Citizen Reporter
Kecintaan Warga Tiongkok pada Produk Lokal
DI Tiongkok, barang kebutuhan hidup berlimpah ruah. Setiap hari berbagai jenis barang diangkut dari truk
OLEH FAUZAN MUTTAQIN, alumnus Fakultas Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala serta Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Wuhan, Cina
DI Tiongkok, barang kebutuhan hidup berlimpah ruah. Setiap hari berbagai jenis barang diangkut dari truk, kereta api, kapal, hingga pesawat terbang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari warga Tiongkok. Setiap hari pula barang-barang terjual di toko kelontong, supermarket, mal, hingga online shop. Hebatnya, barang yang terjual itu cukup laris dan sebagian besarnya produk lokal.
Bagaimanakah dengan barang impor? Ada, tetapi tidak banyak. Perilaku warga Tiongkok yang mencintai produk lokal dikarenakan anjuran pemerintah mereka agar perekonomian terus berputar di Tiongkok sehingga negaranya maju dan tidak tergantung pada luar.
Tak beda jauh dari Indonesia, Tiongkok juga memiliki tanah yang subur yang dapat ditanami berbagai macam tumbuhan. Hasil yang diperoleh dapat diolah menjadi bahan pokok dan barang yang bermanfaat lainnya. Pengolahan terhadap bahan makanan pokok diolah dengan sangat baik dan serius sehingga hasil yang tercapai sangat memuaskan konsumen. Tak heran, sayuran dan buah hasil panen mereka cukup besar, enak, dan segar. Barang di pasar terus berganti setiap hari, para penjual pun tidak mau kehilangan pembeli dan ingin menjual hasil yang segar saja. Hal ini membuat warga Tiongkok sangat mencintai produk hasil buminya sendiri.
Barang tekstil merupakan salah satu produksi terbesar di Tiongkok. Bahan tersebut laku di pasaran maupun online. Secara umum, produk yang dihasilkan cukup baik dan tergolong murah dibanding produk luar. Dengan penduduk Tiongkok yang banyak maka sejalan dengan produksi barang-barang lokal yang melesat tajam. Tak heran semua barang ialah buatan mereka. Malah warga Tiongkok sangat senang berganti produk untuk mengikuti fashion dan tren masyarakat. Terkadang, pada waktu atau even tertentu para pembeli di sini menawarkan harga miring hingga cuci gudang. Kesempatan emas ini sangat ditunggu-tunggu dan digunakan secara baik oleh warga Tiongkok.
Harga barang antarkota di wilayah Tiongkok selisihnya tak beda jauh. Untuk kota-kota besar dan kota pelabuhan, produk lokal dijual dengan sangat murah untuk jumlah yang banyak. Singkatnya, semakin jauh suatu kota dari laut maka harga kebutuhannya semakin mahal.
Tren belanja online kini merebak di seluruh wilayah Tiongkok. Perusahaan Alibaba dengan aplikasi situs jual beli terkenalnya, yaitu Taobao memudahkan warga Tiongkok untuk berbelanja kebutuhan mereka. Dengan aplikasi berbahasa Mandarin ini, kita dapat mengetahui barang murah, diskon, bonus, atas belanja yang dilakukan. Barang lokal yang dijual selain murah kualitasnya tak kalah baik.
Uniknya, pada tanggal 11 November setiap tahunnya penjual menjual barang mereka dengan harga yang sangat murah. Dengan demikian, perusahaan Alibaba meraup keuntungan yang sangat banyak karena penjualan dari aplikasi Taobao melesat tajam dibandingkan hari-hari biasa. Tercatat transaksi yang dilakukan selama 24 jam tersebut mencapai lebih dari 2 miliar dolar.
Kecintaan Tiongkok terhadap produk lokal selain mendapat dukungan pemerintah juga didukung oleh penjual dan pembeli. Penjual memproduksi barangnya dengan buatan sendiri sehingga harga barang dapat ditekan. Mengenai kualitas, produk mereka sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, warga di sini jarang yang menganggur dan lebih suka untuk membangun usaha sendiri. Produk lokal terus menjadi sasaran utama bagi pembeli muda dan tua sehingga mereka pun menjadi lebih gemar belanja. Mereka dengan bangganya memakainya di mana-mana.
Oleh karena itu, budayakan warga kita agar turut mencintai produk lokal sehingga perekomomian semakin membaik di masa mendatang. Dari kita, untuk kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/fauzan-muttaqin-3_20171022_065111.jpg)