Breaking News:

Subhanallah! Setelah Tsunami 2004, Ditemukan Cadangan Minyak Bumi di Aceh Melebihi Arab Saudi

Apabila cadangan minyak di Aceh ini memang terbukti, maka dapat dikatakan cadangan ini yang terbesar di dunia.

SERAMBINEWS.COM/HARI TEGUH PATRIA
Seorang pengunjung mengamati nama-nama korban tsunami Aceh 26 Desember 2004 yang diabadikan di ruang "Sumur Doa" Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Sabtu (14/5/2017). 

Diincar tsunami

Indonesia dikenal sebagai daerah yang rawan gempa. Salah satu penyebabnya, Indonesia merupakan salah satu titik tempat bertemunya lempeng Eurasia, Pasifik, dan Australia. Daerah yang paling rawan dilanda gempa adalah Pulau Sumatera.

Sumatera juga dilintasi sesar Semangko yang membujur dari ujung utara Sumatera di Aceh hingga Sumatera bagian Selatan di Lampung. Kondisi tersebut mengonfirmasi seringnya gempa di wilayah Sumatera dengan kekuatan 7 SR-9 SR. Jumlah nyawa dan harta tak terhitung lagi.

Gempa berskala 9,3 SR yang menghantam Aceh, 26 Desember 2004, merupakan salah satu contoh gempa terbesar selama 48 tahun terakhir yang terjadi di Sumatera karena pertemuan lempeng tersebut.

Gempa yang disusul tsunami itu, getarannya terasa sampai Malaysia, India, Sri Lanka, Maladewa, Banglades, Thailand, dan Somalia.

PBB mencatat 186.983 orang tewas akibat gempa dan tsunami itu. Adapun Geological Survey Amerika Serikat menyatakan, korban tewas 283.100 jiwa. Korban yang berada di Indonesia, utamanya Aceh, mencapai 160.000 jiwa.

(Baca: Seniman Aceh Ini Usulkan Museum Tsunami Diubah Nama Menjadi Museum Smong)

Kerusakan parah terjadi di Banda Aceh. Khusus di Simeulue sebanyak 13.022 bangunan berupa rumah, gedung sekolah, dan rumah ibadah rusak.

Secara geografis, Pulau Simeulue merupakan pulau terdepan yang berderet dengan Nias, Mentawai, dan Pagai menghadap Samudra India. Saat tsunami menggulung, pulau-pulau inilah yang paling awal dihantam.

Saat tsunami tahun 2004, tujuh korban tewas di Simeulue. Tanpa mengecilkan arti nyawa, jumlah tujuh jiwa itu terlampau sedikit jika dibandingkan dengan ratusan ribu jiwa lainnya di daerah lain.

Mengapa jumlah korban begitu minim? Apa kunci masyarakat Simeulue untuk menghindar dari amukan tsunami?

(Baca: Hasil Penelitian Gempa Pangandaran 2006, Peneliti: Tsunami Bisa Datang tanpa Peringatan)

Tak lain adalah kearifan lokal tentang smong. Orang Simeulue menyebut ombak besar dengan kata smong. Kata ini juga merujuk pada tsunami atau gulungan ombak besar yang pernah menghancurkan desa di Simeulue pada ratusan tahun lalu.

Cerita smong diduga mulai muncul setelah tsunami besar tahun 1907 di Simeulue.

Warga Simeulue kemudian memelihara cerita tentang smong ini secara turun-temurun dan secara lisan sebagai ajaran hidup: jangan sampai sanak keluarga tewas digulung smong.

Dalam cerita itu disebutkan, ketika gempa datang, disusul air laut surut, maka warga sebaiknya segera pergi ke dataran tinggi atau perbukitan.

"Karena itu tanda smong segera datang. Gelombang besar yang akan merusak rumah dan membunuh warga," jelas Akil Rozha, warga Simeulue.

Diwariskan melalui cerita, lagu, dan belakangan masuk ke kurikulum sekolah dasar dalam bentuk muatan lokal. Selain belajar dari buku, para siswa dilibatkan dalam simulasi menghadapi gempa.

(Baca: Museum Tsunami, Destinasi ‘Wajib’ dari Aceh)

Jalur evakuasi

Cerita smong sebagai pegangan mitigasi bencana memang efektif. Namun, itu saja belum cukup untuk melindungi warga dari bencana.

Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Simeulue berencana membangun 16 selter tersebar di setiap kecamatan. Selter yang dibangun di perbukitan dengan ketinggian 30 meter sampai 50 meter dari permukaan air laut dirancang mampu menampung sampai 500 orang. Dana yang dibutuhkan mencapai Rp 37 miliar.

"Tujuannya agar warga tidak kehujanan atau kepanasan saat menyelamatkan diri," kata Jamal Abdi, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Simeulue.

Selama ini warga mengevakuasi keluarganya melalui jalur alami dan tradisional yang tidak semuanya mulus untuk dilalui. Apalagi menggunakan kendaraan bermotor yang bisa memicu kemacetan. Untuk itu, akan dibuat tanda khusus agar warga bisa memilih jalur yang layak.

"Sebenarnya mereka perlu dilatih, tetapi dananya belum cukup," ujar Abdi.(Kompas.com/Tribun Medan)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved