Memori Manahan
AGUSTUS 2006, Persiraja memulai perjuangan untuk kembali promosi ke divisi utama, sebagai runner-up Wilayah Barat
AGUSTUS 2006, Persiraja memulai perjuangan untuk kembali promosi ke divisi utama. Sebagai runner-up Wilayah Barat divisi I, Lantak Laju harus terbang ke Solo, Jawa Tengah. Di sana Dicky Anggriawan, Abdul Musawir, Khalidan, Tarmizi Rasyid, plus Munawar sudah ditunggu oleh tuan rumah Persis Solo, Persikabo Bogor, dan Perseman Manokwari.
Di partai pertama, Persiraja sukses menggebuk Perseman 2-1. Dua gol dari Alvin Kien, dan tendangan bebas nan indah oleh Robson di menit akhir, sudah cukup untuk mengamankan tiga poin. Jika mau jujur, dua gol Abdul Musawir saat itu dianulir wasit.
Kemenangan awal ini menjadi modal berharga bagi Adriansyah, Saiful Imran, dan Wahyudi. Di pertandingan kedua, ujian Lantak Laju benar-benar terjadi. Mereka harus menghadapi Laskar Samber Nyawa—julukan Persis—. Sekali lagi, meski mendapat teror sepanjang 90 menit, tim Persiraja mampu tampil spartan. 9 menit usia tarung, tandukan Alvian Kie memanfaatkan sepak pojok Antonio Teles membungkam Pasoepati dan pendukung tuan rumah.
Tapi, kemenangan di depan mata menjadi sia-sia. Saat duel memasuki menit 87, wasit asal Jawa Timur, Jumadi Effendi memberi penalti menyusul diving pemain tuan rumah. Meski diprotes habishabisan dan berujung dengan keributan, Jumadi tetapkukuh dengan keputusan itu. Akhirnya, eksekusi penalti mampu dijalankan secara sempurna. Apakah itu sudah selesai? Ternyata itu belum tuntas.
Usai pertandingan, pemain Persiraja terkurung hampir satu jam di tengah lapangan. Akhirnya, tiket promosi kedivisi utama diperoleh ketika menang 2-1 atas Persikabo Bogor. Kendati bermain dengan10 pemain, Lantak Laju menang berkat dwigol Musawir.Sayangnya, kemenangan itu tak membawa Persiraja olos ke final di Stadion Brawijaya, Kediri. Kendati sama -sama mengantongi nilai 7, Persiraja kalah agregat gol dengan tuan rumah.
Promosi ini disambut gembira oleh Persiraja. Selama enam musim, tim Lantak Laju sudah mendatangkan sejumlah pelatih kawakan. Ialah nama Parlin Siagian, Ipong Silalahi, serta mantan juru latih timnas Pra-Piala Dunia 1986, SinyoeAliandoe. Namun, kehadiran mereka tak bisa membawa Persiraja untuk kembali ke divisi utama.
Akhirnya, tiket kembali ke divisi utama datang dari sentuhantangan dingin pelatih lokal, Anwar. Kala itu, Anwar hanya bermodalkan Lisensi C Nasional. Bahkan, dengansertifikat produk PSSI tersebut, mantan striker Persiraja berhasil mengantarkan PSAP Sigli promosi ke divisi utama setahun kemudian. Boleh jadi, hingga saat ini, cuma Anwar satu-satunya pelatih di Aceh yang berhasil membawadua klub berbeda promosi ke divisi utama. Kini, setelah 11 tahun berlalu, Anwar harus datang kembali menuju Stadion Manahan.
Kali ini, situasinya memang berbeda. Ia dituntut untuk menyelamatkan Persiraja dari jurang degradasi keDivisi 3. Di mana Lantak Laju harus berlaga di babak play off menyusul kegagalan lolos ke babak 16 besar. Bergabung di Grup Ebersama Persika Kerawang, Persepam MU Pamekasan dan tim unggulan, Celebest FC Palu. “Saat mengetahui drawing kita kembali ke Manahan, saya begitu nyaman. Nada keyakinan terhadap tim dan pemain langsungtumbuh.
Alhamdulillah, kerja keras kita, sukses membawa Persiraja untuk tetap bertahan di Liga 2,” ungkap ayah tiga anak ini. Keyakinan itu, lanjut Anwar, semakin tinggi ketika menyaksikan anak -anakbermain habis-habisan melawan Persepam, dan Persika. Hanya saja mereka tampil di bawah form saat melawan Celebest karena harus menang. Pastinya Stadion Manahan akan menjadi saksi bagi perjalanan karier kepelatihan dari Anwar. Tentunya sulit buat melupakanmemori Manahan.
Dua klub dibawa promosi ke divisi utama, satu tim diantar promosi ke Liga Super Indonesia (ISL) menyusul keberhasilan lolos ke babak perempatfinal, satu gelar Piala Gubernur, plus juara POR Bank sudah cukup untuk membuktikan kemampuannya. Itulah sosok Anwar. Mantan striker Persiraja yang akhirnya banting setir menjadi pelatih.
Karena itu, dia banyak belajar dari Parlin Siagian, Ipong Silalahi, dan Sinyoe Aliando. Akhirnya,usaha keras itu membuahkan hasil saat membawa Persiraja, dan PSAP Sigli untuk promosi ke divisi utama. Walaupun memegang LisensiA Nasional produk dari PSSI, Anwar tetap berusaha untuk menyelamatkan Persiraja dari ganasnya kompetisiLiga 2 kali ini.
Dari 61 kesebelasan yang berlaga, hanya 21 tim saja yang akan bertahan. So pasti, perjuangan untuk bertahan memang berat, sulit, dan penuh bantangan. Usai babak play-off digelar di empat kota, Anwar boleh tersenyum gembira. Ya, dengan sertifikat produk PSSI, dia berhasil membawa Lantak Laju bertahan. Karena, empat pelatih lain berlisensi AFC. Adalah Suimin Diharja (Persika Kerawang/ A AFC), Uston Nawawi (PSIR Rembang/B AFC), Mustofa Ajie (Perserang Serang/B AFC), dan terakhir Erwan Hendarwanto (PSIM Jogya/C AFC).
Memang menarik, walaupun dengan lisensi berbeda,ternyata Anwar tak kalah kemampuan dengan yang dikeluarkan oleh AFC. Sepanjang karier melatih, Anwar bolehlah berbangga karena tak pernah gagal. Ternyata dalam meracik sebuah tim yang dibutuhkan skill dan pengalaman. Dan itu sudah dibuktikan dalam musim ini.(ran)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/anwar_20171018_101000.jpg)