Opini

Khazanah Matematika

SUDAH sejak lama, masyarakat di berbagai belahan bumi secara tak langsung menerapkan matematika

Khazanah Matematika
Abbas Ibn Firnas, matematikawan, astronom, fisikawan, dan ahli penerbangan Muslim dari abad ke-9, 

Oleh Salmawaty Arif

SUDAH sejak lama, masyarakat di berbagai belahan bumi secara tak langsung menerapkan matematika dalam kegiatan mereka sehari-hari. Misalnya di Banda Aceh, sejak lama masyarakat telah membangun masjid, pasar, perumahan, sekolah, mencetak sawah, menggali saluran air, dan sebagainya yang melibatkan pengetahuan tentang ukuran, ruang dan bentuk.

Dari cerita sejarah kita mengenal keahlian sebagian warga kota ini dalam membuat meriam yang memerlukan ketepatan perhitungan dan besarannya. Begitu pula para pandai besi, tukang kayu, pengukir batu, sampai pengrajin perhiasan emas dan perak yang selalu memerhatikan ketelitian dan keseimbangan produknya. Juga penganyam tikar dan berbagai anyaman, bordir, kasab dan aneka kerajinan yang selalu bergelut dengan motif-motif simetri.

Selain kegiatan dengan obyek berupa benda, beragam kegiatan sosial budaya masyarakat juga melibatkan matematika. Misalnya perdagangan selalu melakukan hitungan, baik dalam ekonomi konvensional maupun syari’ah. Pertanian memerlukan pengetahuan tentang musim dan satuan ukuran. Tarian melakukan gerakan teratur mengikuti suatu pola. Bahkan ibadah khusus yaitu shalat, puasa, zakat dan haji sarat dengan matematika karena melibatkan perhitungan arah, waktu, bilangan, dan besaran. Matematika mendapat tempat khusus bagi muslim, karena cocok dengan karakter pemikiran Islam tentang keesaan dan abstraksi. Bagi muslim, matematika bukan dianggap sekuler, tapi merupakan alat untuk mencapai dunia pengetahuan berdasarkan hal-hal yang dirasakan (Mohamed, 2000).

Contoh-contoh tersebut dijalani dengan penuh pemahaman, penghayatan, keterampilan dan keahlian. Pandangan positif seperti inilah sebenarnya yang diperlukan dalam matematika, bertolak belakang dengan pandangan umum masyarakat terhadap kata matematika yang seringkali dianggap hanya ada di bangku sekolah, formal, sukar, kaku, tersimpan di dalam buku-buku yang tidak diketahui makna dan manfaatnya.

Fungsi matematika
Selanjutnya matematika dinilai hanya berperan dalam pendidikan, khususnya hanya perlu dipelajari agar lulus ujian. Padahal tanpa disadari, aktivitas kita selalu bersentuhan dengan matematika, dan kita pun cukup menguasai berbagai metodenya. Seringkali pula matematika dikonotasikan dengan kecepatan menghitung angka-angka, layaknya kalkulator. Pada kenyataannya, kecepatan perhitungan angka bukan merupakan prioritas utama dalam matematika, melainkan pada pemahaman terhadap berbagai fenomena.

Para ahli memberikan pandangan berbeda terhadap arti matematika, namun semua arti tersebut justru memperluas pengertian tentang ilmu itu sendiri. Sebagian ahli mengartikan matematika sebagai ilmu pengetahuan tentang ruang, besaran, struktur, dan perubahan. Filsuf muslim Ibnu Khaldun memandang matematika dan logika sebagai bahan untuk mendukung memahami Islam.

Dengan memanfaatkan keunikan budaya dan kondisinya, kreativitas matematika generasi muda Banda Aceh dapat dibangkitkan melalui dua arah, yaitu penggalian kembali sejarah ilmu pengetahuan yang telah tertanam, dan kearifan dalam mempelajari kondisi alam kota ini. Kedua hal ini bertujuan untuk melahirkan inovasi, yang mensyaratkan adanya kemampuan dan penguasaan sains dasar matematika.

Institusi pendidikan tinggi telah berdiri di Banda Aceh sejak awal abad ke-16, yaitu saat Sultan Ali Mughayatsyah (1511-1530) memimpin Kerajaan Aceh Darussalam dengan mendirikan Jami’al-Bayt al-Rahman (Universitas Baiturrahman) segera setelah beliau menjadi raja. Setidaknya 3 dari 17 fakultasnya berhubungan dengan matematika, yaitu Daar al-Hisaab, Daar al-Aqli, dan Daar Khazaanah Bait al-Maal.

Dalam manuskrip berjudul Kitab Tazkirat al-Tabaqat Qanun Syara’ Kerajaan Aceh oleh Syekh Syamsulbahri, kewajiban rakyat Aceh dinyatakan sebagai pohon kerajaanatau dasar pemerintahan, terdiri atas 21 bab. Bab 4 menyebutkan bahwa kewajiban rakyat Aceh adalah untuk mengajar dan belajar menjadi pandai emas, pandaibesidan tembaga dengan ukiran bunga-bungaan. Bab 14 menyebutkan untuk mengajar ukiran kayu dan batu dengan tulisan dan bunga-bungaan menggunakan pasir, tanah liat, batubata, batukoral, dan pelapisannya (Alfian, 2005).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved