Gas Elpiji Melon Langka

Kelangkaan gas elpiji 3 kg atau biasa disebut elpiji melon kembali terjadi di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe

Gas Elpiji Melon Langka

* Di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe

BANDA ACEH - Kelangkaan gas elpiji 3 kg atau biasa disebut elpiji melon kembali terjadi di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe. Bahkan, di sejumlah kecamatan dalam wilayah ketiga kabupaten itu, kelangkaan elpiji bersubsidi ini sudah berlangsung lama. Jika pun ada stok, jumlahnya terbatas dan harga pertabungnya melonjak mencapai Rp 25 ribu sampai 30 ribu, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 18 ribu.

Hendra, warga Pulo Ara Kota Juang kepada Serambi, Sabtu (18/11), masyarakat di Bireuen mengeluhkan kurangnya stok gas elpiji 3 kg itu sejak Jumat (17/11) kemarin. Menurutnya, masyarakat sudah keliling mencari gas elpiji ke sejumlah pangkalan, tapi tetap tidak dapat. Dia menduga, kelangkaan ini disebabkan adanya permainan oknum tertentu yang menjual gas 3 kg itu ke pihak yang tidak berhak. “Karena itulah, kami mendesak Pemkab Bireuen untuk segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar dan pangkalan gas untuk menstabilkan harga kembali,” tandasnya.

Hal yang sama diutarakan warga Bireuen lainnya, Iskandar. Dia memaparkan, jika dilihat dari harga subsidi gas 3 kg yang cuma Rp 17.000 sampai Rp 18.000 ribu pertabung, sebenarnya itu sangat membantu masyarakat kurang mampu. Tapi, kenyataan di lapangan, elpiji melon tersebut dijual untuk masyarakat mencapai Rp 25.000-Rp 30.000 pertabung. “Akibat kelangkaan dan harga yang melonjak drastis ini, kondisi masyarakat yang sudah susah, semakin terpuruk oleh ulah mereka yang mencari keuntungan di atas penderitaan masyarakat kecil,” tukasnya.

Kelangkaan elpiji melon ini juga terjadi Aceh Utara dan Lhokseumawe. Malah, situasi itu sudah berlangsung lama. “Sudah sebulan lebih di kawasan Tanah Jambo Aye dan sekitarnya langka elpiji 3 kg. Sebagian warga di kawasan kami mencarinya sampai ke Kecamatan Lhok Nibong, Aceh Timur. Begitu juga sebaliknya, kadang warga di sana juga mencari ke kawasan kami ketika langka,” ujar warga Tanah Jambo, Aye Abdul Rafar kepada Serambi, kemarin.

Dia mensinyalir, kondisi ini karena ada permainan di tingkat pendistribusi dengan pihak pangkalan. “Sering gas elpiji masuk pada malam hari, atau ketika sedang Magrib. Lalu ketika pergi esok hari, pihak pangkalan menyebutkan tak ada lagi stoknya. Ada kemungkinan pihak pangkalan menjualnya ke pedagang pengecer sekaligus, dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET),” duga Rafar.

Halim, warga Kecamatan Samudera menyebutkan, dirinya dua hari lalu mencari gas mulai dari Kecamatan Syamtalira Aron, Samudera, Bayu, hingga ke Lhokseumawe, tapi tetap tak menemukannya. “Padahal, saya hanya butuh satu tabung saja karena ketika ibu sedang masak, gasnya habis. Namun, tidak saya temukan,” tukasnya.

Hasil penelusuran Serambi pada sejumlah warga dan penjual eceran di Lhokseumawe, gas 3 Kg sangat sulit didapatkan sekarang ini. Bila pun ada, harganya capai Rp 25 ribu pertabung, dari harga di pangkalan Rp 18 ribu. Nazir, warga Banda Sakti mengaku, kalau sekarang ini untuk mendapatkan gas 3 kg di pangkalan, harus datang pada waktu-waktu tertentu, itupun harus antri berjam-jam. “Seperti hari ini, saya harus cari di beberapa pedagang eceran, baru dapat itu pun satu tabung. Harganya pertabung mencapai Rp 25 ribu,” ujarnya.

Sementara itu, seorang pedagang eceran di Lhokseumawe yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sudah lama tidak menjual gas tabung 3 kg. Stok yang ada di toko dia hanya gas tabung 12 kg dan yang 5,5 kg. “Sekarang ini untuk kita dapatkan di pangkalan sangat susah, karena stok terbatas, tidak kayak dulu. Jadi sudah lama juga saya tidak bisa menjual gas 3 kg,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Bireuen, Darwansyah SE mengaku, pihaknya memang cukup sulit mengontrol pendristribusian gas 3 kg, konsumen sangat mudah dalam mendapatkannya. Contoh, ucap dia, bisa saja satu keluarga punya tabung 3 kg dua sampai lima buah. Padahal, seharusnya tabung itu hanya bisa diperoleh di pangkalan.

“Inilah salah satu sebab sering langkanya atau stok gas elpiji 3 kg yang sering kehabisan,” ulasnya saat dikonfirmasi Serambi terkait kelangkaam gas elpiji 3 kg, Sabtu (18/11). “Jadi bukannya kami tak mengawasi atau mengontrol pihak pangkalan, namun itu tadi mudahnya konsumen mendapatkan tabung gas membuat kita terkendala dalam melakukan pengawasan,” imbuhnya.

Darwan menyebutkan, pihak pangkalan atau pengecer gas elpiji 3 kg semestinya meminta Kartu Keluarga (KK) warga yang ingin membeli gas elpiji 3 kg tersebut. Kalau yang membelinya PNS, dia berharap, agar tidak diberikan atau dijual kepada mereka.

Terkait permintaan warga agar Pemkab Bireuen melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan, Darwan mengungkapkan, sidak tersebut memang akan dilakukan pihaknya. “Kita akan lakukan sidak ke pangkalan atau pengecer dalam waktu dekat ini. Jika memang ditemukan ada pengecer yang berbuat kecurangan, maka akan ditindak dan kita serahkan ke pihak berwenang agar diproses hukum,” tegasnya.(c38/jaf/bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved