Breaking News:

Citizen Reporter

Filipina, Neraka bagi Perokok  

JIKA Indonesia adalah surga bagi perokok, maka Filipina adalah saudara tiri dalam dunia isap-mengisap tembakau

Editor: bakri
Filipina, Neraka bagi Perokok   
AL CHAIDAR

Merokok sudah dianggap tidak beradab oleh dua pihak yang saling berseteru di Filipina: pihak Islam di selatan dan pihak Katolik di utara. Keduanya bersekongkol untuk membenci para perokok. Sudah empat hari sebungkus rokok yang berisi 16 batang kretek yang eksotis aromanya itu belum habis juga saya isap. Biasanya, kalau berada di Aceh atau tempat lainnya di Indonesia, saya bisa menghabiskan enam bungkus dalam tiga hari petualangan mencari inspirasi yang penuh kepulan aspirasi, seakan berada di surga walau tanpa dendayang.

Penghuni kota yang sangat maju ini kemungkinan adalah orang-orang yang hidup sehat tanpa merokok. Manila memang penuh macet oleh para komuter yang hiruk pikuk berjejal di dalam jeepney (angkot khas warisan kolonial Amerika).

Dulu, rokok adalah hal biasa di sini, namun seiring bertambahnya penduduk, banyak manusia di sini tak lagi bisa toleran terhadap para perokok yang asap rokoknya terbang ke sana-kemari, melintasi posisi fisiknya yang terbatas. Manila adalah kota dengan temperatur yang panas dan humiditas yang tinggi dan memang tidak nyaman bagi orang-orang jika ada yang merokok.

Manila adalah kota dengan perencanaan spasial bergaya Barat yang sangat modern, maju, dan tertata rapi. Kampus-kampusnya luas dan asri dengan pepohonan yang sangat menyejukkan hati seperti di Bukit Loyola, Kotamadya Diliman. Namun, jangan berharap kita bisa nikmati rokok di bawah pohon yang rindang dan penuh oksigen tersebut. Anda hanya mungkin merokok di balik semak yang tak terlihat oleh mata para akademisi neolib yang selalu penuh curiga terhadap perokok.

Saya menangkap kesan, para akademia di sini lebih curiga terhadap para perokok ketimbang terhadap teroris. Perokok, setidaknya dalam pandangan mereka adalah kaum perusak dividen pembangunan: mengisap kenikmatan, menyemburkan penyakit dan virus ke mana-mana, menikmati indahnya infrastruktur, dan terkadang tanpa sengaja membakar properti karena membuang puntung yang masih membara.

Manila adalah neraka bagi perokok. Sepertinya negara ini tidak berharap apa-apa dari industri dan pertanian tembakau. Lantas, tanpa rokok di bibir, dari manakah para intelektualnya mendapatkan inspirasi menulis tentang banyak hal yang sangat brilian itu?

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved