Citizen Reporter

Tanggapnya Jepang terhadap Bencana

HIDUP di negara rawan bencana alam, menyebabkan masyarakat Jepang kerap merasakan berbagai jenis bencana

Tanggapnya Jepang terhadap Bencana
EDWAR M NUR .

OLEH EDWAR M NUR, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Syiah Kuala dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Abulyatama, melaporkan dari Osaka, Jepang

HIDUP di negara rawan bencana alam, menyebabkan masyarakat Jepang kerap merasakan berbagai jenis bencana alam yang hebat, bahkan bom atom pada Agustus 1945. Bencana gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, longsor, badai, dan tsunami silih berganti menghantam Jepang.

Tsunami besar dalam peradaban Jepang modern terjadi pada 11 Maret 2011, menelan korban 15.269 jiwa dan 8.526 orang dinyatakan hilang. Juga meluluhlantakkan wilayah Tohoku yang mencakup Prefektur Iwate dan Prefektur Miyagi. Run up (tinggi gelombang)-nya saat itu lebih dari 40 meter dengan panjang gelombang mencapai 10 km. Kondisi destruktif yang ditimbulkannya hampir mirip tsunami yang melanda Aceh dan kawasan Sumudera Hindia pada 26 Desember 2004.

Sebelumnya, tahun 1995 terjadi gempa darat di Kobe yang menghancurkan 80 persen infrastruktur dan menewaskan 5.000 jiwa lebih. Kerugian ditaksir mencapai Rp 1.300 triliun.

Dalam bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan, nami bermakna gelombang. Jadi, tsunami adalah gelombang besar di pelabuhan atau gelombang yang tingginya melampaui lantai pelabuhan.

Saking seringnya tsunami terjadi di Jepang, para ilmuwan dunia pun sepakat mengadopsi istilah itu pada tahun 1964 menjadi istilah resmi internasional untuk menamakan “fenomena massa air laut yang merangsek naik ke daratan setelah dipicu gempa”.

Meski istilah tsunami dikenal dunia dari masyarakat Jepang, tapi sebetulnya masyarakat Aceh punya sebutan lokal untuk tsunami, yakni ie beuna atau alon buluek. Sedangkan masyarakat Simeulue menyebutnya smong.

Dalam kunjungan ke Jepang kali ini saya berkesempatan melakukan studi literasi tentang knowledge disaster (pengetahuan kebencanaan) dalam kaitannya dengan sumber daya manusia yang terlibat dalam penanggulangan bencana.

Kami tiba melalui Bandara Haneda sehari sebelum badai typhoon melanda sebagian Jepang, termasuk Tokyo, sehingga banyak penerbangan dan jadwal kereta api ditunda. Bahkan rencana kami ke Gunung Fuji harus dibatalkan karena dilarang pemerintah setempat dan hanya dibolehkan di sekitar kaki gunung di dataran tinggi Kawaguchi dan sekitarnya. Saking kencangnya angin sampai-sampai saat berjalan saja kita terhuyung.

Terkait bencana gempa dan tsunami, kalau seandainya Jepang tak memberikan diseminasi dan langkah penyelamatan dari gempa dan tsunami kepada masyarakat dan tak memiliki teknologi peringatan dini bencana dan penahan gelombang tentulah korban materi dan jiwa jauh lebih besar. Sebaliknya Jepang mampu memprediksi kejadian bencana dan dapat melakukan langkah-langkah pencegahan meskipun korban tak bisa dihindari, namun dapat dikurangi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved