Opini

Po Rumoh, Adat Meukawom dan Perlindungan Perempuan

PERINGATAN Hari Ibu merupakan satu wujud penghargaan bangsa Indonesia untuk memuliakan para bunda

Po Rumoh, Adat Meukawom dan Perlindungan Perempuan
SERAMBI/NANI HS
Wagub Aceh, Nova Iriansyah menyampaikan kata sambutan dalam peringatan Hari Ibu ke-89 di Anjong Monmata, Banda Aceh 

Oleh Dian Rubianty

“...Tapi memang faktanya hari ini kekerasan terhadap perempuan masih terjadi disana-sini. Saya sebenarnya malu pada diri. Sebab itu atas nama pemerintah dan diri saya sendiri, saya minta maaf...” (Nova Iriansyah)

PERINGATAN Hari Ibu merupakan satu wujud penghargaan bangsa Indonesia untuk memuliakan para bunda di negeri ini. Biasanya Hari Ibu dimeriahkan dengan aneka kegiatan. Ada lomba memasak yang diikuti oleh para bapak, kemudian masakan istimewanya dihidangkan untuk istri tercinta. Juga para ananda yang tak mau kalah, mereka mengadakan acara mencuci kaki bunda-bunda mereka (Serambi, 21/12/2015). Dan tentunya ada pula berbagai lomba, seperti Lomba Menulis Surat atau Puisi untuk Ibu, serta berbagai kemeriahan lainnya.

Namun semua seremoni terasa simbolis maknanya bagi kaum perempuan, bila keistimewaan ini hanya berlaku sehari saja. Selebihnya, mereka seakan kembali terbiar, bergulat dengan kerasnya hidup. Banyak, misalnya, yang berjuang sendirian membesarkan buah hatinya setelah perceraian. Padahal sudah ada putusan Mahkamah Syariah bahwa sang ayah tetap berkewajiban menafkahi anaknya. Tapi apakah kita sudah memiliki aturan pelaksanaan putusan, yang dapat “memaksa” para ayah untuk tetap melaksanakan tanggung jawabnya terhadap anak? Kemudian, memberi sanksi tegas dan hukuman bila tidak memenuhi kewajibannya? Karena kewajiban ini jelas tidak bisa diabaikan dengan jawaban, lon hana peng (saya tidak punya uang).

Mungkin bayangan buruk tak mampu memenuhi kebutuhan hidup untuk diri dan anaknya, yang kemudian membuat sebagian perempuan memilih bertahan dalam pernikahan penuh kekerasan. Mereka terpaksa menahan siksaan fisik dan psikis dalam rumah tangga, karena secara ekonomi merasa tak berdaya. Menurut data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Aceh, peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di nanggroe kita sungguh memprihatinkan.

Pada 2013, ada 230 kasus yang dilaporkan ke P2TP2A. Kemudian 2014 terjadi penambahan jumlah kasus yang cukup tinggi, naik menjadi 324 kasus, dan terus bertambah menjadi 352 kasus pada 2015. Ada peningkatan jumlah tindak kekerasan terhadap perempuan selama dua tahun terakhir, yaitu naik sebanyak 122 kasus, utamanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Jumlah KDRT yang dilaporkan meningkat dari 69 kasus di 2013 menjadi 231 kasus pada 2015. Tentu kenyataan ini perlu mendapat perhatian khusus dan langkah penyelesaian yang tak bisa lagi ditunda-tunda (P2TP2A, Mei 2017). Karena tindak kekerasan ini bisa terjadi pada ibu, saudara perempuan, anak, dan keluarga kita, di mana saja dan kapan saja. Padahal seharusnya nasib dan kehormatan mereka kita bela, karena itu termasuk marwah dan marabat bangsa kita.

Selain angka kekerasan terhadap kaum perempuan, masih ada angka kemiskinan dan tingkat kesehatan (terutama angka kematian ibu hamil) yang juga perlu mendapat perhatian serius. Dari 2.197.193 jiwa penduduk miskin di Aceh, 1.093.195 atau setengahnya adalah kaum perempuan (BDT Bappeda Aceh, 2015). Sekilas tidak terlihat ketimpangan dari fakta ini. Toh, angka ini terlihat cukup adil?

Tentu saja tidak. Karena bila kita mencermati data ini lebih lanjut, tingkat keparahan dan kedalaman kemiskinan yang dialami oleh perempuan, kondisinya tidak sesederhana angka yang kita tuliskan di atas. Di sebuah desa, bila karena konflik atau bencana alam kemudian banyak perempuan yang terpaksa menjadi kepala keluarga, bisa dipastikan angka kemiskinan di desa cukup memprihatinkan (Data Kemiskinan TNP2K, 2017).

Mengapa demikian? Jelas, bukan karena perempuan malas bekerja. Sebab dalam keseharian, kita bisa melihat bahwa kaum perempuan adalah para pekerja yang tangguh. Sampai ada anekdot yang mengatakan, Perempuan bekerja sejak sebelum matahari terbit sampai mata suami dan anak terbenam. Lantas mengapa mereka miskin? Lies Marcoes pada 2015 membuat potret kemiskinan perempuan di Nusantara, termasuk potret kemiskinan perempuan di gampong kita (Menolak Tumbang: Narasi Perempuan Melawan Kemiskinan, Lies Marcoes, 2015). Potret itu menjelaskan, bagaimana secara tidak sadar, terjadi diskriminasi yang membuat perempuan tetap miskin. Karena struktur ekonomi dan sosial memiskinkan mereka lewat keterbatasan akses terhadap faktor-faktor produksi (Mahdi, 2016).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved