Opini

Pemuda dan Stabilitas Negara

UCAPAN fenomenal Presiden RI pertama di atas, mengandung makna bahwa di balik jati diri pemuda tersimpan

Pemuda dan Stabilitas Negara
SERAMBI/BEDU SAINI
Pasukan Raider dari Yonif 112/Dharma Jaya Kodam Iskandar Muda mengarak para pelatih usai upacara penutupan latihan Raider di pinggir pantai Kuala Gigieng, Desa Lambada Lhok, Baitussalam, Aceh Besar, Jumat (13/12/2013). Latihan tersebut untuk meningkatkan kemampuan tehnis dan taktis prajurit dalam memperkuat mengatasi berbagai ancaman yang mengganggu stabilitas keamanan nasional khususnya di Aceh. SERAMBI/BEDU SAINI

Oleh Zulfata

“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Ir. Soekarno)

UCAPAN fenomenal Presiden RI pertama di atas, mengandung makna bahwa di balik jati diri pemuda tersimpan kekuatan besar dalam membangun gerakan perubahan bangsa. Pemuda merupakan aset paling berharga yang dimiliki negara. Tanpa peran pemuda, mustahil terbentuknya suatu negara. Melalui momen peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017, kajian ini mencoba fokus untuk menarasikan tanggung jawab pemuda dan mempertegas peran serta fungsi pemuda dalam menjaga stabilitas negara.

Berdasarkan studi ketahanan negara, stabilitas negara diartikan sebagai arah perkembangan suatu bangsa. Negara yang berkembang menuju kemajuan disebut sebagai negara yang stabil, dan negara yang stagnan disebut pula negara yang tidak stabil. Fakta sejarah telah membuktikan bahwa pelopor utama membangun negara yang berdaulat terletak di tangan para pemuda. Dalam konteks Indonesia, peran pemuda telah mampu meningkatkan perkembagan negara dari masa prakemerdekaan, Orde Lama dan Orde Baru hingga era demokrasi. Sungguh tidak dapat dipungkiri kekuatan para pemuda dalam menjaga stabilitas NKRI.

Sebutan pemuda tidak hanya diartikan sebagai seorang laki-laki atau yang identik dengan kaum Adam. Tetapi, sebutan pemuda juga berarti para pemudi bangsa Indonesia. Singkatnya, pemuda adalah sekumpulan putra-putri Indonesia yang memiliki batas umur di antara 16-30 tahun, hal ini sesuai dengan UU No.40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. Tanpa larut dengan definisi dan ciri-ciri kepemudaan. Peran pemuda secara tidak langsung sangat mempengaruhi pola interaksi dan pemahaman warga negara, baik dari aspek agama, budaya, politik, ekonomi, kesehatan hingga teknologi.

Peran pemuda
Jika mempelajari situasi Indonesia saat ini, terma-terma peran pemuda mulai kembali didiskusikan dan dipersoalkan tanggung jawabnya. Hal ini terjadi karena polemik kenegaraan yang dialami oleh Indonesia belum menuju stabilitas yang dianggap normal dari semestinya. Maraknya pejabat publik tersandung Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK, suburnya berita hoax dan isu SARA, serta arah perjuangan wakil rakyat yang terkesan hanya mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

Fakta ini dapat dipahami melalui kasus legalitas hak angket KPK oleh DPR RI, rencana pembentukan Densus Tipikor Polri, hingga kasus peradilam “papa sakti”. Sungguh suatu hal yang rumit bagi rakyat Indonesia ketika menyikapi perilaku elite politik di negeri ini. Kesedihan dan kekecewaan rakyat patut diobati oleh pemuda Indonesia melalui berbagai gerakan-gerakannya untuk mengisi kelalaian pejabat publik dalam melayani rakyat. Pemuda Indonesia saat ini harus mampu mengulang sejarah indahnya dalam menjaga stabilitas negara melalui gerakan-gerakan yang mendukung rakyat, dan bukan berpihak kepada penguasa yang suka melukai hati rakyat.

Tanpa bermaksud pesimis, mungkin situasi kegaduhan agama dan politik-ekonomi saat ini dikarenakan pemuda lupa dengan segenap potensi yang dimilikinya, dengan tidak menyebutnya sengaja dilupa-lupakan. Jika pemuda saja tidak mau berbuat untuk mencapai tujuan negara, lantas kepada golongan mana lagi yang akan diharapkan?

Kita patut bersyukur bahwa pemuda Indonsia telah memiliki negara yang berdaulat, namun kita jarang berlajar dari kasus negara Kurdistan dan negara Catalonia yang saat ini para pemuda-pemudanya masih dalam keadaan menginginkan terbentuknya negara. Jika pemuda Indonesia belum juga sadar dengan potensi kepemudaannya, maka akan dikhawatirkan kedaulatan Indonesia hanya menjadi kenangan indah bagi generasi masa depan.

Tidak salah ketika rakyat mempertanyakan; sejauh manakah peran dan kontribusi organisasi-organisasi kepemudaan di negeri ini? Diakui atau tidak, organisasi kepemudaan yang bertebaran di berbagai provinsi belum mampu mewarnai dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan elite politik yang berada di pemerintahan pusat. Sehingga tidak berlebihan rasanya jika mengatakan bahwa gerakan generasi reformasi (lengsernya Presiden Soeharto) merupakan gerakan yang pertama dan terakhir dalam catatan peran pemuda Indonesia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved