Sail Sabang 2017

Turis Islamic Cruise Jejali Pasar Atjeh

PASAR Atjeh tengah sumringah. Pasalnya, pasar tradisional yang diresmikan tahun 2013 itu, kedatangan hampir

Turis Islamic Cruise Jejali Pasar Atjeh
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI
Wisatawan dari Malaysia mengakhiri Islamic Cruise (pelayaran Islami) dengan berwisata belanja di Pasar Atjeh, Senin (27/11/2017). 

PASAR Atjeh tengah sumringah. Pasalnya, pasar tradisional yang diresmikan tahun 2013 itu, kedatangan hampir seribuan tamu wisatawan mancanegara.

Pelancong yang tergabung dalam islamic cruise (pelayaran islami) itu menutup pelesiran di Banda Aceh dengan wisata belanja. Ya, kembali dari pelesiran tanpa menenteng oleh-oleh adalah sebuah kealpaan.

“Tak tahu nak beli ape, karena macem ni di KL (Kuala Lumpur) juga ade. Liat-liat saje dulu,” aku Ruseli, wisatawan asal Kuala Lumpur, Malaysia yang datang berlibur bersama keluarganya.

Padahal ia mengaku sudah menyiapkan dana khusus untuk berburu oleh-oleh. Hal senada juga diakui oleh ibu anak yang tak mau disebutkan namanya. Menurut wisatawan yang juga berasal dari negeri jiran itu, ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka di Aceh. Sehingga mereka menyambangi Pasar Atjeh yang memang masuk dalam trip Islamic Cruise sekadar untuk ‘cuci mata’.

Para wisatawan yang berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Iran itu berpencar ke segala sudut. Perlengkapan shalat berupa mukena masih menjadi incaran pakcik makcik asal negeri jiran tersebut. Sementara yang lainnya heboh berwisata belanja bak ‘perang diskon’. Sebagiannya lagi memilih leyeh-leyeh, bersantai di area kuliner Pasar Atjeh. Kekhasan selalu berhasil mencuri perhatian.

Sejak diresmikan pada September 2013, Pasar Atjeh Baru menjelma menjadi pusat busana muslim kekinian. Bangunan tiga lantai ini terletak di sisi Jalan Diponegoro di jantung Kota Banda Aceh. Terhubung dengan ‘saudaranya’, Pasar Atjeh Lama yang tepat menempel di samping Masjid Raya Baiturrahman. Lokasi yang strategis, kenyamanan berbelanja yang ditawarkan serta terutama komoditi menempatkan Pasar Atjeh Baru sebagai `kiblat’ belanja busana muslim oleh warga lokal, pun wisatawan yang melancong.

Libur sekolah dan hari raya menjadi saat-saat pasar tradisional ini dibanjiri pembeli yang datang tumpah ruah dari berbagai pelosok daerah maupun dari mancanegara. Kota Banda Aceh yang dinobatkan sebagai ‘World Islamic Tourims’ menjadikan wisata religi sebagai destinasi wisata andalan. Kebijakan itu memburat dalam wisata belanja yang ditawarkan. Para pedagang di Pasar Aceh Baru kebanyakan memasok produk fashion muslim dari Pasar Tanah Abang, Jakarta yang dikenal sebagai pasar reseller Tanah Air. Sebagiannya lagi diimpor dari Korea dan Thailand. Mengikuti tren busana K-Pop yang sedang mewabahi dunia dan banyak diganderungi kawula muda.

“Di sini memang andalannya ya pakaian jadi. Kalau pembeli dari lokal kebanyakan belanja baju, kalau wisatawan terutama dari Malaysia mengincar mukena dan jilbab. Mereka suka karena menurut mereka bahannya lebih bagus di sini ketimbang di negaranya,” ujar Hani, salah seorang pedagang yang mangkal di lantai 2 Pasar Atjeh Baru.

Meskipun berlabel pasar tradisional, namun wajah Pasar Atjeh Baru terlihat modern dari segi fisik dan fasilitas di dalamnya. Pasar tiga lantai ini dilengkapi dengan full AC dan gerai ATM. Untuk menghubungkan ketiga lantai selain tangga, terdapat juga eskalator dan lift. Selain area parkir di luar, terdapat juga parkir di basement. Tak ketinggalan kedai makanan dan minuman, toilet, dan musala yang bersih lagi nyaman. Demi kenyamanan pengunjung, pasar yang diresmikan langsung oleh Menteri Perdagangan Indonesia kala itu, Gita Wirjawan terasa ramah gender dengan keberadaan ruang menyusui.

Harga yang dipasang pun berbanding lurus dengan kualitas produk yang ditawarkan. Sebagaimana layaknya sistem pasar tradisional yang menerapkan harga nego, untuk membawa pulang sepotong fashion item atau menentengnya sebagai oleh-oleh cukup merogoh kocek mulai Rp 10.000 hingga ratusan ribu saja. Cukup bersahabat bukan?

Geliat fashion muslim Tanah Air mewabah dan menjalar dengan cepat, tak terkecuali di Aceh. Sebagai provinsi berjuluk Serambi Mekkah, Aceh menerapkan syariat Islam yang ketat, termasuk dalam tata cara berbusana. Tak heran kalau lantas Pasar Atjeh Baru yang buka dari pukul 09.00-18.00 WIB kerap disesaki warga lokal yang mayoritas muslim. Pun kini sejak label wisata halal dunia disematkan, dengan mengusung wisata reliji sebagai program wisata unggulan, menjadikan pasar tradisional terbesar di Aceh ini sebagai destinasi wisata belanja ‘wajib’.

Aceh adalah miniatur penduduk Indonesia sebagai komunitas muslim terbesar dunia. Menengok gairah Pasar Atjeh Baru, tak berlebihan rasanya kalau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggadang-gadang Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia. (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved