Soal Bendera, Al-Farlaky: Orangnya Sudah Diterima, Masa Bajunya tidak?

“Secara legal formal bendera bintang bulan sudah sah menjadi bendera Aceh dalam bingkai NKRI,”

Soal Bendera, Al-Farlaky: Orangnya Sudah Diterima, Masa Bajunya tidak?
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Ketua Fraksi Partai Aceh DPRA, Iskandar Usman Alfarlaky 

Laporan Subur Dani | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Ketua Fraksi Partai Aceh (PA) di DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky menyambut baik itikad Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo yang merencanakan pertemuan kembali membahas polemik bendera bintang bulan.

Ia berharap, pertemuan dan pembahasan itu benar-benar terwujud dan menjadi pembahasan solutif untuk mengakhiri cooling down persoalan tersebut.

Mantan aktivis mahasiswa ini mengatakan, DPRA siap untuk kembali membahas persoalan bendera, apalagi bendera Aceh seyogyanya tidak lagi menjadi masalah, karena tertuang jelas dalam Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tenang Bendera, Lambang, dan Himne Aceh.

(Baca: Bendera Aceh Kembali Dibahas)

Qanun itu lanjutnya, telah disahkan dan secara yuridis menjadi produk hukum yang sah.

“Secara legal formal bendera bintang bulan sudah sah menjadi bendera Aceh dalam bingkai NKRI,” kata Al-Farlaky.

Ia mengharapkan, pertemuan yang direncana akhir November nanti, tidak lagi membahas hal-hal lama yang telah dibahas. Artinya pembahasan tidak lagi berkutat pada kekhawatiran pemerintah pusat soal bendera itu.

“Yang dibahas nanti, bagaimana bendera ini (kapan waktu yang tepat) untuk bisa dikibarkan di seluruh Aceh sesuai dengan regulasi yang telah disahkan,” ujarnya.

Pemerintah Pusat sambungnya, agar tidak terlalu khawatir dengan hadirnya bendera bintang bulan sebagai bendera resmi Aceh.

(Baca: VIDEO: Detik-Detik Wagub Aceh Nova Iriansyah Terima Bendera Bintang Bulan, Ini Komentarnya)

Ia melogikakan, bendera bintang bulan adalah kostum atau baju para eks kombatan GAM dan masyarakat Aceh saat bergerilya dalam konflik dulu.

“Sekarang orangnya (eks kombatan) sudah diterima sebagai warga negara Indonesia, para tokoh GAM dulu juga bisa diterima menjadi perunding perdamaian, masa bajunya tidak (diterima),” pungkas Iskandar. (*)

Penulis: Subur Dani
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved