Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Perempuan Berkarakter

JEPANG merupakan negara paling maju di negara Asia. Seiring kemajuan negara yang dikenal Matahari terbit ini

Tayang:
Editor: bakri
KETUA Tim Penggerak PKK Aceh, Darwati A Gani meninjau stand pameran saat menghadiri peringatan Hari Ibu di Ajong Mon Mata, Banda Aceh 

(Refleksi Hari Ibu 2017)

Oleh Wintah

JEPANG merupakan negara paling maju di negara Asia. Seiring kemajuan negara yang dikenal Matahari terbit ini, justru masih kuat dan kental dalam mempertahankan tradisi budayanya. Salah satunya adalah peran perempuan Jepang dalam memberikan pendampingan pendidikan kepada anak mereka. Terbukti banyak perempuan karier di Jepang yang masih muda resign dari pekerjaannya menjadi ibu rumah tangga dalam mendampingi pendidikan anak-anaknya. Bagi mereka, anak adalah investasi terbesar dalam hidup dan bagi generasi bangsanya. Keluarga merupakan segala-galanya bagi mereka.

Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember 2017 ini sebagai momentum srikandi masa depan yang dapat memberikan pengabdian terbaiknya pada bangsa dan negara. Momentum ini sekaligus untuk menilai sejauh mana pengabdian dan kinerja perempuan-perempuan hebat Indonesia dalam menjalankan tugas di dalam negara. Dari kilas balik perjalanan pengabdian kaum perempuan, dalam mengenang sejarah emansipasi wanita di Indonesia.

Tokoh Raden Ajeng Kartini, merupakan sosok yang melegenda dan menjadi simbol bagi perjuangan kaum perempuan khususnya dalam memperjuangankan persamaan hak bagi kaum perempuan dalam bidang pendidikan. Atas perjuangan dan semangat emansipasi yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan perempuan hendaknya dapat mengambil hikmah dan belajar, bahwa untuk meraih sesuatu yang diinginkan perlu adanya perjuangan dan pengorbanan dengan tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan Indonesia.

Tetapi masa kini perjuangan kartini dalam menyetarakan posisi wanita dan pria menjadi lepas kendali jika dilihat dari sisi wanita. Kartini masa kini lepas kontrol dengan mengejar pendidikan atau bidang yang lain dengan setinggi-tingginya, saat ini adalah masa modern, perempuan cenderung lebih banyak disibukkan oleh karier dan melupakan tugas utamanya sebagai seorang perempuan yang mengurus keluarga.

Banyak sekali fenomena yang kita temukan bahwa seorang suami yang kadang merasa tersaingi karena pendapatan sang istri lebih tinggi dibandingkan pendapatannya. Harapan kita adalah sosok Kartini di masa depan akan lebih menyeimbangkan apa tugas dan prestasi yang hendak ingin dicapai, lebih mengutamakan kesejahteraan keluarga sebagai tanggung jawab utamanya, mendidik anak-anak menjadi amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya.

Anak-anak adalah harapan bangsa bagaimana menjadi penerus yang akan lebih menyejahterakan bangsa. Sosok ibu yang utuh sangat penting bagi perkembangan anak khususnya ketika ia masih dalam usia emasnya. Sang ibu lebih diutamakan bersama dan memberi pelajaran pertama yang baik bagi sang anak agar di masa depannya menjadi pribadi yang lebih baik untuk memimpin bangsa. Sosok Kartini modern adalah penentu baik dan berkembangnya suatu bangsa.

Ibu dalam keluarga
Peranan ibu dalam keluarga saat ini semakin dirasakan signifikan dalam pembangunan Bangsa dan negara. Menjadi ibu dalam keluarga akan melahirkan generasi penerus terbukti memberikan kontribusi pada masa sekarang dan masa depan. Seiring dengan era globalisasi, perempuan akan dihadapkan berbagai persoalan yang terus mendera bagi perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya.

Keluarga mempunyai peranan sangat penting dalam pendidikan anak apabila ditopang oleh ibu di dalamnya. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama dimana anak mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.

Ibu dalam keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat terutama generasi penerus. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. Pada dasarnya pendidikan anak lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya khususnya peran dari sosok ibu yang berkarakter. Lingkungan yang baik akan membuat perkembangan anak itu semakin baik begitu juga lingkungan yang rusak akan membuat kepribadian anak menjadi rusak pula.

Peranan perempuan khususnya ibu dalam keluarga sering kali mengajarkan sopan-santun, saling menghargai, gotong-royong, hormat-menghormati, dan membiasakan menyambung rasa persaudaraan serta silaturahmi. Peran ibu sebagai pahlawan masa depan banyak mengajarkan pendidikan berkarakter, bagaimana sopan-santun anak terhadap orang tua, kerabat, tetangga dan kepada siapa pun.

Seiring dengan perkembangan zaman, peran perempuan sebagai pahlawan masa depan mulai terkikis. Banyak perempuan karier yang sudah melupakan kodratnya sebagai perempuan. Mereka menyerahkan urusan sumur dan dapur pada pembantu. Bahkan urusan yang terpenting terhadap pendidikan, pertumbuhan dan perkembangan anak terletak pada sosok seorang ibu. Ketika moralitas anak-anak menjadi turun, maka orang pertama kali yang bertanggung jawab adalah ibu.

Globalisasi telah banyak mengikis bahasa asli daerah menjadi luntur dengan perkembangan zaman. Anak sekarang lebih suka hidup dengan glamor dengan melupakan budaya timurnya. Bangsa Indonesia sebagai bangsa timur selalu menjunjung unggah-ungguh dan andap asor (tata krama Jawa). Dengan semakin merasuknya budaya barat, maka semakin ilang jawane (hilang tradisi jawanya/daerahnya). Globalisasi yang masuk setiap sendi-sendi kehidupan, berdampak pada anak-anak teracuni memorinya. Akibatnya krisis moralitas anak semakin tidak bisa dihindarkan lagi.

Menilik negara Matahari terbit, bahwa perempuan jepang ketika berumur di atas 30 tahunan sudah mulai meninggalkan sebagai perempuan karier. Mereka lebih bertanggung jawab untuk urusan keluarga. Mereka sudah mulai mengadorbsi budaya Islam dalam pendidikan anak. Sejarah Islam juga memberikan peran gender pada sosok perempuan. Namun, di balik peran gender itu perempuan kala itu juga ada masa-masa yang paling diprioritaskan untuk keluarga.

Perempuan dalam agama
Segala bentuk yang yang dilakukan seorang perempuan asalkan itu untuk kemaslahatan umat manusia berarti bernilai ibadah. Dalam buku Tauhid: It Implications for Though and Life, Ismail Raji Al Faruqi menulis, “Karier sebagai ibu rumah tangga menuntut pendidikan yang sama atau malah lebih dibanding karier apapun di luar rumah. Karier mulia ini berkaitan dengan tugas merawat manusia, tua dan muda. dan ini adalah pekerjaan yang paling sulit di dunia.”.

Mengasuh serta mendidik anak merupakan amanah besar sekaligus media pengabdian parempuan, para ibu, kepada Sang Khaliq. Nabi Muhammad saw manusia pertama yang telah membredel ketertindasan perempuan di kala itu. Bahkan, Nabi Muhammad saw mengajarkan kaum perempuan hadir dalam berbagai urusan kenegaraan. Ayat 195 Surah Ali Imran menjamin kesetaraan laki-laki dan perempuan. Di dalamnya ditegaskan persamaan perlakuan oleh Allah Swt.

Rasulullah saw mendudukkan perempuan ke tingkat yang mulia, sehingga diharapkan karyanya menyejahterakan bangsa dan negara: Perempuan adalah tiang negara. Apabila baik, baiklah negara, apabila buruk maka hancurlah negara. Perempuan dalam pendampingan anak, terutama pendidikan agama menjadi wajib hukumnya. Karena kaum perempuanlah sosok ibu yang paling dekat dengan anak ketika masa pertumbuhan dan perkembangannya.

Peran perempuan sebagai orang tua sangat penting dalam mewarnai karakter anak yang akan datang. Hal ini juga ditegaskan dalam surat Ali Imran ayat 110. “Sepatutnya umat Islam memperhatikan pendidikan anak dan pembinaan individu untuk mencapai predikat ‘umat terbaik’, sebagaimana dinyatakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam firman-Nya, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dariyang munkar...”

Anak adalah generasi penerus yang patut kita jaga dan kita berdayakan. Anak adalah mutiara yang akan memberikan pencerahan di masa depan. Ketika kita menengok perkembangan anak banyak hal serius yang kadangkala sering terlupakan, terutama moralitas anak. Pendidikan agama harus melekat pada anak sejak usia dini. Perempuan memiliki eksistensi sebagai pilar-pilar negara, sehingga keberadaannya penting dalam setiap segi kehidupan bangsa dan negara.

Perempuan seharusnya memprioritaskan keluarga dalam pendidikan anak, baik dalam lingkungan masyarakat yang multi kultural. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama dimana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut, apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Keluarga merupakan batu fondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan memersiapkan generasi penerus yang cerdas, amanah dan bertakwa. Selamat Hari Ibu!

* Wintah, M.Si., Dosen Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, saat ini sedang menyelesaikan pendidikan program Doktoral Ilmu Biologi, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Email: syuga_2006@yahoo.co.id

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved