‘Parenting dalam Peribahasa Aceh’

Berbagai problematika anak dan remaja terus bermunculan kepermukaan. Problematika tersebut seperti vandalisme

‘Parenting dalam Peribahasa Aceh’

Oleh: Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I , Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Berbagai problematika anak dan remaja terus bermunculan kepermukaan. Problematika tersebut seperti vandalisme, bullying, pergaulan bebas, free sex, clubbing, kriminalitas, narkoba, dan persoalan akut lainnya.

Sebab itu, diperlukan perhatian semua pihak untuk menyelesaikan berbagai problematika tersebut, agar anak dan remaja saat ini benar-benar dapat diharapkan menjadi aset bangsa dan agama di masa depan. Keluarga (orangtua) merupakan pihak pertama yang berperan untuk menjaga dan merawat aset bangsa dan agama tersebut.

Berbagai analisa pun muncul untuk mencari akar persoalan anak dan remaja saat ini. Hasil berbagai analisa menunjukkan bahwa munculnya berbagai persoalan anak dan remaja saat ini disebabkan oleh kekeliruan pola asuh keluarga. Artinya, keluarga tidak memiliki kemampuan mumpuni dalam mengasuh (parenting) anak. Akibatnya, kekeliruan pola asuh telah berdampak pada perilaku dan mental negatif anak.

Karena itu, keluarga hendaknya terus belajar tentang pola pengasuhan yang sesuai dengan psikilogis anak. Dalam khazanah kebudayaan Aceh, pola pengasuhan merupakan unsur penting yang dilakukan oleh endatu dalam mendidik keturunan mereka. Hal itu tergambar dalam sejumlah peribahasa Aceh (hadih maja). Sebab itu, pesan-pesan moral yang terkandung di dalam peribahasa Aceh hendaknya dapat diinternalisasikan dalam keluarga saat ini.

Sehingga keluarga dapat melahirkan anak-anak yang berperilaku mulia, beradab, toleran, kasih sayang, dan sopansantun. Bukan anak-anak yang terjerumus ke dalam perilaku amoral dan destruktif.

Beberapa pola asuh
Berikut beberapa pola asuh endatu yang terangkum dalam peribahasa Aceh. Pertama, keteladanan. Keteladanan merupakan unsur penting dalam pola pengasuhan endatu. Sebab itu, hal-hal yang diteladankan oleh keluarga akan menjadi referensi anak dalam berperilaku. Ketika keluarga meneladani perilaku mulia, maka anak akan berperilaku mulia.

Sebaliknya, ketika keluarga meneladani perilaku tercela, maka anak akan berperilaku tercela. Meneladani satu perilaku mulia akan lebih berdampak pada anak, daripada mengeluarkan ribuan kata-kata mulia. Hal tersebut tergambar dalam peribahasa Aceh berikut, meunyoe jeut tapeulaku boh labu jeut keu asoe kaya, tapi meunyoe han jeut tapeulaku aneuk teungku jeut keu beulaga (Jika kita pintar mengolah, maka labu bisa jadi makanan enak, tapi jika kita tidak pintar mengolah, maka anak gurupun jadi penjahat).

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengasuh penting dimiliki oleh siapa saja. Sebab, jika kita tidak memiliki kemampuan mengasuh anak, maka akan lahirlah anak-anak yang tanpa moral. Lebih lanjut peribahasa Aceh mengungkapkan, meunan ue meunan minyeuk, meunan du meunan aneuk (bagaimana kelapa begitulah minyaknya, bagaimana orangtua begitulah anaknya). Hal ini menunjukkan bahwa anak merupakan cerminan orangtua.

Bagaimana kondisi cermin begitulahbayangan yang akan dipantulkan. Jangan pernah berharap cermin akan memantulkan bayangan yang bagus, jika cermin itu kotor. Dan, jangan pernah berharap anak akan berperilaku mulia, jika keluarga selalu mempertontonkan perilaku tercela. Sebab itu, Watson, mengungkapkan bahwa, jika anak dibesarkan dengan kekerasan, anak akan temperamental. Jika anak dibesarkan dengan manja berlebihan, anak akan takut tantangan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved