahan perpanjangan landasan termasuk penambahan sejumlah fasilitas bandara, yakni tersedianya lahan di sekitar bandara.

“Kita berharap program pembebasan lahan yang sebelumnya telah digagas Pemkab Nagan Raya dapat dilanjutkan, sehingga usulan penambahan landasan pacu bisa dilakukan,” harapnya.

Seorang warga Nagan Raya Mahmud kepada Serambi mengatakan, dirinya berharap Pemkab lebih proaktif lagi, sehingga Bandara Cut Nyak Dhien bisa lebih berkembang. “Kalau bisa didarati pesawat besar, menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Nagan. Bandaranya akan lebi ramai lagi, masyarakat pun akan lebih banyak membawa keuntungan,” tuturnya.

Rusman juga menambahkan, selama ini dampak dari belum tuntasnya pembebasan lahan di sekitar Bandara, pilot juga sering mengeluh atas keberadaan sejumlah pohon kelapa di sekitar landasan pacu.

Menurutnya, tingginya pohon yang berada di perkebunan milik warga tersebut menjadi salah satu kendala saat akan didarati oleh pesawat.

Selain itu, pengawasan terhadap kompleks Bandara juga selama ini belum bisa dilakukan secara maksimal, karena bandara ini seharusnya memiliki jalan tersendiri untuk melakukan pengawasan landasan pacu dan kompleks bandara dari gangguan hewan termasuk ternak.

“Kalau sudah ada lahan, kita juga berencana membangun gedung ATC (Air Traffict Control) yang baru, sehingga lebih memaksmalkan pelayanan penerbangan pesawat udara,” katanya.(edi)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved