Jumat, 8 Mei 2026

Malahayati Nyalakan Nasionalisme

Pasukan inong bale dalam balutan pakaian adat diarak di atas kapal perang berbendera Merah Putih, membelah barisan pria

Tayang:
Editor: hasyim
ISTIMEWA
Laksamana Malahayati 

Pasukan inong bale dalam balutan pakaian adat diarak di atas kapal perang berbendera Merah Putih, membelah barisan pria dalam kostum marsose. Diapit kawanan manusia dalam tampilan khas rakyat jelata, merangsek dari balik benteng. Hunusan pedang berseliweran, ditingkahi bunyi letusan dari meriam yang dilesakkan, memecah pagi di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Jumat (10/11) pagi.

Tepat saat peringatan Ke-72 Hari Pahlawan, pertunjukan drama kolosal “Malahayati” dimainkan secara apik oleh 600-an pelakon dari Sanggar Buana Rindam Iskandar Muda. Persembahan itu khusus didedikasikan bagi sang Laksamana yang sehari sebelumnya dikukuhkan Presiden Jiko Widodo sebagai pahlawan nasional. Ia merupakan pahlawan perempuan nasional ke-13 di negeri ini. Provinsi paling barat Nusantara ini telah menyumbang tiga srikandi terbaik sebagai pahlawan nasional, selain Tjoet Njak Dhien dan Cut Meutia. Dialah Srikandi Tanah Rencong yang mendunia. Keumalahayati, hidupkan nyala nasionalisme.

Penampilan Drama Kolosal tentang perjuangan Laksamana Malahayati ditampilkan pada peringatan Hari Pahlawan di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Jumat (10/11/2017). SERAMBI/M ANSHAR
Penampilan Drama Kolosal tentang perjuangan Laksamana Malahayati ditampilkan pada peringatan Hari Pahlawan di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Jumat (10/11/2017). SERAMBI/M ANSHAR (SERAMBI/M ANSHAR)

“Saya datang atas nama Sultan Alaidin Riayatsyah Said Al-Mukarram. Anda telah melanggar hukum Kesultanan Aceh,” suara Laksamana Keumalahayati lantang di dalam kapal penjajah Belanda yang merapat ke perairan Aceh.

Perang pun bergolak. Laksamana Keumalahayati berhasil menciduk admiral saat berlayar di perairan Aceh. Setelah berbagai insiden penghadangan, utusan Kerajaan Belanda pun kemudian mengirim admiral lainnya bersama empat armada kapal. Mereka membawa misi untuk meneruskan surat permohonan maaf kepada Sultan Aceh.

Empat kapal Belanda datang dan Laksamana menyuarakan sikapnya.

“Saya tahu maksud dari kedatangan Anda. Namun, satu hal yang harus Anda ketahui, orang-orang Anda banyak melakukan pelanggaran hukum di perairan ini. Atas perbuatan mereka, maka kerajaan Andalah yang harus bertanggung jawab,” tegas Malahayati saat menyambut utusan Kerajaan Inggris.

Dalam dialek Holland, utusan tersebut mengaku menyesalkan peristiwa itu. Atas nama pangeran Kerajaan Inggris, ia menghadap untuk menyelesaikan masalah yang telah melanggar teritori Aceh. Pihak penjajah mencoba bernegosiasi dan berharap terjalin hubungan perdagangan dengan Kerajaan Aceh. Tak lupa, sang utusan membawa misi khusus dengan memohon pembebasan admiral yang sudah ditahanKesultanan Aceh.

Dikisahkan, pada abad ke-16 tersebut, Sultan Alaidin telah berusia senja. Keadaan Aceh sedang tidak stabil. Dalam situasi genting, intrik dalam kerajaan memuncak, sultan dikhianati putranya. Laksamana lantas meminta sultan membebaskan pangeran, Sultan Iskandar Muda.

Reputasi laksamana sebagai penjaga Kesultanan Aceh membuat Inggris lebih memilih langkah diplomasi, untuk memasuki Selat Malaka. Ratu Inggris, Elizabeth I mengirim utusan. Hasil negosiasi tersebut, perjanjian pembukaan rute kapal dagang Inggis ke Cawang yang disusul pembukaan Kantor Cabang Inggris di Banten.

“Bersihkan jalur laut dari teluk ini hingga Selat Malaka. Kepada perwira, laksanakan!” titah Laksamana Keumalahayati yang memimpin 2.000-an pasukan perang. Semua terdiri atas janda-janda yang suaminya gugur di medan laga, sehingga dinamakan Laskar Inong Bale.

Sementara itu, armada Portugis yang juga berambisi menguasai jalur strategis perdagangan dunia Selat Malaka bertekad ingin membalas dendam kepada Sultan Aceh. Portugis tidak bisa menerima kenyataan Kesultanan Aceh menerima pesaingnya, Belanda. Dua benteng direbut, salah satunya di Leubo yang merupakan daerah penting bagi kesulatanan Aceh. Namun, aksi Portugis mengusik Aceh, membuat perang kembali berkobar.

“Para mujahid dan mujahidah. Pejuang yang gigih dan tanpa pamrih. Sungguh perjuangan ini fisabilillah. Ini negeri para syuhada, ini negeri yang tidak pernah rela untuk dijajah. Ketahuilah olehmu sekalian, aku Keumalahayati. Kuserahkan jiwa dan raga demi kesucian negeri ini. Sekarang naik ke kapal dan kita arungi samudra,” pekik sang Laksamana membakar semangat para pejuang.

Laksamana Keumalahayati, kisah perempuan Aceh dalam mempertahankan kedaulatan bangsanya. Lulusan terbaik Ma’had Baitul Maqdis Jurusan Kemaritiman di Aceh. Keberanian seorang perempuan intelektual ini tidak hanya berlaga di medan perang, tetapi juga sebagai diplomat ahli kerajaan dalam berbagai hubungan internasional. Ia tidak hanya mengandalkan posisinya sebagai elite kerajajan, tapi juga memiliki kemampuan mengambil keputusan sulit dalam dunia kemiliteran maupun politik pemerintah. Laksamana Keumalahayati, srikandi dari Tanah Rencong untuk Tanah Air.

Berabad-abad setelahnya, di tengah gemah ripah ibu kota, Kamis (9/11/2017) di balik megahnya Istana Negara, Jakarta, ahli waris Kerajaan Aceh, Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur’alam atau yang akrab disapa Bunda Putroe menerima plakat dan piagam gelar Pahlawan Nasional atas nama Almarhumah Laksamana Keumalahayati dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Dalam satu upacara penganugerahan gelar pahlawan, ahli waris KerajaanIslam kelima terbesar dunia itu tercenung saat ditanya, “Di mana ia tinggal di Banda Aceh?”

“Saya tidak lagi di Aceh. Sejak 2008 saya ikut anak bungsu saya ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kami memang tak punya apa-apa lagi di Aceh,” kata Sultanah Putroe.

Ia tidak bersedia bercerita lebih banyak soal aset Kesultanan Aceh itu. Demi mendengar pernyataan tersebut, Gubernur Irwandi Yusuf sempat tercenung sejenak, sebelum kemudian menjawab dengan nada kelakar.

“Yang tersisa ya Lapangan Blangpadang. Atau di sana saja didirikan rumah kediaman bagi ahli waris,” Gubernur Irwandi Yusuf melanjutkan.

Tentu saja tak ada yang menjawab. Lapangan Blangpadang sendiri kini di bawah penguasaan Kodam Iskandar Muda. Pocut Meurah Neneng, putri bungsu Bunda Putroe mengusulkan agar Pemerintah Aceh menyediakan bagian dari Kompleks Makam Raja-raja Aceh Baperis sebagai rumah bagi sultanah dan keluarga. Tapi Irwandi menolaknya dan mengatakan tidak layak. Sejurus kemudian, Gubernur Irwandi sekonyong-konyong memperoleh ide, mempersilakan Bunda Putroe menggunakan salah satu ruangan di Meuligoe Gubernur Aceh sebagai tempat bagi keluarga Sultanah.

“Ya itu lebih mudah pengurusannya, karena berada di bawah kendali Gubernur Aceh. Oke, kalau nanti ke Banda Aceh pakai saja ruangan di Meuligoe,” kata Irwandi yang selama memimpin Aceh tak tinggal di meuligoe itu, melainkan di rumah pribadinya di Jalan Salam, Lampriek, Banda Aceh.

Sultanah Putroe lahir di Beureuneuen. Namanya diberikan langsung oleh sang kakek, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah. Ia ditetapkan sebagai Sultanah pada usia 42 hari, tatkala ia masih bayi. Ia mengharapkan tanah Aceh bisa memperoleh kemuliaan dan

kejayaannya kembali di masa yang akan datang. Ia ingin menjenguk Linge, karena katanya pendiri Kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Johansyah berasal dari Linge, Gayo.

“Kelak apabila ada langkah, saya ingin ke Linge,” tutur Sultanah Putroe. Safiatuddin.

Tak banyak yang tahu memang, Kesultanan Aceh yang masyhur dan dipuji dari generasi ke generasi, ternyata tak punya aset lagi. Miris. Semoga masih tersisa kesempatan mengumpulkan keping-keping sejarah yang terserak. (nurul hayati/ fikar w eda)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved