Opini

Difteri Kembali Menghantui

BEBERAPA pekan terakhir, masyarakat dihebohkan kembali dengan penyakit difteri, yang di beberapa provinsi

Difteri Kembali Menghantui
DOK SERAMBINEWS.COM
Ilustrasi Difteri 

Oleh Siti Maria Ladia PS

BEBERAPA pekan terakhir, masyarakat dihebohkan kembali dengan penyakit difteri, yang di beberapa provinsi sudah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Setidaknya ada 20 provinsi yang terkena wabah difteri, termasuk Aceh. Penderita difteri di Aceh sudah mencapai 90 orang dengan jumlah meninggal sebanyak 4 orang. Dengan jumlah korban sebanyak itu, membuat Aceh menduduki peringkat ke empat se-Indonesia dalam KLB difteri (Serambi, 8/12/2017).

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, hingga November 2017 lalu, ada 95 kabupaten/kota dari 20 provinsi di Indonesia yang melaporkan 622 kasus difteri dan 32 orang di antaranya meninggal. Ini merupakan angka yang sangat fantastis untuk kasus penyakit difteri, di mana apabila telah ditemukan satu orang penderita saja, maka sudah dapat dikategorikan sebagai KLB dikarenakan rentang penyebarannya yang sangat cepat dan mematikan.

Status KLB merupakan respons darurat yang diberikan oleh pemerintah dalam mengklarifikasi dan menanggulangi wabah penyakit baik menular maupun tidak menular dalam kurun waktu tertentu.

Bukan pendatang baru
Difteri sebenarnya bukanlah jenis penyakit baru, penyakit ini sudah lama dikenal sebagai penyakit mematikan yang menyerang saluran pernafasan. Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini menghasilkan racun yang sangat berbahaya dan mematikan sel-sel tubuh.

Tanda dan gejala umum dari penyakit ini adalah nyeri tenggorokan hingga sulit menelan, demam disertai dengan batuk dan pilek, kesulitan bernafas, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, serta tanda yang paling khas untuk dilihat adalah terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan. Meskipun tanda dan gejala difteri ini umumnya terlihat dari saluran pernapasan, namun kenyataannya bakteri ini dapat menyebabkan komplikasi yang menyerang otot jantung, jaringan saraf, hingga kerusakan ginjal yang dapat berujung pada kematian.

Adapun penularan bakteri mematikan ini lewat partikel-partikel udara saat penderita batuk atau bersin, cairan ludah, barang-barang dan peralatan makan dari penderita, hingga luka borok akibat difteri pada kulit penderita. Jika dikaji lewat cara penularannya, maka penyakit ini sangat mudah terjangkit pada masyarakat yang tinggal di tempat yang padat dan kurang terjaga kebersihan lingkungannya.

Pada masyarakat dalam jumlah besar dan hidup bersama dalam waktu yang lama seperti siswa yang tinggal di asrama, mahasiswa indekos atau keluarga besar maka kemungkinan terjadi penularan lebih tinggi. Hal ini terjadi karena masa inkubasi atau rentang waktu masuknya bakteri ke tubuh hingga munculnya gejala berkisar antara 2-5 hari, dan masa penularan sejak masa inkubasi dalam 2-4 minggu.

Jika seseorang sudah mengalami tanda dan gejala yang telah disebutkan di atas, maka harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dalam penanganannya terhadap suspect difteri maka petugas medis dan tenaga kesehatan menerapkan standar operasional sesuai alur penerimaan pasien difteri. Pesien suspect difteri harus dirawat di ruang isolasi dan diberikan pengobatan intensif untuk menghindari tanda dan gejala yang lebih parah serta komplikasi ke organ tubuh lainnya.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit difteri khususnya pada kelompok beresiko tinggi. Proteksi utama adalah dengan melakukan imunisasi, ditambah lagi menjaga kebersihan lingkungan, makan makanan yang bergizi, melakukan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh, dan menghindari kontak langsung dengan penderita. Jika dikaji lebih lanjut, ada beberapa poin pencegahan yang lolos dari kasus ini, sehingga penyakit difteri yang dulu sudah menghilang dari Indonesia, kini muncul kembali dan menghantui masyarakat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved